Katoliknews – Paus Fransiskus mengadakan audiensi pada Senin [12 Februari 2024] dengan para peserta Sidang Umum Akademi Kepausan untuk Kehidupan, yang berfokus pada tema “Manusia: Makna dan Tantangannya”.
Dalam pidatonya, melansir vaticannews.va, Paus menyoroti pentingnya upaya Akademi tersebut untuk mengeksplorasi “apa yang bisa membedakan dari keberadaan manusia.”
Berkaca pada prevalensi teknologi di semua aspek kehidupan manusia, Paus menunjukkan bahwa tidak mungkin menolak teknologi begitu saja dalam kehidupan dunia saat ini.
“Apa yang diperlukan,” kata Paus, “adalah menempatkan pengetahuan ilmiah dan teknologi dalam cakrawala makna yang lebih luas, dan dengan demikian menghindari hegemoni paradigma teknokratis.”
Keseragaman pemikiran vs Keragaman pendapat
Paus mencontohkan teknologi yang mereproduksi berbagai aspek pribadi manusia, seperti upaya penggunaan kode biner sebagai bahasa digital yang mampu mengungkapkan segala jenis informasi.
Memperhatikan kesamaan yang jelas dengan kisah Alkitab tentang Menara Babel (Kejadian 11:1-9), Paus Fransiskus mengatakan bahwa tanggapan Tuhan terhadap keinginan manusia untuk menciptakan satu bahasa bukanlah sekadar hukuman.
Sebaliknya, Paus menegaskan, Tuhan mengacaukan bahasa manusia sebagai “semacam berkah” dengan tujuan melawan kecenderungan yang memaksa semua orang untuk berpikiran sama dengan orang lain.
“Dengan cara ini,” kata Paus, “manusia akan berhadapan dengan keterbatasan dan kerentanan mereka, dan ditantang untuk menghormati perbedaan dan menunjukkan kepedulian satu sama lain.”
Kedalaman hubungan di luar bahasa
Paus Fransiskus mengajak para ilmuwan dan peneliti untuk selalu menggunakan keahliannya secara bertanggung jawab dan menyadari bahwa tindakan kreatif mereka selalu berada di bawah kreativitas Tuhan.
Artifisial Intelegence atau “mesin yang bisa berbicara”, begitu Paus menyebutnya, tidak akan pernah bisa memiliki “roh”, sehingga kemajuan teknologi harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah “pengrusakan terhadap manusia”.
Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengatakan bahwa tugas utama para antropolog adalah untuk mengembangkan “suatu kebudayaan yang, dengan mengintegrasikan sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu mengakui dan memajukan umat manusia dalam kekhususannya yang tidak dapat direduksi.”
Ada tingkatan yang lebih tinggi dalam hubungan manusia daripada bahasa, yang terletak pada lingkup “pathos dan emosi, hasrat dan intensionalitas,” katanya.
Hanya manusia, tambahnya, yang dapat merasakan dan mengubah pertukaran empati ini menjadi hubungan yang positif dan bermanfaat dengan orang lain, dengan bantuan rahmat Tuhan.
Menanam pohon yang buahnya akan dipanen orang lain
Paus Fransiskus memuji Akademi Kepausan untuk Kehidupan karena berupaya menciptakan dialog lintas disiplin di mana para peneliti dapat bertukar pandangan mereka mengenai perkembangan teknologi.
Paus menyoroti kesamaan inisiatif ini dengan proses sinode yang sedang berlangsung di Gereja.
“Proses ini menuntut,” kata Paus, “karena melibatkan perhatian yang cermat dan kebebasan jiwa, serta kesiapan untuk menempuh jalur yang belum dijelajahi dan tidak diketahui, bebas dari upaya sia-sia untuk ‘melihat ke belakang’.”
Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengatakan agama Kristen dapat menawarkan aspek berpandangan jauh ke depan dalam dialog teknologi-budaya.
“Kekristenan selalu memberikan kontribusi yang signifikan,” kata Paus, “menyerap unsur-unsur bermakna dari setiap budaya di mana ia telah mengakar dan menafsirkannya kembali dalam terang Kristus dan Injil, dengan memanfaatkan sumber daya linguistik dan konseptual yang ada dalam berbagai latar budaya.”


Discussion about this post