Katoliknews – Paus Fransiskus merilis sebuah pesan dalam video pada hari 5 Januari yang dilihat oleh para peserta upacara penghargaan Zayed Award untuk Persaudaraan Manusia tahun 2024 di Abu Dhabi.
Penghargaan tahun ini menandai ulang tahun kelima Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama, yang ditandatangani pada tahun 2019 oleh Paus Fransiskus dengan Sheikh Ahmed Al-Tayyeb, Imam Besar Al-Azhar.
Dalam pesan video tersebut, Paus menyapa Imam Besar dan memuji keempat penerima penghargaan itu atas upaya mereka dalam meningkatkan solidaritas demi pembangunan umat manusia.
Penerima penghargaan itu tahun ini termasuk dua organisasi Islam dari Indonesia, , Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Ketiga penerima lainnya adalah Suster Nelly León Correa, seorang biarawati Chili yang bekerja dengan para tahanan dan Sir Magdi Yacoub, seorang ahli bedah kardiotoraks Mesir.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada mereka,” kata Paus Fransiskus, “dan saya percaya bahwa teladan mereka akan mendorong orang lain untuk mengambil inisiatif yang timbul dari kerja sama yang bermanfaat antara orang-orang dari agama berbeda yang melayani seluruh umat manusia, menghormati martabat masing-masing orang, dan memajukan nilai-nilai kesejahteraan yang diusulkan oleh Dokumen Persaudaraan Manusia.”
Paus Fransiskus menyebut persaudaraan manusia sebagai sarana untuk mengatasi kebencian dan ketidakadilan.
“Selama tahun-tahun ini, kita telah melakukan perjalanan sebagai saudara dan saudari,” katanya, “dengan tetap menghormati budaya dan tradisi yang berbeda, kita harus membangun persaudaraan untuk mengatasi kebencian, kekerasan, dan ketidakadilan.”
Paus mengakhiri pesan video singkatnya dengan sebuah ajaka: “Terus sebarkan benih harapan.”
Penyerahan penghargaan itu diberikan pada Senin, 5 Februari 2024 di Founder’s Memorial di Abu Dhabi.
Zayed Award digelar untuk mengapresiasi individu dan entitas yang punya kontribusi besar terhadap kemajuan peradaban.
Untuk tahun ini, jurinya adalah termasuk Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden Indonesia.
Juri lainnya adalah Kardinal Leonardo Sandri, Prefek Emeritus Dikasteri Gereja-Gereja Oriental; Rebeca Grynspan Mayufis, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untul Perdagangan dan Pembangunan; mantan Direktur Jenderal, Irina Bokova; Rabbi Abraham Cooper, Ketua Komisi Kebebasan Beragama Internasiol Amerika Serikat dan Mohamed Abdelsalam, sekretaris jenderal Zayed Award untuk Persaudaraan Manusia.



Discussion about this post