“Karena itu, setiap Uskup dan imam perlu dengan rendah hati membuka diri terhadap setiap karya Roh Kudus yang hadir dalam diri sesamanya dan alam semesta, yang membisikkan hal-hal baik untuk kebaikan bersama,” demikian menurut Petrus.
Mengutip kata-kata Santo Fransiskus Assisi, yang dalam berbagai nasihatnya mengatakan bahwa hendaklah manusia tidak menyombongkan diri sebab manusia merupakan makhluk tercipta, memiliki dosa dan mendapatkan penebusan Tuhan, maka setiap pribadi manusia, tidak punya cukup alasan untuk menjadi sombong dan angkuh hanya karena memiliki status sosial istimewa.
“Ia juga mengajak para saudaranya untuk senantiasa bertobat dan memperbarui diri setiap hari; Mari kita mulai lagi, sebab sampai saat ini, kita belum berbuat apa-apa.’ Begitulah, hidup manusia, ia harus selalu rendah hati di hadapan Allah dan manusia untuk selalu memperbarui dirinya yang rapuh dan berdosa,” tulisnya.
Ia pun menyarakan, ini juga saatnya setiap pribadi, umat Allah Keuskupan Agung Merauke perlu bertekun di dalam doa memohon terang Roh Kudus agar Allah membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik.
“Bersatu dan bertekun di dalam doa merupakan kunci untuk merajut kembali keterpecahan yang selama ini terjadi,” tulisnya.
Ia menyatakan, secara khusus, para imam dan biarawan-biarawati yang berkarya di Keuskupan Agung Merauke harus berani meninggalkan egonya, duduk bersama, berbicara dan memulai rekonsiliasi dengan diri sendiri, dengan sesama, alam semesta dan leluhur yang selama ini terluka karena adanya keterpecahan yang terjadi karena perbedaan paham dan pendapat dengan Mgr Nico.
“Sebab, hanya melalui sikap terbuka, saling mengakui kerapuhan dan dalam kerendahan hati yang mendalam saling merangkul dan berjalan bersama ke depan sajalah yang dapat menyelamatkan Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke,” tulisnya.
Ia pun menyatakan, narasi-narasi masa lalu, yang tidak mengandung energi positif dan membangun iman perlu ditinggalkan.
“Setiap pribadi perlu menyadari dirinya sendiri sebagai hamba hina, orang berdosa yang mendapat belas kasih Allah sehingga tidak layak menjadi hakim bagi orang lain. Hendaklah umat Allah, dalam keheningan, mengambil waktu untuk berdoa dan memohon kemurahan dan belas kasih Allah bagi masa depan segenap umat Allah Keuskupan Agung Merauke.”
Petrus tak lupa meminta para imam, biarawan-biarawati dan segenap umat e turut mendoakan Mgr Nico agar dalam masa permenungannya, ia memperoleh rahmat dan belas kasih Allah supaya di masa depan ia sungguh-sungguh menjadi gembala yang baik bagi kawanan dombanya.
“Kita semua, tanpa terkecuali, yang selama ini, baik secara langsung maupun tidak langsung merasa terluka atas kepemimpinan Mgr Nico hendaklah saling mengampuni dan saling menerima kembali sebagai saudara di dalam Tuhan. Kita harus berani saling mengampuni satu sama lain. Sebab, Tuhan Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita,” tulisnya.
Pengampunan, katanya, adalah jalan menuju pembebasan diri dari sikap egois dan mau menang sendiri, sekaligus cara terbaik untuk membangun kembali relasi yang telah hancur oleh dosa dan kesombongan diri.
“Demikian halnya orang-orang dekat Mgr Nico agar tidak perlu lagi merasa terluka terhadap keputusan Paus Fransiskus yang membebastugaskan Mgr Nico untuk jangka waktu yang tidak ditentukan,” tulis Petrus.
“Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Kita semua, para imam, biarawan-biarawati dan segenap umat Katolik Keuskupan Agung Merauke adalah saudara di dalam Tuhan. Karena itu, setiap pribadi perlu menerima keputusan Paus Fransiskus sebagai karya Roh Kudus demi perbaikan kehidupan menggereja Keuskupan Agung Merauke di masa depan,” lanjut Petrus.
Sembari mengajak umat Keuskupan Agung Merauke mendoakan agar Roh Kudus membimbing Mgr Nico, ia juga mengajak untuk mendoakan Mgr Antonius dan Mgr John “agar keduanya dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang melilit Keuskupan Agung Merauke.”



Discussion about this post