Katoliknews.com – Bersama dengan para imam dan sejumlah awam, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat mengunjungi umatnya di dua kampung di dekat pesisir utara Pulau Flores pada Kamis, 11 Juni 2020.
Dua kampung itu adalah Luwuk dan Lengko Lolok yang secara administatif pemerintahan masuk Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur.
Dalam kunjungannya, Uskup Sipri membawa bantuan sembako, bagian dari upaya karitatif di tengah pandemi COVID-19, untuk umat yang membutuhkan.
Acara itu dikoordinasi oleh Posko “Omnia in Caritate” – yang dibentuk Maret lalu untuk mengurus berbagai hal terkait kegiatan keuskupan dalam merespon pandemi.
Mantovanny Tapung dari bagian publikasi posko itu mengatakan, dalam kunjungan itu uskup memberi bantuan berupa beras, gula, minyak goreng, sabun mandi, kacang ijo, susu, vitamin dan masker.
“Pemberian bantuan kepada umat pesisir wilayah utara ini dirangkaikan dengan ibadat sabda yang dipimpin oleh uskup di Kapel Luwuk dan Lengko Lolok,” kata Mantovanny dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan, kehadiran uskup dan rombongan mendapat perhatian dari umat.
“Cukup banyak umat yang ikut dalam ibadat sabda, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti jaga jarak dan tetap mengenakan masker,” jelasnya.
Setelah ibadat sabda di wilayah yang masuk Paroki St. Maria Ratu Rosario Tersuci Reo itu, bantuan kemudian didistribusi, di mana secara simbolis diberikan ke beberapa umat di dalam kapel dan yang lainnya diatur sendiri oleh ketua stasi.
BACA JUGA: Uskup Ruteng Sumbang Sembako untuk Kaum Disabilitas
“Prioritas pemberian bantuan lebih kepada para janda dan duda tua, orang cacat, orang dalam gangguan jiwa, yang berkekurangan, dan yang kehilangan lapangan pekerjaan,” jelas Mantovanny.
Selain Uskup Sipri, dalam kegiatan itu hadir petinggi Keuskupan Ruteng, termasuk juga para pastor paroki, perwakilan dari beberapa biara dan para kader awam.
“Keterlibatan para pihak ini menandakan kuatnya semangat pastoral yang solid dan solider dalam tubuh Gereja Keuskupan Ruteng saat ini dan akan datang,” kata Mantovanny.
Jaga Lingkungan
Selain memberi bantuan sembako, dalam kunjungan itu, Uskup Sipri menitikberatkan pesannya kepada umat untuk menjaga dengan baik alam lingkungan mereka.
Dalam khotbahnya saat ibadat, ia menekankan bahwa “apa yang sudah diwariskan nenek moyang kepada kita adalah untuk dijaga, supaya kehidupan kita lestari sampai selamanya.”
“Kita bertumbuh ketika kita merawat semua ciptaan yang Tuhan berikan kepada kita,” jelasnya.
Ia juga mengajak umatnya agar waspada terhadap “setan” yang menawarkan janji-janji manis, padahal sejatinya yang terjadi adalah kehancuran.
Di dua kampung itu sedang hangat polemik kehadiran dua perusahaan, PT Istindo Mitra Manggarai (PT IMM) dan PT Semen Singa Merah NTT (PT SSM), yang masing-masing akan menambang batu gamping dan mendirikan pabrik semen.
Uskup tidak secara eksplisit mengaitkan pesannya dengan kehadiran tambang dan pabrik semen itu. Namun, kata-katanya senada dengan suara penolakan yang sudah digaungkan oleh beberapa lembaga gereja, seperti JPIC Keuskupan Ruteng, JPIC OFM dan JPIC SVD serta paroki-paroki yang berada di dekat dua kampung itu yang sudah mempublikasi pernyataan resmi.
Dalam pernyataan dari Paroki St. Petrus Paulus Dampek misalnya, mereka menyebutkan jaminan yang diberikan oleh lahan-lahan produktif warga saat ini “melampaui jaminan yang dapat diberikan tambang dan pabrik semen.”
Dalam kunjungan itu, Uskup Sipri juga menanam pohon di depan kapel.
Dalam doanya, ia kembali menekankan bahwa “manusia harus menjaga tanah yang diberikan Tuhan Sang Pencipta.”
Tanah, kata dia, menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
Polemik Tambang dan Pabrik Semen
Sejauh ini, izin tambang dan pabrik itu masih terus menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, di mana mayoritas menerima dan sudah dua kali mendapat uang dari pihak perusahan, dengan total 20 juta rupiah untuk masing-masing.
PT IMM sudah mengantongi izin ekplorasi dan kini berjuang mendapat izin ekpoloitasi, sementara PT SSM dikabarkan sudah mendapat izin lokasi.
Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat telah menyatakan pada 9 Juni bahwa ia belum melanjutkan lagi proses izin dua perusahaan itu, di mana ia mengaku mempertimbangkan suara penolakan berbagai elemen, termasuk tokoh agama.
Namun, para aktivis yang menolak tambang dan pabrik semen ini menilai, pernyataan gubernur belum bisa dianggap sebagai kabar baik.
Melky Nahar dari Jaringan Advokasi Tambang mengatakan, pernyataan gubernur mesti sampai pada penghentian proses izin.
“Ia harus konsisten dengan sikapnya untuk tidak mengandalkan tambang dalam pembangunan di NTT,” katanya.
Sementara itu, Lasarus Jehamat, dosen di Universita Nusa Cendana Kupang mengatakan, langkah gubernur juga harus diikuti oleh para pemimpin di bawahnya, termasuk Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas agar menghentikan propaganda mendukung industri ekstraktif itu.
Rikardus Rahmat, salah satu anggota Kelompok Diasporan Manggarai Peduli – yang getol melawan tambang dan pabrik ini – mengatakan, kunjungan uskup ke dua kampung itu semoga bisa memberi masyarakat kesadaran agar mau memikirkan kembali berbagai langkah mereka.
“Meski uskup tidak menyebut eksplisit tentang tambang dan pabrik itu, tapi kiranya pesannya jelas: kalau mereka menjual tanah maka kehidupan mereka akan hancur,” katanya.
“Karena itu, warga dan siapapun yang mendukung investasi ini mesti berpikir kembali dan Gereja juga mesti terus menyuarakan suara profetisnya demi menyelamatkan lingkungan dan masa depan kehidupan umat,” tambah Rikard.
Anand Putra



Discussion about this post