Pater Nico Syukur Dister OFM atau yang akrab disapa Pater Nico, seorang Fransiskan dan profesor teologi mengembuskan napas terakhir pada usia 87 tahun di negeri asalnya, Belanda, Minggu, 12 April 2026. Kepergiannya meninggalkan dukacita bagi yang mengenal dan merasakan buah pikirannya serta tindakan kasihnya selama hidup.
Pengalaman Pribadi dengar Pater Nico
Saya pernah mengalami langsung kuliah dari Pater Nico pada tahun 1985–1989 di STF Driyarkara, Jakarta. Saat itu, ia mengajar mata kuliah Kristologi, Soteriologi, Eskatologi, dan Metafisika. Ia mengajar dengan kedalaman refleksi dan keluasan wawasan teologis.
Dalam setiap pertemuan kuliah, ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak kami masuk ke dalam cara berpikir teologis yang kritis, terbuka, dan tetap berakar pada iman Gereja. Setiap paper yang kami tulis dengan mesin ketik bermerek Olympic tidak pernah ia coret dengan tanda kesalahan, tetapi ia kembalikan dengan catatan dan masukan yang ditulis tangan secara pribadi, sebagai bentuk penghargaan terhadap proses belajar mahasiswanya. Sikap itu membuat kami merasa dihargai sebagai pribadi yang sedang bertumbuh, bukan sekadar dinilai sebagai produk akademik.
Dari pengalaman itu, saya melihat beliau bukan hanya seorang dosen, tetapi seorang Guru Fransiskan yang membentuk cara berpikir dan cara memandang iman dengan penuh hormat dan kebijaksanaan.
Mengenal Sekilas Pater Nico
Pater Nico lahir di Maastricht, Belanda pada 7 Maret 1939. Ia menapaki panggilan imamatnya dengan ditahbiskan sebagai Fransiskan imam pada 8 Maret 1964 setelah menyelesaikan pendidikan di Seminari Tinggi.
Ia menempuh pendidikan spesialisasi teologi (1968–1971) di Westfälische Wilhelms-Universität Münster, Jerman, di mana ia berguru kepada tokoh-tokoh besar, seperti Karl Rahner dan Johann Baptist Metz. Sambil ia menyelesaikan disertasinya di Unisersitas Leuven berjudul Coincidentia oppositorum in Deo/in Infinito menurut Nicolaus Cusanus pada tahun1972.
Pada tahun 1972 juga, ia diutus bermisi ke Indonesia dan mulai mengabdi sebagai dosen di STF Driyarkara serta kemudian berkarya panjang di Fajar Timur hingga tahun 2023, membentuk generasi intelektual dan rohani di tanah Papua.
Puncak perjalanan akademiknya ditandai dengan pengukuhannya sebagai Guru Besar pada 4 Juni 2005 di Universitas Cenderawasih, dengan pidato ilmiah berjudul “Penghubung Antara Agama Maria dalam Alkitab dan Al-Quran serta Penghormatan terhadapnya dalam Tradisi Kristiani dan Islami,” yang mencerminkan ciri khas pemikirannya yang dialogis, mendalam, dan menjembatani iman, filsafat, serta psikologi agama dalam terang spiritualitas Fransiskan.
Penulis yang Produktif
Pater Niko adalah penulis yang sangat produktif, tetapi perlu dicatat bahwa tidak ada satu daftar tunggal yang baku dan lengkap yang secara resmi merangkum semua buku beliau dalam satu sumber yang mudah diverifikasi, karena sebagian karyanya juga tersebar dalam bentuk diktat kuliah, artikel ilmiah, dan publikasi akademik lintas tahun.
Namun, beberapa karya utamanya yang paling dikenal dan sering dijadikan rujukan dalam bidang filsafat, teologi sistematika, psikologi agama, dan spiritualitas antara lain: Pengantar Teologi, Teologi Sistematika (Jilid I dan II), dan Psikologi Agama (Jilid I dan II); serta Pengalaman dan Motivasi Beragama, yang membahas dinamika batin dan pengalaman religius manusia secara mendalam.
Selain itu, ia juga dikenal melalui tulisan-tulisan tentang dialog iman dan budaya, refleksi filsafat agama (terutama terkait pemikiran Nicolaus Cusanus dan gagasan coincidentia oppositorum), serta karya-karya spiritualitas Fransiskan yang menekankan kesederhanaan, penerimaan terhadap sesama, dan keyakinan bahwa setiap manusia pada dasarnya baik dan terbuka pada rahmat Allah.
Buku Rehab Rumah Tuhan karya Pater Nico terinspirasi dari panggilan St. Fransiskus Assisi melalui suara Kristus dari Salib San Damiano: “Perbaikilah rumah-Ku yang hampir roboh ini.” Dalam buku ini, ia menafsirkan “rehab rumah Tuhan” sebagai pembaruan hati, komunitas, dan hidup rohani dalam semangat Fransiskan. Dengan gaya reflektif dan mendalam, ia menghubungkan teologi, psikologi agama, dan spiritualitas hidup membiara secara hidup dan konkret. Karya ini kemudian banyak dipakai sebagai bahan retret karena mampu menyentuh hati para Fransiskan dan Fransiskanes untuk kembali pada kesederhanaan dan pertobatan. Melalui buku ini, ia menghidupkan kembali semangat Assisi dalam konteks zaman modern yang penuh tantangan.
Pendidik Fransiskan Sejati
Pater Nico dikenang bukan hanya sebagai dosen dan guru besar, tetapi sebagai seorang pendidik Fransiskan sejati yang menghadirkan keutuhan diri dalam setiap karya dan pelayanannya: otaknya penuh oleh kedalaman intelektual, hatinya penuh oleh kasih dan belas kasih, serta tangannya “kotor” karena terlibat langsung dalam kehidupan nyata mahasiswa-mahasiswi yang ia dampingi tanpa jarak.
Dalam keseharian, ia bukan sekadar pengajar di ruang kuliah, melainkan seorang pembimbing yang hadir secara utuh, mendengarkan, merangkul, dan menuntun dengan kesederhanaan khas Fransiskan, sehingga banyak orang mengalami dirinya sebagai sosok yang membuat mereka merasa dihargai dan dipandang baik.
Ia mewariskan sebuah cara menjadi guru yang tidak hanya mengajar dengan pikiran, tetapi juga dengan hidup yang menyentuh; seorang intelektual yang sekaligus pastoral, seorang “Guru Besar” yang memadukan kedalaman ilahi dengan kemanusiaan yang sangat nyata.
***
Selamat jalan Pater Nico ke dalam persekutuan para kudus dan Bapa Serafik di surga. Warisan cinta akan kebijaksanaan dan kebaikanmu tetap hidup dalam hati banyak orang yang pernah kaudampingi. Dokanlah kami, saudara-saudarmu yang berziarah menuju ke dalam Cinta Kasih Allah.
*Darmin Mbula OFM, Imam Fransiskan, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik, dan Ketua Yayasan Fransiskus, Jakarta.

Discussion about this post