Katoliknews – Pendidikan anak Papua mesti diselamatkan dari akibat pertikaian panjang antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Oragnisasi Papua Merdeka (TNPPB-OPM) dan TNI-POLRI. Pasalnya, konflik itu menyebabkan proses pendidikan di daerah Intan Jaya-Papua Tengah tidak berjalan normal, bahkan lumpuh total.
Karena itu, Pastor Yoseph Bunai yang sejak 2023 lalu bertugas Paroki Titigi, Intan jaya mengatakan, kedua belah pihak (TPNPB-OPM) dan TNI-Polri untuk menahan diri demi masa depan anak-anak Papua khusunya di Intan Jaya.
“Atas nama pendidikan dan masa depan anak-anak kita, TPNPB-OPM harus mengurangi pergerakannya dan Pos TNI Raider 300 di Titigi dan Silatuga segera ditarik kembali,” kata Pastor Yosepph.
Hal itu ia utarakan melalui artikelnya berjudul “Pendidikan di Intan Jaya: Antara Konflik dan Harapan” yang ditayang di Jubi, media yang berbasis di Papua, pada 29 Februari 2024.
Dalam artikel itu menyebut, konflik yang terjadi antara kelompok pro-kemederdekaan Papua dan TNI-Polri “sungguh-sungguh menggerogoti proses pendidikan yang berlangsung.”
“Apa boleh dikata, konflik tidak hanya mengakibatkan kehilangan nyawa, tetapi sekaligus membunuh secara brutal masa depan anak-anak asli Intan Jaya,” kata dia.
Selama ini, terang dia, proses belajar-mengajar di semua sekolah, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA/SMK tidak berjalan baik. Ada sekolah yang hanya tinggal bangunan; ada yang hanya ada muridnya, tetapi tidak ada guru; ada juga yang ada gurunya, tetapi minim jumlah muridnya.
Ia menyebut contoh antara lain pada 2021 lalu SMP YPPK Bilai terpaksa dipindahkan ke pusat kabupaten di Sugapa; kemudian, mayoritas guru di SD YPPK Titigi, SD Inpres Mbugulo dan SMP Negeri Mbugulo terpaksa menetap dan mengajar sebagai guru pembantu di Sugapa; lalu, para guru dan murid terpaksa bermigrasi ke kabupaten tetangga, seperti Timika, Nabire dan Paniai, untuk menetap dan melanjutkan proses belajar-mengajar di sana.
Di Intan Jaya, kata dia, ada beberapa sekolah, anta lain di Distrik Sugapa terdapat 2 TK, 8 SD, 2 SMP dan 1 SMA; Distrik Hitadipa terdapat 1 TK, 3 SD, 1 SMP; Distrik Ugimba terdapat 1 SD; Distrik Tomosiga terdapat 1 SD; Distrik Agisiga terdapat 2 SD; Distrik Wandai terdapat 4 SD dan 2 SMP; Distrik Homeyo terdapat 2 TK, 10 SD, 2 SMP, 1 SMK, dan Distrik Biandoga terdapat 1 TK, 6 SD, 1 SMP.
Imam yang ditahbiskan tahun 2021 itu juga meminta pemerintah Kabupaten Intan Jaya dan Provinsi Papua Tengah untuk memberdayakan para guru, menciptakan akselerasi antara kompetensi dan metode pengajaran, serta sarana-prasarana yang dibutuhkan dalam proses belajar-mengajar.
“Dan yang paling penting adalah mengkomunikasikan situasi konflik Intan Jaya kepada pihak-pihak yang berkompeten, agar dicarikan solusi yang tepat,” kata dia.
Selain itu, mengajak para tokoh agama untuk konsisten mendidik umat Tuhan, baik itu melalui pengajaran dan ibadah di sekolah maupun melalui peneguhan iman di gereja.
“Menjadi guru merupakan salah satu dari tiga tugas Kristus yang harus kita tanggung secara konsekuen,” kata Yoseph.
Kepada orang tua murid serta tokoh masyarakat, ia mengatakan, “Guru dan para anak-anak kita sangat membutuhkan pendampingan dan perhatian dari kita.”
“Marilah kita bersama-sama mendampingi mereka dengan penuh cinta,” pungkasnya.


Discussion about this post