Katoliknews – Sebanyak 66 umat Gereja Katolik Paroki Santo Yosef, Ayawasi-Papua Barat Daya menerima Sakramen Krisma melalui tangan Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong [KMS] Mgr. Hilarion Datus Lega pada Minggu, 17 Maret 2024.
Perayaan itu juga dihadiri ratusan umat paroki setempat, 10 imam, dan seorang diakon.
Dalam pembukaan perayaan itu, Uskup Datus menjelaskan makna Sakramen Krisma sebagai salah satu sakramen inisiasi dalam ajaran Gereja Katolik.
“Sebagai salah satu sakramen inisiasi, Sakramen Krisma menjadi momen berahmat sekaligus istimewa sebab kita dimeteraikan oleh Roh Kudus,” kata Mgr. Datus.
“Hal itu ditandai dengan pemberian minyak krisma pada dahi kita dan juga tamparan halus pada pipi kita,” tambah Uskup itu.
Peran Roh Kudus dalam Hidup
Dalam homilinya, Uskup Datus mengajak umat untuk menyadari dan mengamini peran Roh Kudus dalam peziarahan hidup sebagai manusia beriman.
“Roh Kudus selalu bekerja setiap saat dan setiap waktu dalam hidup kita manusia,” ujarnya.
Uskup Datus lalu meminta sejumlah imam yang hadir sebagai konselebaran untuk membagikan pengalaman iman ketika Roh Kudus menyentuh hidup dan pergumulan mereka.
RP Hery Lobya OSA dalam sharingnya mengatakan, Roh Kudus memampukan dirinya dalam menjalankan karya pastoral di berbagai tempat sejak praktik diakonat hingga kini sudah tujuh tahun menjadi imam.
Bagi dia, Roh Kudus menjadi andalan dalam melaksanakan seluruh karya pelayanannya baik ketika bertugas di paroki maupun kini di Komisi Justice, Peace, and Integrity of Creation [JPIC] OSA.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh RP Yan Piter Fatem OSA. “Roh Kudus membantu saya dalam mengemban tugas sebagai pemimpin (Vikaris) Ordo Santu Agustinus,” ungkapnya.

“Dalam banyak urusan baik secara internal maupun eksternal, saya menyadari bahwa Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja dalam diri saya terutama agar saya tetap setia dan taat pada konstitusi yang telah digariskan oleh Ordo,” pungkasnya.
RD Ardus Endi dalam sharingnya menyadari peran Roh Kudus sungguh luar biasa. Hal itu dialaminya persis ketika ia hendak melangkah maju untuk ditahbiskan menjadi diakon di Seminari Tinggi Interdiosesan St Petrus Ritapiret, Maumere-Flores.
“Sebagai seorang manusia biasa, saya menyadari bahwa pilihan menjadi imam tidaklah mudah. Saya sempat dilema tepat berada ruang ‘antara’: terus berlangkah maju menjadi imam, ataukah harus mundur secara teratur untuk menjadi awam. Namun, setelah mengikuti ret-ret agung, doa, novena dan juga melalui refleksi yang panjang, saya akhirnya memutuskan untuk terus berlangkah maju menjadi Imam Tuhan,” ungkap Imam muda asal Keuskupan Ruteng itu.
“Roh Kudus membantu menguatkan komitmen, meneguhkan hati yang sempat resah, menjernihkan pikiran dan pada akhirnya mematangkan pilihan untuk menjadi umam,” pungkasnya.
Sementara itu, pengalaman RD Petrus Peterson menunjukkan peran Roh Kudus terutama saat membantu menyembuhkan orang sakit yang pernah datang kepadanya saat bulan-bulan awal ia ditahbiskan.
Imam Diosesan KMS itu menyadari bahwa ada begitu banyak kelemahan dan kekurangan dalam dirinya, namun ia percaya Roh Kudus membantu dia untuk menyembuhkan orang sakit.
Pengalaman lain dibagikan RD Oktavianus Aryanto dalam karya pelayanannya sebagai staf Formator di Seminari Petrus van Diepen Sorong.
“Peran utama Roh Kudus dalam diri saya dalam hubungan dengan tugas saya sebagai Formator di seminari adalah mengendalikan diri saya untuk tidak berniat mengeluarkan anak-anak yang sering kali tidak disiplin mengikuti aturan-aturan di seminari,” ujarnya.
Ia bercerita, adakalanya ia dengan begitu getol ingin mengeluarkan anak yang tidak disiplin, namun seperti selalu ada suara yang berkata: ‘Pertahankan anak itu. Beri dia kesempatan’.
“Suara itu begitu kuat dan akhirnya saya tidak jadi mengeluarkan anak tersebut. Saya menyadari itu adalah cara kerja Roh Kudus dalam diri saya,” pungkasnya.
Pengalaman-pengalaman iman dari para imam ini, kata Uskup Datus, menunjukkan bahwa Roh Kudus sungguh berkarya di dalam hidup manusia.
“Bagi saya, apa peran Roh Kudus, yah, Roh Kudus menggerakkan hati saya agar meminta imam-imam ini mensharingkan pengalaman di hadapan Bapa-Mama, saudara/i sekalian,” kata Mgr. Datus menutup homilinya.



Discussion about this post