Selamat berhari Minggu untuk kita semua. Pada hari ini, kita memasuki Hari Minggu Biasa ke-6 dalam kalender liturgi Tahun B/II. Bacaan-bacaan suci hari ini amat menarik untuk kita simak dan renungkan bersama.
***
Dalam bacaan I [Im. 13:1-2.44-46], kita semua mendengar narasi atau penjelasan tentang salah satu isi dari keseluruhan hukum Taurat, yang berkaitan dengan penyakit kusta. Istilah “kusta” dalam bahasa Inggris disebut leper dan dalam bahasa Yunani disebut lepra. Sebutan lepra sebetulnya tidak untuk menyebut penyakit kusta saja, tetapi juga berbagai penyakit kulit lainnya seperti bintil-bintil pada kulit, panu, dll. (bdk. Im. 13:2).
Dalam konteks masyarakat Yahudi, penyakit ini merupakan salah satu jenis penyakit yang menajiskan, menjijikkan. Karena itu, orang yang mengidap penyakit ini harus dikucilkan, diasingkan dari tengah keluarga, komunitas dan dari lingkungan sosial. Mengapa demikian? Karena penyakit kusta juga termasuk penyakit menular. Ini hampir sama dengan covid-19 kali lalu. Orang yang terkena covid-19 harus diisolasi, dijauhkan dari lingkungan sosial.
Selanjutnya, orang yang terkena penyakit kusta harus berpakaian cabik-cabik, rambutnya terurai, harus tutup muka sambil berseru: “Najis! Najis!” (Im. 13:45). Dengan ini, nasib si penderita sungguh malang dan beban penderitaannya semakin berat. Sebab, ia tidak hanya menderita secara fisik (tubuh terluka karena kusta), tetapi juga beban psikis karena harus diasingkan, diisolasi dan dianggap najis oleh orang lain.
***
Selanjut dalam kisah Injil [Mrk. 1:40-45], kehadiran Yesus justru membawa keselamatan bagi si penderita kusta. Yesus tahu aturan dan norma Taurat yang berlaku bahwa orang sehat tidak boleh berjumpa, berdialog apalagi bersentuhan dengan orang-orang kusta. Namun, Yesus tetap dengan hati terbuka menerima si kusta yang datang menjumpai-Nya dan malah mengabulkan permintaan si kusta: “Aku mau, jadilah engkau sembuh” (Mrk. 1:41).
Yesus tidak hanya berkata-kata, melainkan juga melakukan sesuatu yang nota bene dilarang dalam norma Taurat: mengulurkan tangan dan menyentuh orang itu. Ini tentu sesuatu yang luar biasa. Yesus tidak hanya iba dan kasihan, tetapi juga merangkul si kusta dengan penuh kasih. Tindakan Yesus ini jadi kunci kesembuhan bagi si Kusta. Si kusta selamat dan menjadi sembuh total.
***
Kisah Injil hari ini sangat inspiratif. Ada dua pesan yang perlu kita renungkan bersama. Pertama,kita perlu belajar dari si penderita kusta anonim (tidak bernama), terutama soal kesadaran iman. Si kusta tahu betul bahwa Yesus, selain pribadi manusia tetapi juga pribadi Ilahi yang punya kuasa untuk menyelamatkan semua orang. Dia-lah Tabib Agung, Mesias sejati.
Dengan iman yang mantap, si kusta datang dan meminta rahmat kesembuhan dan akhirnya ia menjadi sembuh. Kita belajar dari si kusta untuk selalu berani datang kepada Yesus setiap saat, setiap waktu. Tantangan, kesulitan dan penderitaan fisik yang mungkin sering kali mendera hidup kita, mestinya tidak boleh mengendurkan iman kita dan lalu lari dari Tuhan. Sebaliknya datang dan bawa semua keluh kesah kita ke dalam rangkulan kerahiman Allah. Permohonan dengan iman akan mengubah kata menjadi kenyataan. Sedangkan permohonan tanpa iman akan mengubah kata menjadi kekosongan.
Kedua, kita juga belajar dari Yesus, terutama untuk selalu terbuka dan peduli pada nasib sesama yang terluka dan menderita. Sama seperti Yesus, rasa iba dan simpati mesti disertai dengan tindakan nyata. Kita belajar untuk menjaga harmonisasi antara kata-kata dan aksi nyata. Rasul Yakobus mengingatkan kita semua: “Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26).
***
Ada banyak orang sakit dan menderita di sekitar kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka rindu dan menunggu sentuhan dan pertolongan dari kita. Beranikah kita hadir sebagai pribadi yang membawa berkat bagi mereka hari ini? Jawaban ada pada diri kita masing-masing.
Semoga bacaan-bacaan suci hari ini mengantar kita pada sebuah jawaban atau pilihan sikap yang membebaskan sesama. Penting untuk diingat: jika kita tidak mampu menyembuhkan luka dan kusta pada diri orang lain, paling kurang kita berjuang untuk tidak melukai perasaan sesama. Karena itu, rawatlah kata-kata dan sikap kita agar tidak mendatangkan luka dan derita bagi sesama. Semoga Tuhan Yesus berkenan memberkati setiap niat baik kita untuk menjadi berkat bagi sesama. Amin.
RD Eduardus Endi. Bertugas di Seminari Menengah Petrus van Diepen, Manakwari-Sorong.
![[Renungan Minggu, 11 Februari 2024] Menjadi Berkat bagi Sesama](https://katoliknews.net/wp-content/uploads/2024/02/istockphoto-639306834-612x612-1-612x375.jpg)

![[Renungan Hari Rabu Abu] Bermetanioa: Sebuah Jalan Pulang](https://katoliknews.net/wp-content/uploads/2023/02/rabu-abu-momen-menebus-dosa-bagi-umat-katolik-8BodKDCzbD-75x75.jpg)
Discussion about this post