Minggu, April 12, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Headline

Paus Fransiskus: Seorang yang Sederhana

3 September 2024
in Headline, Pilihan Editor, Sosok
Reading Time: 6 mins read
Paus Fransiskus: Seorang yang Sederhana

Paus Fransiskus disambut dua anak kecil dengan pakaian adat Jawa dan Papua saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Selasa, 3 Sepetmber 2024. Foto: TIM MEDIA PERJALANAN PAUS 2024

Fransiskus Borgias

Dosen dan Peneliti Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Untuk menyongsong kedatangan dan kehadiran Paus Fransiskus selama beberapa hari di Indonesia [3-6 September 2024], saya mau membuat sebuah catatan. Inti dari catatan ini hanyalah percikan pengalaman dan ingatan terkait apa saja yang pernah masuk di dalam hidup saya selama beliau menjadi Paus.

Sebenarnya ada banyak sekali hal yang terpercik di dalam ruang ingatan saya. Tetapi, di sini, saya hanya akan mencatat beberapa hal yang menurut saya pantas dan penting untuk disharingkan kepada para pembaca.

Laudato Si dan Nilai Intrinsik Ciptaan

Baca Juga

Mengubah Dunia Menuju Peradaban Cinta Persaudaraan

Uskup Sibolga Bantah Terlibat dalam Ibadah Raya Paskah dari Kelompok Gereja Protestan; Minta Pencatutan Fotonya Ditarik Kembali

“Mendalam! Komprehensif! Kontekstual!” Pimpinan berbagai Tarekat Fransiskan Bicara tentang Buku Baru Karya Profesor Eddy Kristiyanto OFM

Sekelumit Pemikiran Paus Fransiskus dalam Buku Karya Mgr. Max Regus

Pertama, sejak tahun 2000-an, Lembaga Biblika Indonesia (LBI), setiap tahun menerbitkan buku yang merupakan kumpulan karangan dari para dosen Kitab Suci dari sekolah-sekolah tinggi ataupun seminari tinggi Katolik.

Khusus pada tahun 2019, setelah empat tahun lewat dari tahun 2015, para dosen-dosen Katolik yang mengajarkan Kitab Suci di lembaga masing-masing menerbitkan sebuah buku tentang lingkungan hidup. Karena yang tulis adalah para dosen Kitab Suci yang katolik, maka yang diangkat sebagai tema adalah teks-teks Kitab Suci yang dipakai Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si (yang sudah terbit pada tahu 2015).

Saya sendiri, sebagai salah satu dosen Kitab Suci di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, dan juga sebagai anggota LBI, menulis bab yang membahas tentang nilai-nilai intrinsik yang ada dalam setiap makhluk ciptaan. Kesadaran akan adanya nilai-nilai intrinsik itu bukanlah sebuah kesadaran modern belaka, melainkan sebuah kesadaran yang sudah lama ada dan hidup dan juga terekam di dalam teks Kitab Suci (Perjanjian Lama dan Baru).

Saya sendiri mendapat tugas untuk mendalami teks-teks biblika dari tradisi sastra hikmat. Saya tidak perlu memperlihatkan satu persatu lagi teks-teks itu di sini. Saya hanya mau mengatakan bahwa kesadaran akan adanya nilai-nilai intrinsik di dalam makhluk ciptaan adalah sebuah kesadaran di dalam hidup dan diri manusia, bahwa di dalam semua ciptaan ada nilai-nilai yang sudah ada di dalam masing-masing ciptaan itu di dalam tata ciptaan. Itu berarti nilai itu ada di sana karena kehendak Allah.

Itu penting agar jangan sampai manusia berpikir bahwa nilai-nilai itu ada demi kepentingan egoistik manusia. Karena nilai-nilai itu bersifat intrinsik, maka manusia tidak bisa mengklaimnya dengan sebuah pendekatan fungsional pragmatis, seakan-akan semua nilai itu ada demi manusia, demi kepentingan manusia. Tidak. Nilai-nilai itu sudah ada di dalam diri makhluk itu melampaui manusia itu sendiri.

Penekanan akan kesadaran ini penting jangan sampai nilai-nilai itu rusak atau hilang karena dilahap manusia dengan sangat rakusnya. Sebab kata Mahatma Gandhi, The earth is enough for every body’s NEED, but not enough for every body’s GREED.  Dengan sengaja saya menulis kedua kata ini [ NEED & GREED] dengan huruf besar. Tampak sangat mirip satu sama lain, tetapi maknanya berbeda sama sekali.

Teologi Rakyat dan Hidup Bersama Umat

Kedua, baru saja semester genap (2023-2024) lewat. Pada saat itu, saya membimbing proses penulisan tesis seorang mahasiswa magister dalam bidang ilmu teologi. Ia menulis dan mendalami tentang ensiklik Paus Fransiskus, khususnya yang terkait lingkungan hidup, yaitu Laudato Si dan kemudian diingatkan kembali dalam dokumen Laudate Deum.

Di dalam proses pembimbingan itu, ada banyak hal yang saya sadari berdasarkan studi mahasiswa tersebut. Antara lain, misalnya, bahwa sudah sejak sebagai seorang pastor muda, Bapa Suci sudah memilih tinggal di kawasan kumuh di Buenos Aires dalam rangka bisa memberi pelayanan yang luas dan mendalam terhadap orang-orang miskin kota dan orang-orang yang tersingkir di dalam percaturan hidup perkotaan itu sendiri. Itulah semacam pilihan fundamental hidup (optio fundamentalis) beliau. Ia tidak mau tinggal di kawasan perkotaan yang mewah dan serba wah. Melainkan ia memilih tinggal di tengah orang-orang miskin di kawasan kumuh.

Memang beliau itu orangnya sangat sederhana sejak muda dan hingga menjadi paus sekarang ini. Juga terkenal bahwa berbeda dari pilihan pendasaran refleksi teologis para uskup Amerika Latin pada umumnya, yang memilih arah orientasi teologi pembebasan (liberation theology), Bapa Suci Fransiskus, saat masih sebagai seorang pastor muda, memilih arah orientasi teologisnya ialah apa yang dikenal dengan sebutan teologi rakyat (theology of the people) yang dicanangkan oleh seorang teolog Argentina.

Pilihan arah dasar teologi ini berbeda dengan pilihan para uskup Amerika Latin pada umumnya, yang tiga tahun pasca Konsili Vatikan II, berkumpul di Medelin Colombia (1968) dan mencanangkan theology of liberation (yang antara lain dimotori oleh orang-orang seperti Gutierrez, Boff, Sobrino, dll). Kita semua tahu bahwa kemudian teologi ini, terutama dalam diri beberapa pentolannya seperti Leonardo Boff, “diawasi” kongregasi ajaran iman, hal mana menyebabkan adanya hubungan yang kurang begitu harmonis antara Amerika Latin dan Roma.

Tetapi, rupanya pilihan Uskup Bergoglio tidak begitu menjadi masalah bagi Roma [Kongregasi Ajaran Iman]. Dan lagi berbeda dengan teologi pembebasan yang mencanangkan preferential option for the poor [POFTP], teologi rakyat yang ditempuh Uskup Bergoglio mencanangkan sebuah langkah lebih lanjut, mungkin langkah kedua atau bahkan langkah ketiga pasca-POFTP tadi. Mengapa demikian? Karena POFTP mengandaikan masih adanya jarak antara si subjek POFTP itu dan kepada siapa optio itu ditujukan atau diarahkan. Masih perlu dua atau tiga langkah lagi untuk membuatnya sampai, mendarat. Perlu langkah untuk preferential option to live with the poor. Nah yang ini, sudah tidak ada lagi jarak spasial antara subjek optio itu dan “objek” optio tadi.

Kiranya itulah sebabnya dahulu pada awal tahun 80-an, Romo Mangun Wijaya, meminta izin khusus dan mendapatkan izin khusus itu, untuk hidup dan tinggal di tengah dan bersama warga Kali Code, sebuah kawasan di tengah kota Yogyakarta, yang saat itu terancam untuk digusur, tetapi mendapat perlawanan dari banyak tokoh. Romo Mangun mengancam, jika warga Code digusur, maka ia akan mogok makan. Ternyata gayung bersambut. Gus Dur juga bersuara: Jika Romo Mangun mogok makan demi membela warga Code, saya juga ikut mogok makan. Yang saya tahu, si pengacara kondang berambut putih (Adnan Buyung Nasution) pun bersuara: Jika Gus Dur mogok makan karena membela Romo Mangun mogok makan demi membela warga Code, maka saya pun ikut mogok makan. Begitu seterusnya. Maka ancaman penggusuran itu batal dan warga Code masih tetap ada di sana sampai sekarang dengan sebuah kesadaran hidup yang baru bersama Romo Mangun dan para pejuang kemanusiaan lainnya.

Memilih Nama Fransiskus

Ketiga, pada tahun 2013, saya menulis sebuah naskah buku terkait dengan teologi dan spiritualitas Fransiskan. Saya meminta Pater Niko Syukur Dister untuk menulis kata pengantarnya. Lalu saya kirim ke sebuah penerbit. Tetapi naskah itu ditolak, tidak jadi terbit. Tidak apa-apa. Tetapi saya mau mengungkapkan sedikit kata pengantar yang ditulis Pater Niko tentang buku itu.

Pada waktu itu, hampir bersamaan waktunya dengan terpilihnya Bapa Suci Fransiskus menjadi paus untuk menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri karena usia dan kesehatan. Begini tulis Pater Niko pada waktu itu. Saya tidak mengutip leterlek [harfiah], tetapi saya mencoba merumuskannya kembali dalam kata-kata saya sendiri.

Menarik sekali bahwa Kardinal Bergoglio, saat terpilih menjadi Paus, memilih nama Fransiskus sebagai nama kepausannya (nama pontifikalnya). Dan itu pun bukan Fransiskus Xaverius, sebagaimana diduga banyak karena, karena sang Kardinal adalah seorang Yesuit (ia menjadi Yesuit pertama yang menjadi paus, jadi, sangat historis). Melainkan ia memilih nama Fransiskus Assisi, pendiri ordo Fransiskan dengan pelbagai cabangnya (terutama sekali ordo pertama: OFM, OFMCap, OFMConv).

Konon ada sejarah kecil di balik pemilihan nama itu.  Di dalam ruang tertutup masa konklaf, para kardinal memilih nama-nama. Dan ketika sudah menjadi jelas, bahwa nama Kardinal Bergoglio-lah yang akan terpilih menjadi paus, dikatakan bahwa sahabatnya, Kardinal Claudio Humes [seorang pengikut Fransiskus Assisi—OFM] dari Sao Paulo, Brasil, mencondongkan badannya kepada sang Kardinal yang duduk di sampingnya dan membisikkan sesuatu. Konon sang Kardinal Humes berbisik: Jika Kardinal nanti yang terpilih menjadi paus, jangan lupakan orang-orang miskin. (Jadi, sebenarnya, Kardinal Humes hanya mengingatkan apa yang sudah beliau lakukan selama ini dalam hidup dan pelayanannya sebagai imam, uskup, dan kardinal yang melayani orang miskin dan tersingkir).

Tetapi kemudian Kardinal Bergoglio, saat sudah terpilih menjadi paus, pada suatu kesempatan, menceritakan adegan itu, di mana Kardinal Humes menyampaikan pesan di atas tadi. Kardinal Bergoglio (yang sudah menjadi paus saat itu) berkata: Saat sahabat saya itu membisikkan pesan kemanusiaan itu, saya sudah tahu nama apa yang akan saya pilih sebagai nama pontifikal saya. Dan nama itu ialah Fransiskus, si Miskin dari Assisi, Il Poverello, yang seluruh hidupnya adalah hidup dalam kemiskinan injili dan kemiskinan rasuli (vita evangelica et vita apostolica).

Penutup Singkat

Selamat Datang Bapa Paus ke negara kami, negara Pancasila ini. Kami di Indonesia menantikan kedatangannmu. Sebagai pemimpin dunia yang sangat karismatik, saya secara pribadi mengharapkan suaramu nanti mendatangkan aura kesejukan bagi hidup di dunia ini, hidup di Indonesia, dalam relasi antarbangsa, dalam relasi manusia dengan makhluk ciptaan lain.

Harus ada keadilan, harus ada cinta kasih, harus ada belas kasihan. Si vis pacem para iustitiam. Si vis pacem para misericordiam. Si vis pacem para caritatem. Ini saya hanya mengutip dari kedua pendahulumu, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus. Kiranya juga bergema kencang dalam dirimu, di dalam kalbumu sebagaimana tertampak dalam beberapa ensiklikmu, termasuk Fratelli Tutti yang terkenal dan fenomenal itu.

Walaupun saya tidak bisa datang ke GBK, karena faktor kesehatan, tetapi kita tetap bersatu di dalam gelombang doa-doa kita. Ya, kita bersatu di dalam gelombang doa-doa kita. Amin.

(Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di akun faca penulis @Fransiskus Dempol. Kemudian, atas izin penulis, diterbitkan ulang di Katoliknews.id untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.)

Tags: Kunjungan Paus FransiskusPaus FransiskusPaus ke Indonesia
SendShare28Tweet18Send
Next Post
[Renungan Minggu, 11 Februari 2024]  Menjadi Berkat bagi Sesama

Iman Mesti Dihayati dengan Mata Terbuka [Renungan Minggu, 8 September 2024]

“Kembali ke Karisma Asali”:  FMM Menyonsong Usia 150 Tahun 

“Kembali ke Karisma Asali”:  FMM Menyonsong Usia 150 Tahun 

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net