Selasa, April 14, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Headline

Suster dan Aktivis Berdoa Untuk Terpidana Mati

29 Juli 2016
in Headline, Nusantara
Reading Time: 2 mins read
Suster dan Aktivis Berdoa Untuk Terpidana Mati

Sr Laurentina PI bergabung bersama para aktivis hak asasi manusia dalam acara seribu lilin untuk para terpidana mati di Jakarta pada Kamis malam, 28 Juli 2016. (Foto: Edy/Katoliknews)

Katoliknews.com – Beberapa suster dan anggota Komunitas Sant’Egidio bergabung bersama para aktivis hak asasi manusia dalam acara seribu lilin untuk para terpidana mati di Jakarta pada Kamis malam, 28 Juli 2016.

Acara itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas untuk para terpidana mati, yang sebagian sudah disekekusi pada dini hari tadi, Jumat, 29 Juli.

Suster Laurentina PI, yang hadir di antara para aktivis, mengatakan ia sangat perihatin mendengar kabar bahwa eksekusi kembali dilakukan.

Biarawati yang bergabung di Jaringan Peduli Migran Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) itu mengatakan, dengan hukuman mati, maka tidak ada lagi rasa cinta, kemurahan hati kita terhadap para terpidana.

“Setelah dieksekusi, mereka sudah kehilangan kesempatan untuk bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar,” katanya.

Baca Juga

In Memoriam Pater Nico Syukur Dister OFM

Kehilangan yang Membentuk: Refleksi tentang Teologi Pater Nico Syukur Dister OFM

Paus: Kita Memiliki Kewajiban Moral untuk Melindungi Warga Sipil dari Dampak Mengerikan Perang

Nico Syukur Dister OFM, sang Teolog Itu Berpulang

Sr Laurentina secara khusus juga mendoakan Merry Utami, seorang Katolik yang namanya sudah masuk daftar terpidana yang akan diseksekusi.

Merry masih beruntung, karena pagi tadi ia tidak jadi dieksekusi. Pada hari ini, yang dieksekusi adalah Humphrey Ejike alias Doctor (Nigeria), Seck Osmane (Senegal), Freddy Budiman (Indonesia) dan Michael Titus Igweh (Nigeria).

Merry adalah seorang buruh migran yang dijatuhi hukuman mati pada tahun 2003. Ia tertangkap membawa heroin sebanyak 1,1 kilogram oleh petugas bandara Soekarno Hatta saat baru tiba dari berlibur di Nepal bersama kekasihnya seorang warga negara Nigeria.

Suster Laurentina merasa tergerak untuk menyampaikan rasa kekecewaannya terhadap pemerintah yang tetap melaksanakan eksekusi mati terhadap Merry.

Menurut dia, seberat apa pun kesalahan yang telah diperbuat seseorang, tetap tidak layak untuk dihukum mati. Negara tidak memiliki hak untuk mencabut nyawa seseorang.

Dia pun berharap Presiden Jokowi memberikan grasi terhadap Merry dan para terpidana mati lainnya.

“Ya saya hanya bisa berharap pemerintah mau memberikan grasi kepada mereka,” kata dia.

Suster Laurentina berpendapat pemerintah seharusnya menghapus kebijakan hukuman mati.

Dia menilai bentuk hukuman tersebut tidak manusiawi. Gereja Katolik pun, kata Suster Laurentina, telah menyatakan menolak keras hukuman mati.

Sementara itu, Petrus Iron Wersun dari Komunitas Sant’Egidio mengkritik klaim pemerintah bahwa hukuman mati akan memberi efek jera dan mengurangi kejahatan.

“Klaim demikian tidak sesuai kenyataan, karena hukuman mati tidak berbanding lurus dengan kurangnya angka kejahatan, termasuk narkoba,” katanya.

“Yang perlu dibenah adalah sistem penegakan hukum, bukan jalan pintas dengan membunuh orang,” tambahnya.

Edy/Katoliknews

SendShare201Tweet11Send
Next Post
Romo Carolus OMI Dampingi Terpidana Mati

Romo Carolus OMI Dampingi Terpidana Mati

Paus Terjatuh Saat Sedang Memimpin Misa

Paus Terjatuh Saat Sedang Memimpin Misa

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net