Darmin Mbula OFM
Saya menyambut dengan hati yang penuh sukacita kehadiran buku Pedagogi Persaudaraan: Menggali Konsep Pendidikan dalam Tradisi Fransiskan (OBOR: Maret 2026). Buku ini merupakan buah refleksi intelektual dan spiritual Saudara Agustinus Launrentius Nggame OFM, Provinsial OFM Indonesia saat ini.
Di tengah masih terbatasnya buku-buku berbahasa Indonesia yang mengangkat pedagogi cinta kasih persaudaraan, karya ini hadir sebagai cahaya yang lembut namun pasti; menuntun para pendidik dan pembaca untuk kembali menyelami makna terdalam dari pendidikan yang memanusiakan. Ia tidak sekadar menjadi bacaan, tetapi undangan untuk mengalami kembali kehangatan relasi yang berakar pada kasih; bagaikan embun pagi yang menyejukkan ladang pemikiran pendidikan di Indonesia.
Buku ini mengawali perjalanannya dengan fondasi yang kokoh, yakni pemahaman tentang pedagogi secara umum dan pedagogi Fransiskan. Dari sana, pembaca diajak menapaki jalan sunyi refleksi tentang manusia dalam pemikiran Fransiskus, manusia yang rapuh namun mulia, sederhana namun penuh makna. Dalam setiap uraian, terasa bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses transfer ilmu, melainkan juga perjalanan batin yang menyentuh inti kemanusiaan, tempat di mana relasi dengan diri sendiri, sesama, alam dan dengan Sang Pencipta bertumbuh dalam harmoni hidup menuju peradaban cinta (civilization of love).

Lebih jauh, buku ini menyingkap nilai-nilai inti yang ditanamkan dalam pendidikan di sekolah Fransiskan, nilai-nilai yang tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupi. Cinta kasih Injil menjadi jiwa yang mengalir dalam setiap praksis pendidikan, menjelma dalam damai dan kebaikan, kesederhanaan yang membebaskan, kerendahan hati yang menguatkan, serta kepedulian yang merangkul tanpa syarat. Nilai-nilai ini bukan sekadar konsep, melainkan denyut hidup yang menghidupkan ruang-ruang kelas menjadi ruang persaudaraan sejati.
Dalam keheningan refleksi itu, pembaca juga diajak menatap figur guru ideal—sebuah sintesis indah antara Guru Ilahi dan guru manusia. Guru tidak lagi dipandang semata sebagai pengajar, tetapi sebagai saksi hidup dari nilai-nilai yang diajarkan. Ia adalah pribadi yang berjalan bersama, mendengarkan dengan hati, dan membimbing dengan kasih. Dalam lensa Fransiskanisme, guru menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kebijaksanaan, dan pembelajaran dengan kehidupan.
Akhirnya, Pedagogi Persaudaraan bukan hanya sebuah buku, tetapi sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang meneguhkan kembali panggilan pendidikan sebagai karya kasih. Ia mengajak kita untuk tidak hanya mendidik dengan pikiran, tetapi juga dengan hati; tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membangun persaudaraan. Dan dalam gema kata-katanya, kita seakan diingatkan bahwa pendidikan sejati selalu berakar pada cinta. Kita semua diingat dan disadarakan kembali bahwa hanya pendidikan sejati dengan pedagogi cinta persaudaraan bisa dan mampu mengubah dunia menuju peradaban cinta persaudaraan.
*Penulis adalah Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) dan Ketua Yayasan Fransiskus, Jakarta.

Discussion about this post