Jumat, April 17, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Headline

Mengapa Maria Disebut Bunda Allah?

6 Mei 2020
in Headline, Katekese, Pilihan Editor
Reading Time: 2 mins read
Mengapa Maria Disebut Bunda Allah?

Ilustrasi (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Bunda Allah, demikian gelar yang diberikan kepada Bunda Maria, ibu Yesus.

Gelar ini merupakan sebuah dogma dalam Gereja Katolik. Dogma diartikan sebagai sebuah kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan, yang dinyatakan oleh Magisterium Gereja sebagai sesuatu yang mengikat secara iman.

Gelar Bunda Allah bagi Maria ditetapkan Gereja Katolik dalam Konsili Efesus tahun 431.

Apa pendasaran bagi gelar itu?

Menurut Pastor Andre Atawolo, dosen teologi dogmatik di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, gelar itu, yang dalam istilah Bahasa Yunani disebut Theotokos ditetapkan dalam konteks sikap Gereja melawan ajaran sesat yang disebut Nestorian.

Baca Juga

Sunyi, Tanya, Tuhan

Biarawati-Dokter Pemenang Penghargaan Magsaysay Tutup Usia

Trump Menolak Berdamai dengan Paus Leo XIV: Gedung Putih dan Vatikan Memanas

In Memoriam Pater Nico Syukur Dister OFM

Istilah Nestorian diadaptasi dari nama pemimpin aliran ini, yakni seorang uskup bernama Nestoris.

Kaum Nestorian, menurut Pastor Andre dalam uraian di blognya, menolak gelar “Bunda Allah.”

“Karena bagi mereka, gelar itu tidak memiliki pendasaran dalam Kitab Suci. Bagi mereka, Injil hanya mengatakan bahwa Maria adalah Bunda Yesus, bukan Bunda Allah,” demikian menurut Pastor Andre.

“Oleh karena itu, kaum Nestorian hanya mau menerima gelar Christotokos, yang berarti Bunda Kristus, tetapi dengan tekanan bahwa Maria hanya melahirkan manusia Yesus,” tulisnya.

Dalam Konsili Efesus itu, jelasnya, ajaran Nestorius ditolak, sebaliknya diterima ajaran uskup Cyrillus dari Yerusalem.

Ia menyatakan, Gereja menjadikan teks dalam Perjanjian Baru, Luk 1: 43 sebagai dasarnya. Teks itu berisi kata-kata Elisabet ketika menyambut kunjungan saudarinya, Maria: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”? (Luk 1: 43).

Kata ‘Tuhan’ dalam teks ini, kata Pastor Andre, dikaitkan dengan nama Yahwe, gelar untuk Allah yang biasa digunakan orang Israel dalam Perjanjian Lama (Gagliardi 2017, 466).

“Seruan Elisabet itu menegaskan kata-kata Malaikat Gabriel kepada Maria: “Sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1: 35),” tulisnya.

Ia menjelaskan, yang dilahirkan Maria tentu saja manusia bernama Yesus.

“Namun manusia Yesus ini juga memiliki kodrat ilahi, karena kodrat ilahi yang mengalir dari Allah Bapa. Yesus adalah ‘Anak Allah’. Oleh sebab itu, Maria bukan hanya Bunda Kristus, melainkan juga, dan pertama-tama adalah Bunda Allah (Theotokos),” katanya.

Gelar Maria sebagai Bunda Allah, jelasnya, mengungkapkan kodrat Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan dalam dogma Kristologi, yaitu bahwa Yesus itu satu pribadi, namun memiliki dua kodrat, yaitu insani dan ilahi.

Dogma Kristologi diajarkan Gereja dalam Konsili Nikea I (325) dan ditegaskan dalam Konsili Kalsedon (451).

Tags: Bunda MariaMaria Bunda Allah
SendShare1715Tweet1030Send
Next Post
Gereja Katolik di Kepulauan Aru Sumbang APD untuk Puskesmas Setempat

Gereja Katolik di Kepulauan Aru Sumbang APD untuk Puskesmas Setempat

Pasca Diculik Tiga Pekan, Frater di Nigeria Ditemukan Tewas

Frater di Nigeria Dibunuh Karena “Tanpa Henti Memberitakan Injil"

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net