Minggu, April 19, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Headline

Mengapa ‘Kemuliaan’ dan ‘Haleluya’ Ditiadakan selama Prapaskah?

10 Maret 2023
in Headline, Katekese
Reading Time: 1 min read
Mengapa ‘Kemuliaan’ dan ‘Haleluya’ Ditiadakan selama Prapaskah?

Ilustrasi

Katoliknews.com – Madah ‘Kemualiaan’ (Gloria) dan Haleluya yang dinyanyikan sebelum Injil tidak ditiadakan selama 40 hari Prapaskah, dengan beberapa pengecualian kecil.

Mengapa demikian? Berikut alasannya.

Pertama, Gloria/Kemuliaan adalah himne atau madah yang merayakan kedatangan Tuhan dengan menggunakan kata-kata dari para malaikat pada saat kelahiran Kristus.

Nah, Gereja selama Prapaskah kembali dalam semangat ke masa ketika umat Allah berada di pembuangan, menunggu Mesias datang dan menyelamatkan mereka.

Ini adalah musim pengharapan yang sama seperti Adven, tetapi bukannya menunggu kelahiran Kristus dari rahim Maria, melainkan orang-orang Kristen menunggu “kelahiran” kedua Kristus dari rahim kubur.

Baca Juga

Pastor Marsel Agot SVD, Penerima Penghargaan Lingkungan dan Maarif Award Meninggal Dunia

Sunyi, Tanya, Tuhan

Biarawati-Dokter Pemenang Penghargaan Magsaysay Tutup Usia

Trump Menolak Berdamai dengan Paus Leo XIV: Gedung Putih dan Vatikan Memanas

Kedua, mengikuti semangat pembuangan yang sama, Gereja bergabung dengan Musa dan bangsa Israel saat mereka mengembara di padang pasir selama 40 tahun.

Ini adalah masa penderitaan dan penyucian, di mana umat beriman berkumpul bersama untuk mengatakan, “Bagaimana kita akan menyanyikan lagu Tuhan di negeri asing?” (Mazmur 137:4)

Kata “Haleluya” berakar dari ungkapan bahasa Ibrani yang berarti “pujilah Tuhan” dan dengan demikian dihilangkan selama masa Prapaskah.

Berkabung, Bukan Bergembira

Dengan demikian, fokus kita di masa Prapaskah bukanlah untuk bersukacita, melainkan meratapi dosa-dosa kita, melihat hal-hal yang menghalangi kita dari hubungan yang autentik dengan Tuhan.

Setelah ini dihilangkan melalui doa, puasa, dan berderma, kita dapat bersukacita lagi pada Paskah, karena bukan hanya kebangkitan Kristus yang kita rayakan, melainkan kelahiran kembali kita sendiri dalam roh.

Serupa dengan seorang wanita yang mengalami sakit bersalin sebelum melahirkan, demikian pula umat Kristiani “mengerang dalam hati saat kita menantikan pengangkatan sebagai anak laki-laki, yaitu penebusan tubuh kita” (Roma 8:23).

Tags: Halleluyamadah KemuliaanMasa PraspaskahPuasa Katolik
SendShare44Tweet28Send
Next Post
Sambangi Mabes TNI, Kardinal Suharyo Jelaskan Visi Keuskupan Militer Indonesia

Sambangi Mabes TNI, Kardinal Suharyo Jelaskan Visi Keuskupan Militer Indonesia

Tiga Pesan Paus Fransiskus bagi Para Imam, Diakon, dan Seminaris

Tiga Pesan Paus Fransiskus bagi Para Imam, Diakon, dan Seminaris

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net