Oleh: RP DESIDERAMUS ANSBI BAUM, OFM
Politik adalah kebijaksanaan yang diwujudkan dalam aneka kebijakan. Tetapi ada masalah: bagaimana mungkin kebijakan itu tetap memelihara kearifan persis ketika bersentuhan dengan diri pribadi manusia berikut dengan masyarakatnya yang selalu problematis dan paradoks?
Di antaa tokoh-tokoh politik terkemuka Israel, Salomo menjadi satu-satunya orang yang diceritakan terus-menerus sebagai raja paling bijaksana: “Sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau tak akan bangkit seorang pun seperti engkau” (1Raj. 3:12). Ia menjadi orang yang terpuji karena menginginkan dan menghasrati hati yang paham menimbang perkara. Ia mendoakan hati yang penuh hikmat dan penuh pengertian memutuskan hukum.
Rupanya karena ia tahu diri: masih muda dan belum berpengalaman. Apalagi, ia memimpin bangsa pilihan Allah. Suatu bangsa yang besar dengan jumlah populasi yang tidak terhitung dan tak terkira banyaknya. Di hadapan kenyataan demikian itu, yang penting dilakukan adalah membiarkan diri didiami oleh Allah sendiri. Sehingga dalam laku keputusan, Salomo bertindak bijaksana: memutuskan perkara pelik dari dua perempuan sundal yang memperebutkan seorang anak (1Raj. 3:16-28).
Salah satu alasan kenapa politik kita banyak diisi oleh aneka ‘tipu-tipu’ dan ‘pura-pura baik’, oleh usaha mencari kesejahteraan pribadi daripada kebaikan umum adalah karena banyak di antara para politisi dan masyarakat tidak lagi merasa bahwa mereka dikelilingi oleh Yang Ilahi. Tradisi modern telah mendidik kita untuk memisahkan negara dari agama. Hal itu memang telah membawa banyak manfaat-hasil mengagumkan dan berguna.
Akan tetapi, salah satu akibatnya adalah kita kehilangan kepekaan tentang ‘yang spiritual’ atau ‘yang suci’, kendati sering kali kita mengaku beragama atau dengan senang hati menghadiri upacara dan mendengar ceramah keagamaan. Yang Ilahi: ‘Roh Kebijaksanaan’ telah merosot jauh dari cara kita bernegara dan bermasyarakat. Kita kehilangan Roh Kearifan dari cara kita berpolitik seperti yang melingkupi kehidupan Raja Salomo.
Injil hari ini (Mat. 13:44-52), alih-alih membentangkan kekuatan dan daya pengaruh Kerajaan Surga, justru mengajak kita mengalihkan perhatian pada usaha mencari kehadiran ilahi. Baik seorang saudagar mapun seorang yang barangkali buruh tani begitu bersukacita dan berusaha memiliki mutiara yang indah pun harta terpendam. Harta itu patut dicita-citakan oleh semua orang, entah dia masyarakat biasa atau yang serba berkecukupan, entah dia rakyat atau para penguasa. Dan bagi kita orang beriman, harta itu adalah Kerajaan Surga, suatu kerajaan di mana Allah sendiri yang meraja dan menguasai semua dan segala. Akan tetapi, kerajaan itu janganlah dibayangkan sebagai yang melulu di nun: ada ‘di sana’, jauh dari dunia ini.
Kerajaan itu justru dapat hadir dan seharusnya hadir di sini, dalam diri orang-orang yang berusaha mencarinya dengan sungguh-sungguh. Terutama dalam kesadaran bahwa dalam segala hal yang kita buat, dalam macam-macam hal yang kita jumpai, dalam kebijakan yang kita praktikkan, dalam laku yang kita hidupi, Yang Ilahi berdiam dan juga terlibat-berkarya. Bahwasanya Allah bekerja dan hadir dalam politik justru karena politik berusaha membangun dan menghadirkan Kerajaan-Negara Surga di bumi ini. Pendek kata: politik itu suci karena ia berisi niat untuk menghadirkan kebijaksanaan melalui aneka kebijakan agar masyarakat dapat mengalami Negara Allah di bumi seperti di surga.
Hanya, Yang Ilahi itu barangkali harus melampui agama-agama. Dan bangsa kita perlu bersyukur untuk ini: kita merumuskan sila pertama Pancasila sebagai Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita bersyukur bahwa tidak hanya Yang Ilahi itu harus masuk dalam usaha bernegara, tetapi juga bersyukur karena diingatkan bahwa melalui keterlibatan dalam kehidupan yang suci, dengan kehidupan yang ilahi, kita bisa menjadi manusia yang sesungguhnya, menjadi warga negara yang bermartabat.
Sampai di sini, kita mesti awas bahwa kehidupan politik duniawi amat rentan dihantui bayang-bayang kejahatan dan keburukan justru oleh orang-orang yang mengaku diri beragama. Namun, kita tahu bahwa ikan yang busuk akan dibuang, ikan yang baik akan dikumpulkan ke dalam pasu (Mat. 13:48). Dan agar kita mampu menjadi umpamanya seperti ikan yang baik dan karena itu menjadi anak-anak kerajaan, kita perlu mendengarkan suara Ilahi dan Roh Kebijaksanaan-Nya yang masih tetap berbicara meski lirih di tengah bisingnya modernitas.
Penulis adalah imam Fransiskan, melayani umat di Meratus, Kalimantan Selatan



Discussion about this post