Blogger bernama Petrus Pit Supardi itu menyebut diri sebagai alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur, Jayapura angkatan 2006.
Ia menyatakan, sejak awal penunjukkannya, Mgr Nico memang tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari umat.
“Pada awal pembacaan pengumuman sampai dengan hari-hari menjelang pentahbisannya sebagai Uskup Agung Merauke diwarnai dengan berbagai aksi protes. Bukan hanya sebagian umat Katolik yang menolaknya, ada sebagian imam yang tidak menerimanya,” tulisnya.
Pasca pentahbisan pun, menurut Petrus, berbagai kebijakannya menuai kontroversi.
“Taufan dan badai silih berganti menghantamnya tanpa henti,” demikian tulisnya.
Ia menyebut hal itu mencapai puncaknya, pada 20 Oktober 2012, ketika para imam Diosesan Keuskupan Agung Merauke mengeluarkan pernyataan sikap secara terbuka berisi 19 poin yang intinya meminta Mgr Nico mau terbuka dalam karya penggembalaan umat, termasuk pengelolaan aset serta mau menjadi gembala yang baik bagi kawanan domba dan para imamnya.
“Surat tersebut ditandatangani oleh 17 imam dari 19 imam Diosesan Keuskupan Agung Merauke yang terdaftar. Dua imam tidak tanda tangan: satu imam sakit dan satu imam lainnya memilih tidak menandatangani surat tersebut,” demikian menurut Petrus.
Di dalam surat tersebut, kata dia, dengan tinta tebal, juga ditulis permintaan agar Mgr Nico mengundurkan diri dan jika ia tidak bersedia maka para imam projo Keuskupan Agung Merauke tidak terlibat dalam semua reksa pastoral dan keluar dari Keuskupan Agung Merauke.”
Petrus menyatakan, surat terbuka para imam Diosesan itu, seyogianya menjadi rambu peringatan bagi uskup supaya lekas membenahi berbagai keluhan yang tertuang di dalam 19 poin pernyataan para imamnya.
“Sebab, ke-19 poin pernyataan itu, lahir dari refleksi atas berbagai catatan pengalaman selama Mgr Nico menggembalakan kawanan domba di Keuskupan Agung Merauke. Para imam, sebagai pembantunya menghendaki agar ia melakukan perbaikan tata kelola penggembalaan umat Keuskupan Agung Merauke. Tetapi, rupanya surat terbuka itu tidak mampu menggugah hati Mgr. Nico,” demikian Petrus.
Sejak surat tersebut beredar luas di kalangan umat Katolik, suasana kehidupan menggereja disebut terasa berbeda.
Berbagai pertanyaan terlontar di kalangan umat awam; Apa yang akan terjadi pada Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke ke depan? Bagaimana mungkin seorang Uskup bisa tidak dipercayai dan diprotes oleh para imamnya dengan surat terbuka? Apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan model kepemimpinan Mgr Nico di Keuskupan Agung Merauke?
Ia menyebut, peristiwa krusial terjadi pada tahun 2018 ketika 11 Juni 2018 Mgr Nico memecat dua orang imamnya, di mana salah satu di antaranya menulis surat 15 halaman berisi penjelasan detail terhadap sikap Mgr Nico sekaligus tanggapan atas pemecatannya.
“Surat tersebut beredar luas di kalangan umat Katolik,” kata Petrus.
Hal itu, jelasnya, membuat tokoh awam Katolik Papua Selatan, yang juga mantan Bupati Merauke, John Gluba Gebze mengundang umat Katolik menggelar Misa dan dukungan moril bagi kedua imam tersebut.
“Misa dilaksanakan di taman ziarah Hati Kudus Yesus, pada 5 Juli 2018. Pada kesempatan tersebut dilaksanakan juga penandatanganan surat pernyataan sikap terkait pemecatan imam oleh Mgr. Nico.”
Tidak lama setelah Misa di taman ziarah Hati Kudus Yesus itu, jela dia, beredar luas di media sosial, YouTube, video pendek yang mengisahkan dua pastor itu diusir dari Wisma Projo Keuskupan Agung Merauke.
“Video tersebut viral dan menjadi bahan diskusi hangat di kalangan umat dan aktivis Gereja Katolik,” jelasnya.
Minimnya Spirit Mengampuni
Petrus menyatakan, “perahu Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke yang dinakhodai Mgr Nico terombang ambing oleh taufan dan badai yang tercipta lantaran minim saling mengampuni dan saling menerima sebagai saudara dalam kasih Tuhan.”
“Ruang-ruang pribadi dan sakral sekejap menjadi konsumsi publik melalui media sosial yang sedang berkembang pesat. Dosa dan kerapuhan yang harusnya terbuka di kamar pengakuan justru meluber di media sosial melalui surat demi surat yang saling berbalasan. Perahu Keuskupan Agung Merauke hampir terempas ke dasar laut,” demikian penjelasannya dalam nada reflleksi.
Ia menyatakan, mengingat adanya penolakan sejak awal, sebagai gembala utama di Keuskupan Agung Merauke, selayaknya Mgr Nico membuka diri terhadap berbagai keluhan, masukan, kritikan dan saran.
“Tetapi, kenyataan berbicara lain. Mgr Nico tampaknya resisten terhadap kritik. Berbagai kebijakan yang dikeluarkannya tanpa mempertimbangkan dampak sosial kehidupan menggereja Keuskupan Agung Merauke,” katanya.
Ia menyatakan, seorang Uskup, pada dirinya mengemban kepenuhan imamat Kristus. Ia mewakili Kristus di dunia ini. Seluruh hidup dan karya uskup menghadirkan kembali Kristus yang lahir di Betlehem (simbol perendahan diri Allah), Kristus yang merayakan perjamuan terakhir bersama para Rasul (simbol penyerahan diri kepada Allah dan sesama) dan Kristus yang tersalib (simbol pengorbanan).
“Ketiga peristiwa besar dalam hidup Yesus itu merupakan amanat yang diemban langsung oleh seorang Uskup tanpa syarat apa pun,” katanya.
Ia menyimpulkan, “tampak bahwa Mgr Nico tidak menjawab kerinduan umat Allah Keuskupan Agung Merauke.”
“Ia tidak menjadi bagian penuh dalam kehidupan umat Allah di Merauke. Bahkan para imamnya sendiri tidak merasakan keintiman dengannya seperti seorang Bapa dengan anak-anaknya sehingga mereka berani mengeluarkan surat pernyataan tersebut,” tulis Petrus.
Refleksi Bersama
Petrus dalam bagian akhir tulisannya berusaha merefleksikan peristiwa pembebasan tugas ini.
Ia menyebut ini “menjadi momentum refleksi bersama, bukan saja bagi Mgr Nico tetapi juga segenap pelayan Allah, para Uskup dan para imam dimana saja mereka berkarya.”
Ia menyatakan, “jabatan imamat, uskup dan pastor merupakan panggilan istimewa untuk melayani dengan rendah hati, yang berkiblat pada Yesus Kristus, bukan pada ego diri sendiri.”



Discussion about this post