Minggu, April 12, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Berita

Paus Fransiskus: Manusia Menemukan Makna Hidup dalam Relasi, Bukan dalam Teknologi

Pada audiensi dengan anggota  Akademi Kepausan untuk Kehidupan [The Pontifical Academy for Life], Paus Fransiskus merefleksikan pencarian makna umat manusia dan mengatakan hubungan dengan orang lain merupakan inti dari keberadaan kita.

13 Februari 2024
in Berita, Headline, Vatikan
Reading Time: 2 mins read
Paus Fransiskus: Manusia Menemukan Makna Hidup dalam Relasi, Bukan dalam Teknologi

Paus Fransiskus dengan seorang anggota Akademi Kepausan untuk Hidup dalam audiensi, Senin, 712 Februari 2024. Foto Vatican Media

Katoliknews – Paus Fransiskus mengadakan audiensi pada Senin [12 Februari 2024] dengan para peserta Sidang Umum Akademi Kepausan untuk Kehidupan, yang berfokus pada tema “Manusia: Makna dan Tantangannya”.

Dalam pidatonya, melansir vaticannews.va, Paus menyoroti pentingnya upaya Akademi tersebut untuk mengeksplorasi “apa yang bisa membedakan dari keberadaan manusia.”

Berkaca pada prevalensi teknologi di semua aspek kehidupan manusia, Paus menunjukkan bahwa tidak mungkin menolak teknologi begitu saja dalam kehidupan dunia saat ini.

“Apa yang diperlukan,” kata Paus, “adalah menempatkan pengetahuan ilmiah dan teknologi dalam cakrawala makna yang lebih luas, dan dengan demikian menghindari hegemoni paradigma teknokratis.”

Keseragaman pemikiran vs Keragaman pendapat

Baca Juga

Nico Syukur Dister OFM, sang Teolog Itu Berpulang

Mengubah Dunia Menuju Peradaban Cinta Persaudaraan

Uskup Sibolga Bantah Terlibat dalam Ibadah Raya Paskah dari Kelompok Gereja Protestan; Minta Pencatutan Fotonya Ditarik Kembali

“Mendalam! Komprehensif! Kontekstual!” Pimpinan berbagai Tarekat Fransiskan Bicara tentang Buku Baru Karya Profesor Eddy Kristiyanto OFM

Paus mencontohkan teknologi yang mereproduksi berbagai aspek pribadi manusia, seperti upaya penggunaan kode biner sebagai bahasa digital yang mampu mengungkapkan segala jenis informasi.

Memperhatikan kesamaan yang jelas dengan kisah Alkitab tentang Menara Babel (Kejadian 11:1-9), Paus Fransiskus mengatakan bahwa tanggapan Tuhan terhadap keinginan manusia untuk menciptakan satu bahasa bukanlah sekadar hukuman.

Sebaliknya, Paus menegaskan, Tuhan mengacaukan bahasa manusia sebagai “semacam berkah” dengan tujuan melawan kecenderungan yang memaksa semua orang untuk berpikiran sama dengan orang lain.

“Dengan cara ini,” kata Paus, “manusia akan berhadapan dengan keterbatasan dan kerentanan mereka, dan ditantang untuk menghormati perbedaan dan menunjukkan kepedulian satu sama lain.”

Kedalaman hubungan di luar bahasa

Paus Fransiskus mengajak para ilmuwan dan peneliti untuk selalu menggunakan keahliannya secara bertanggung jawab dan menyadari bahwa tindakan kreatif mereka selalu berada di bawah kreativitas Tuhan.

Artifisial Intelegence atau “mesin yang bisa berbicara”, begitu Paus menyebutnya, tidak akan pernah bisa memiliki “roh”, sehingga kemajuan teknologi harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah “pengrusakan terhadap manusia”.

Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengatakan bahwa tugas utama para antropolog adalah untuk mengembangkan “suatu kebudayaan yang, dengan mengintegrasikan sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu mengakui dan memajukan umat manusia dalam kekhususannya yang tidak dapat direduksi.”

Ada tingkatan yang lebih tinggi dalam hubungan manusia daripada bahasa, yang terletak pada lingkup “pathos dan emosi, hasrat dan intensionalitas,” katanya.

Hanya manusia, tambahnya, yang dapat merasakan dan mengubah pertukaran empati ini menjadi hubungan yang positif dan bermanfaat dengan orang lain, dengan bantuan rahmat Tuhan.

Menanam pohon yang buahnya akan dipanen orang lain

Paus Fransiskus memuji Akademi Kepausan untuk Kehidupan karena berupaya menciptakan dialog lintas disiplin di mana para peneliti dapat bertukar pandangan mereka mengenai perkembangan teknologi.

Paus menyoroti kesamaan inisiatif ini dengan proses sinode yang sedang berlangsung di Gereja.

“Proses ini menuntut,” kata Paus, “karena melibatkan perhatian yang cermat dan kebebasan jiwa, serta kesiapan untuk menempuh jalur yang belum dijelajahi dan tidak diketahui, bebas dari upaya sia-sia untuk ‘melihat ke belakang’.”

Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengatakan agama Kristen dapat menawarkan aspek berpandangan jauh ke depan dalam dialog teknologi-budaya.

“Kekristenan selalu memberikan kontribusi yang signifikan,” kata Paus, “menyerap unsur-unsur bermakna dari setiap budaya di mana ia telah mengakar dan menafsirkannya kembali dalam terang Kristus dan Injil, dengan memanfaatkan sumber daya linguistik dan konseptual yang ada dalam berbagai latar budaya.”

Tags: makna hidupPaus FransiskusRelasiTeknologi
SendShare18Tweet11Send
Next Post
“Mengapa Kita Harus Pergi Mengaku Dosa?” Pastor Moses Menjawab

“Mengapa Kita Harus Pergi Mengaku Dosa?” Pastor Moses Menjawab

Khotbah Misa Rabu Abu Uskup Bandung, Mgr. Anton Subianto Bunjamin OSC

Khotbah Misa Rabu Abu Uskup Bandung, Mgr. Anton Subianto Bunjamin OSC

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net