Katoliknews – Profesor Antonius Eddy Kristiyanto OFM, seorang religius Fransiskan, merilis buku berjudul Dinamika Gerakan Religius Fransiskus Assisi: Sejarah Keberakaran, Ketersebaran, dan Kepedulian.
Di dalam karya ini, penulis yang juga seorang pakar Sejarah Gereja menyingkapkan antara lain identitas dan komunitas Fransiskus Assisi: visinya, misinya, karismanya, konfliknya, spiritualitasnya, sumbangannya, keberakarannya, ketersebarannya, dan kepeduliannya. Semua diulik dengan berangkat dari matra sejarah.
“Buah riset historis dan teologis yang mendalam,” kata Pater Aloysius G. Rusmadji OFM, Minister Provinsi Fransiskus Duta Damai, Papua pada bagian endorsement buku tersebut.
“Sebuah karya yang kaya inspirasi bagi siapa pun yang rindu mendalami spiritualitas Fransiskan yang membumi dan transformatif,” kata Pastor Daniel Nahak OFM, mantan Vikaris Minister Provinsi St. Michael Malaikat Agung di Indonesia.
“Sebuah ‘oasis’ bagi dahaga akan sumber sejarah Fransiskan yang komprehensif di Indonesia,” kata Sr. M. Patricia FCh, Pemimpin Umum Kongregasi Suster Fransiskus Charitas (FCh) Indonesia.
“Sumbangan intelektual dan spiritual yang besar bagi Gereja serta keluarga besar Fransiskan di Indonesia dalam menjaga warisan spiritualitas mereka,” kata Sr. M. Angela Purba SFD, Ministra Umum Kongregasi Suster Fransiskus Dina (SFD).
Referensi Unggul Literatur Kefransiskanan
Diterbitkan OBOR, penerbit milik Konferensi para uskup Indonesia, buku karya Peritus KWI ini mengungkap perjalanan gerakan yang diawali dari dan berakar pada Fransiskus Assisi (1181/1182–1226). Karya berbahasa Indonesia ini didaku selain asli juga yang pertama dan terlengkap dalam arti kata yang sesungguhnya.
Pater Rikard Selan OFM, Magister Novis OFM, mengatakan, “Buku ini memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi studi sejarah dan spiritualitas Fransiskan.”
“Di tengah minimnya literatur sejarah dan spiritualitas Fransiskan berbahasa Indonesia, karya ini sungguh dinantikan dan niscaya menjadi rujukan penting dalam studi kefransiskanan,” tulis Rikard.
Senada, Pater Fransiskus Assisi Oki Dwihatmanto OFM mengatakan, “Buku ini mengisi kekosongan sumber Sejarah Kefransiskanan yang komprehensif dalam Bahasa Indonesia.”
“Buku ini akan membantu untuk melihat kembali hidup dan karyanya sebagai Fransiskan dan kemudian menemukan maknanya yang relevan di zaman ini; bagi masyarakat umum, buku ini menjadi sumber informasi yang lengkap, mendalam, dan inspiratif,” kata Pimpinan Dapur Pusat Spiritualitas, Jakarta itu.
Sementara Sr. M. Aquina FSGM, Pemimpin Provinsi “St. Yusuf” Kongregasi Fransiskan Santo Georgius Martir (FSGM) Indonesia menilai karya Pastor Eddy ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai kefransiskanan tetap relevan, “berakar pada tradisi, menyebar lintas batas, dan hadir dengan kepedulian yang nyata bagi sesama.”
Pulang ke Akar
Ernest Mariyanto OFS, Minister Nasional Ordo Fransiskan Sekular (OFS) Indonesia melihat buku ini sebagai undangan “kembali ke sumber asali, menafsirkan kembali spiritualitas pendiri, membaca ulang tradisi sehat Ordo, dan memahami secara baru spiritualitas dalam terang zaman yang terus berkembang.”
Karena itu, kata dia, buku ini membantu para pengikut Fransiskus Assisi merawat ingatan akan peristiwa Fransiskus Assisi dan tindakan-tindakan ilahi yang bekerja di dalam dirinya.
“Upaya ‘napak tilas’ ini menjadi kesempatan emas bagi kita untuk menyelami roh atau karisma yang menggerakkan lahirnya Fransiskanisme, menggelorakan semangat kita untuk terus menghidupi serta menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan oleh Bapa Fransiskus, dan menuangkannya dalam praktik kehidupan nyata, sehingga gerakan dinamis Fransiskan tetap relevan,” ungkapnya.
Hal senada diungkap Vianney MTB, Pimpinan Kongregasi Bruder MTB di Indonesia.
“Buku ini sangat membantu para religius Fransiskan masa kini maupun masa depan untuk tetap berakar pada spiritualitasnya; yang mengingatkan agar tidak terlena dan hanya bermegah akan perkembangan dan penyebaran jumlah, tetapi juga soal kekudusan/kemartiran dan kerendahan hati,” kata Bruder Vianney.
“Buku ini menuntun kita untuk kembali ke sumber: kepada pengalaman iman Santo Fransiskus yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, yang memeluk kemiskinan sebagai jalan kebebasan rohani, yang membangun persaudaraan universal, dan yang mencintai seluruh ciptaan sebagai pantulan kasih Sang Pencipta,” kata Maxi Sembiring OFMCon., Provinsial Fransiskan Conventual Indonesia.)***
Rian Safio (Jakarta)




Discussion about this post