Katoliknews – Yolivia Endeng (Jein) dan Jerianus Mugar (Joi) adalah dua kakak-beradik yang hidup telantar tanpa orang tua di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
“Ayah kami sudah meninggal dunia pada 2016 lalu”,” jelas Kakak-Beradik itu saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis, 2 Mei 2024, “sementara Ibu memilih untuk memiliki pasangan hidup baru dan merantau ke luar Manggarai Timur, khususnya merantau ke Kalimantan saat Yerianus Mugar berusia 2 tahun.”
Kini, Yolivia duduk di kelas IX di salah satu sekolah di Kecamatan Kota Komba Utara, sementara Yerianus Mugar duduk di kelas II SD di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba.
Sepeninggal sang Ayah, Jein dan Joi tinggal di rumah yang dibangun sang Ayah saat masih hidup bersama sang Ibu. Namun, ketika sang Ibu memilih merantau bersama suami barunya, kakak-beradik itu tinggal di rumah Yohanes Nugat, kakak dari sang Ayah, di Kampung Randang hingga saat ini.
“Saat ini, Bapak Yohanes yang menghidupkan kami berdua di tengah keterbatasan ekonomi keluarga,” kata Jein.
“Kami berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dari rumah Bapak Yohanes Nugat,” tambahnya.
Jein mengisahkan, dia selalu membayangkan wajah sang Ayah yang begitu sayang kepada mereka. Dia selalu menangis. Itupun dia selalu berusaha agar tidak dilihat oleh Joi, adiknya.
Bercita-cita Jadi Guru
Kendati hidup telantar, Jein menyimpan sebuah cita-cita.
“Saya bercita-cita untuk jadi guru. Sementara, adik saya belum tahu cita-citanya,” kata gadis 15 tahun itu.
Namun, di balik harapan itu, dia juga bingung dengan biaya untuk sekolah apalagi keadaan ekonomi Yohanes Nugat yang saat ini memelihara mereka sangat terbatas dan menanggung empat orang anak kandungnya.
“Inilah nasib kami berdua yang ditinggalkan orang tua,” ujarnya.
Karena itu, Jein berharap ada belas kasihan dan kepedulian dari pemerintah untuk biaya hidup dan uang sekolahnya agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Saya selalu berdoa melalui perantaraan ayah yang sudah meninggal dunia agar mengutus orang baik untuk membiayai hidup dan uang sekolah,” harapnya.
“Semoga ada yang peduli dari orang-orang baik untuk membantu kami berdua,” pungkas.
Kontributor: Markus Makur (Borong/Manggarai Timur)


Discussion about this post