Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM
Katoliknews – Salah satu tema menarik untuk direfleksikan pada peristiwa kebangkitan Yesus ialah makam yang kosong. Pada makam yang kosong itu terlihat sekali realitas kebersihan, keteraturan keadaannya.
Bertitik tolak dari kebersihan makam itu, kami merenungkan lebih lanjut tentang kebersihan hati dan kebersihan ekologis, sebagai salah satu pesan Paskah bagi kita.
Ketertarikan pada pokok kebersihan ini diinspirasikan oleh perjalanan fisik yang kami lakukan dengan berlayar dari satu pulau ke pulau yang lainnya di bagian selatan Filipina. Kami menyaksikan keindahan alam dan kebersihan laut hasil usaha dan kesadaran manusia yang mendiami pantai-pantai tersebut.
Makam Yesus yang Tertinggal Rapi dan Bersih
Kisah kebangkitan Yesus dituturkan oleh keempat penginjil. Satu hal yang sama tertulis di sana ialah para perempuan dan Rasul Petrus serta Yohanes menemukan kubur kosong; mayat Yesus tidak lagi ada di sana.

Penginjil Yohanes bertutur: “Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam; maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung” (20:3-7).
Selain makam yang kosong, tetapi tetap bersih dan rapi, penginjil Matius menceritakan pula ketakutan pada para penjaga makam, para serdadu sewaan Herodes (bdk. 28:4).
Ada juga malaikat Allah yang memberitahukan kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain, yang datang ke kubur (bdk. Mat 28:1) dengan berkata, “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia”.
Kisah para penginjil ini mengungkapkan keadaan makam setelah Yesus bangkit. Ada kerapian atau kebersihan yang disaksikan oleh para perempuan dan rasul-rasul yang datang ke makam pagi itu.
Pada kesempatan Paskah 2026 ini, kami menguraikan secara istimewa kebersihan atau keteraturan makam Yesus, yang kami kaitkan dengan kebersihan hati dan kebersihan ekologis.
Kebersihan makam Yesus digambarkan oleh penginjil Yohanes khususnya, dengan menuturkan secara rinci keberadaan kain-kain yang digunakan untuk menyelimuti mayat Yesus. Terlihat sekali tidak berserakan, walau terjadi gempa bumi hebat ketika peristiwa kebangkitan terjadi (bdk. Mat 28:2). Kain kafan terletak di tanah. Kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus, kini ada di samping dan sudah tergulung rapi (Lih Yoh. 20:7). Ada kerapian, kebersihan dalam makam.
Tentu saja peristiwa kebangkitan serta segala keteraturan, kerapian (kebersihan makam) merupakan karya Allah. Karya-Nya selalu menghasilkan yang baik adanya seperti dalam kisah Penciptaan. “Semua yang diciptakan, semuanya baik”. Demikianlah peristiwa kebangkitan meninggalkan keadaan yang rapi, bersih, teratur di ruang makam yang kosong tanpa jasad Yesus.
Kebersihan Ekologis Pantai Coron Palawan, Coluan, Cagait
Refleksi sederhana tentang Kebersihan makam Yesus ini menghantar kami untuk berefleksi tentang kebersihan ekologis. Merayakan Paskah Kebangkitan Yesus mesti meneguhkan kita agar tekun meneruskan misi pewartaan ekologis. Misi pewartaan ekologis itu terkait dengan usaha-usaha konkret kita untuk merawat bumi serta lingkungan hidup, serta menjaga keutuhan makhluk ciptaan Tuhan, termasuk bumi, udara, laut, hutan dan air.
Dengan kata lain, iman akan kebangkitan Kristus mesti memengaruhi perilaku orang terhadap alam semesta serta lingkungan hidupnya. Manusia beriman mesti mengembangkan aksi kebersihan dan kerapian lingkungan hidupnya dengan inspirasi yang ditimba dari kebersihan makam Yesus yang kosong itu. Manusia Paskah dipanggil untuk mewujudkan perilaku bersaudara dengan menjaga serta melestarikan lingkungan hidupnya.
Pengalaman akan kebersihan ekologis ini kami temukan ketika kami melakukan perjalanan dari pulau ke pulau di selatan Filipina. Kami membekali diri dengan semangat Paskah dan melihat implikasi iman Paskah pada usaha menciptakan dan merawat kebersihan alam dan lingkungan.

Berangkat menggunakan perahu kecil bermesin dua, kami meninggalkan Kota Coron-Palawan menuju Kota Coluan dan terus ke kampung kecil Cagait. Sambil menunggu penumpangnya penuh (harus 34 orang), kami bercakap-cakap di tempat penantian di Pelabuhan Coron.
Kendati tempat penantian itu sederhana dan dihuni orang-orang kecil (penjual makanan ringan di warung-warung sederhana), air laut di pelabuhan tempat perahu-perahu bersandar itu bersih, bening, dan bebas sampah. Tidak terlihat sampah-sampah plastik, botol plastik atau sisa barang rumah tangga, kasur atau bantal rusak dan sampah lainnya.
Pemandangan kebersihan pantai dan air lautnya itu amat mengherankan kami. Kami menyaksikan sendiri pantai-pantai yang didiami penduduk di Indonesia umumnya jorok, tidak bersih dan sisa-sisa sampah berserakan.
Pemandangan akan kebersihan ini tidak berhenti di Kota Coron saja. Ketika kami naik ke perahu dan berlayar menuju kota kecil Coluan di Pulau Coluan, kami menemukan keadaan yang sama. Pantai Coluan yang dihuni penduduk nelayan sederhana tetap bersih, tak tampak sampah berserakan ke sana kemari. Kami berusaha mengamati dari dekat pantainya.
Kami mendapat kesempatan untuk singgah di rumah Bapak Andi dan istrinya, Ibu Richi, umat di kota kecil Coluan. Bapak Andi adalah seorang mantan OFM. Dia menjadi pengusaha roti. Rumahnya merapat sampai di bibir pantai; bahkan dia menambahkan sedikit bagian belakang rumahnya, tepat berdiri di atas laut di pinggir pantai. Rumah para tetangga bagian kanan dan kirinya juga demikian.

Kami tidak menemukan sampah-sampah. Air lautnya bersih dan jernih. Hal ini amat berbeda dengan pantai-pantai serta air laut di Indonesia. Kita selalu melihat sampah-sampah plastik, sisa gelas plastik aqua ada di mana-mana, terutama di pantai-pantai yang dihuni banyak orang, ataupun pantai pulau-pulau kecil, seperti di Pulau Padar, Pulau Kelor di perairan Komodo atau Pulau Seribu di perairan Ancol. Kebersihan pantai amat sulit ditemukan di negara kita tercinta Indonesia.
Formasi Kebersihan Hati dan Kebersihan Ekologis
Pertanyaan muncul dalam diri kami: mengapa pantai-pantai di wilayah yang kami lewati dan tinggal di selatan Filipina ini bersih? Apakah ada aturan ketat yang dibuatkan oleh pemerintah atau Gereja agar rakyatnya menjaga kebersihan?

Realita sosial kemasyarakatan antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Philipina – menurut kacamata kami – tidak terlalu beda jauh. Filipina dan Indonesia sama-sama memiliki ribuan pulau, walau Indonesia sedikit lebih banyak. Tetapi mengapa soal kebersihan pantai dan air lautnya begitu berbeda?
Perbedaan begitu mencolok ketika kita meneropong perilaku manusianya. Terlihat perbedaan begitu besar antara perilaku orang Indonesia dan orang-orang Filipina, khususnya di daerah Coron-Palawan, Caloan, Cagait dalam berelasi dengan alam ciptaan, khususnya pinggir pantai dan air laut. Sampah-sampah yang bertebaran dan_biasa di mata orang Indonesia, tidak ditemukan di pantai-pantai Coron, Coluon dan Cagait. Juga di daerah wisata seperti Laguna Kayangan. Air lautnya bening, pantainya bersih dari sampah-sampah plastik, sisa-sisa makanan, bungkusan mie intsan dan sampah plasti lainnya.
Kebiasaan suka membuang sampah sembarangan menjadi titik perbedaan prilaku manusianya. Dari realita di beberapa pulau yang kami lalui dan tinggal beberapa hari di tempat itu, kami merasa kagum akan prilaku saudara-saudari kita orang Filipina. Mereka tahu menjaga kebersihan ekologis, walaupun orang-orang itu tergolong orang-orang sederhana secara ekonomi.
Perilaku menjaga kebersihan ekologis tentu merupakan hasil formasi hati, budi, pikiran dan aksi manusia Filipina. Pertanyaannya: model formasi masyarakat seperti apa yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat umum dan masyarakat adat sehingga terlihat sekali kebersihan ekologis ini ada di beberapa pantai yang kami temui?
Soal kemiskinan, soal korupsi, soal kesenjang kaya-miskin ada kesamaan dengan Indonesia. Tetapi salah satu perbedaan nyata dan mencolok ialah kebersihan ekologis yang terlihat nyata di pantai-pantai serta laut-lautnya. Apakah juga dipengaruhi oleh kebersihan hati yang berbeda? Semoga kebersihan makam Yesus menginspirasi kebersihan hati serta kebersihan ekologis kita yang merayakan Paskah 2026.
Selamat Paskah dari Cagait – Mission Station of OFM Manila.
*Penulis adalah Uskup Emeritus Keuskupan Bogor



Discussion about this post