Pada permukaan, berita wafatnya Pater Prof. Dr. Nico Syukur Dister OFM pada 11 April 2026 di Belanda tampak seperti satu lagi kabar duka dalam Gereja. Seorang imam, seorang profesor, seorang misionaris berpulang. Narasi itu terasa cukup. Ia menutup dengan cepat. Ia memberi bentuk yang rapi pada sesuatu yang sebenarnya tidak rapi.
Namun, justru di situlah ada sesuatu yang mengganjal.
Karena, bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang lain yang tidak pernah mengenalnya secara pribadi, Pater Nico bukan sekadar sosok yang “berjasa”. Ia adalah seorang guru. Guru yang tidak pernah saya temui. Guru yang tidak pernah saya dengar suaranya secara langsung. Tetapi, sejak sekitar tahun 1990, ia perlahan, hampir tanpa terasa, membentuk cara saya memahami iman.
Dan kehilangan seperti ini tidak bisa ditangani dengan kalimat-kalimat yang terlalu cepat selesai.
Kalau saya menoleh ke belakang, semuanya tidak dimulai dari figur. Tidak ada wajah. Tidak ada perjumpaan. Tidak ada cerita personal. Yang ada hanya buku:
Pengantar Teologi.
Kristologi: Sebuah Sketsa.
Bapak dan Ibu sebagai Simbol Allah.
Filsafat Agama Kristiani.
Pengalaman dan Motivasi Beragama.
Filsafat Kebebasan.
Lalu Teologi Sistematika, yang datang seperti horizon yang perlahan terbuka.
Pada awalnya, itu hanya bahan bacaaan saya. Mungkin seperti banyak orang lain, saya membacanya karena kebutuhan. Untuk memahami. Untuk mengikuti. Untuk tidak tersesat dalam istilah-istilah yang terasa terlalu besar.
Tetapi lama-lama, sesuatu berubah. Buku-buku itu tidak hanya menjawab pertanyaan. Mereka mulai membentuk cara saya bertanya.
Dan di titik itu, saya mulai menyadari bahwa yang bekerja bukan sekadar isi, melainkan cara berpikir yang diam-diam ditanamkan.
Kalau harus dirumuskan secara singkat, mungkin seperti ini: Teologi Pater Nico bukan sekadar menjelaskan iman, tetapi juga melatih pembacanya untuk memegang iman tanpa kehilangan akal, tanpa kehilangan pengalaman manusia, dan tanpa kehilangan kebebasan batin.
Yang menarik, ia tidak pernah menyatakannya secara eksplisit sebagai proyek besar. Ia tidak tampil sebagai pemikir yang menawarkan sistem baru. Ia tidak membangun jargon yang memisahkan dirinya dari tradisi.
Justru sebaliknya.
Ia bekerja dari dalam tradisi, tetapi dengan satu kepekaan yang sangat kontekstual: bagaimana membuat teologi itu benar-benar bisa dipikirkan oleh manusia Indonesia yang hidup, dengan segala kompleksitas pengalaman, pendidikan, dan keterbatasannya.
Di sini letak perbedaannya menjadi jelas.
Ketika kita menyebut Agustinus, Aquinas, Bonaventura, atau Rahner, kita berbicara tentang arsitek besar dalam sejarah teologi universal. Mereka membangun kategori, bahasa, dan struktur pemikiran yang melampaui zaman mereka.
Pater Nico tidak berdiri di sana.
Ia melakukan sesuatu yang lebih sunyi, tetapi dalam konteks Indonesia, tidak kalah penting: ia menerjemahkan kedalaman itu ke dalam bahasa, struktur, dan ritme berpikir yang dapat dihidupi oleh pembaca Indonesia, tanpa mereduksinya menjadi dangkal.
Ia bukan pencipta sistem besar yang baru. Ia adalah pengolah sistem besar agar dapat benar-benar bekerja dalam kehidupan nyata umat.
Dan pekerjaan seperti ini jarang terlihat. Karena ia tidak spektakuler.
Tetapi tanpa itu, semua yang besar tetap jauh.
Kalau kita melihat kembali buku-bukunya dengan kacamata ini, polanya menjadi lebih jelas.
Dalam Pengantar Teologi, iman tidak dipaksakan sebagai paket siap pakai. Ia dibuka sebagai proses. Ada wahyu. Ada tanggapan manusia. Ada dinamika. Ada ruang untuk bergerak.
Dalam Kristologi, Yesus tidak dijelaskan sebagai konsep yang sudah selesai, tetapi sebagai misteri yang harus dipahami dalam sejarah, dalam iman Gereja, dan dalam pergulatan manusia.
Dalam Bapak dan Ibu sebagai Simbol Allah, bahasa tentang Allah tidak ditarik ke abstraksi yang tinggi, tetapi justru diturunkan ke pengalaman paling dekat: relasi manusia yang konkret. Ada keberanian di situ, tetapi juga ada kepekaan.
Dalam Pengalaman dan Motivasi Beragama, ia mengakui sesuatu yang sering kita hindari: bahwa iman juga memiliki dimensi psikologis. Bahwa manusia datang kepada Allah tidak hanya dengan rasio, tetapi juga dengan kebutuhan, dorongan, dan luka.
Dalam Filsafat Kebebasan, iman tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang membatasi, tetapi sebagai sesuatu yang harus menemukan tempatnya di dalam kebebasan manusia.
Dan dalam Teologi Sistematika, semua itu tidak hilang. Justru dirangkum. Disusun. Diberi bentuk yang utuh.
Namun, tetap dengan nada yang sama: tidak menguasai, tidak memaksa, tidak menutup ruang.
Kalau dibaca cepat, ini semua bisa terlihat seperti buku teks.
Tetapi kalau dibaca perlahan, yang terjadi sebenarnya adalah pembentukan.
Dan di situlah mekanismenya bekerja.
Ia tidak membentuk melalui otoritas personal, tetapi melalui struktur pemikiran yang berulang. Buku demi buku, tema demi tema, ia menanamkan satu cara melihat yang konsisten. Pembaca tidak merasa sedang diarahkan. Tetapi setelah beberapa tahun, ia menyadari bahwa cara berpikirnya sudah berubah.
Masalahnya bukan pada satu pembaca.
Masalahnya adalah bagaimana sebuah sistem pembelajaran iman di Indonesia membutuhkan jembatan antara doktrin dan pengalaman, antara ajaran dan rasionalitas, antara tradisi dan kehidupan sehari-hari.
Pater Nico, tanpa banyak deklarasi, membangun jembatan itu.
Yang membuatnya bertahan bukan hanya kekuatan intelektualnya, tetapi karena ia terasa masuk akal secara manusiawi.
Ia tidak memaksa iman menjadi kaku. Ia tidak membiarkan iman menjadi cair tanpa bentuk. Ia menjaga keduanya tetap tegang, tetapi tidak pecah.
Mungkin karena itu, sebagai seorang awam, saya tidak pernah merasa sedang “dididik” dalam arti sempit.
Saya merasa ditemani.
Itu kata yang paling mendekati.
Ditemani dalam memahami. Ditemani dalam bertanya. Ditemani dalam mencoba mengerti hal-hal yang sebelumnya terasa terlalu besar.
Pengalaman itu tidak berhenti di satu fase hidup.
Ketika saya menjalani program Master of Advanced Theology di Universitas Domuni, kehadiran itu justru menjadi semakin nyata. Bukan dalam bentuk figur yang hadir di ruang kuliah, tetapi dalam bentuk teks yang terus kembali saya buka. Buku-buku Pater Nico bukan lagi sekadar referensi. Ia menjadi semacam “ruang stabil” di tengah berbagai pendekatan teologi yang saya temui.
Di saat banyak pemikiran terasa kompleks, bahkan kadang terfragmentasi, tulisan-tulisan beliau memberi satu hal yang jarang: kejernihan tanpa penyederhanaan. Saya tidak merasa digiring untuk memilih posisi tertentu. Saya justru ditolong untuk melihat struktur dari dalam.
Dan mungkin di situlah letak kedalaman pendampingannya.
Ia tidak menggantikan proses belajar. Ia tidak mengambil alih pergulatan. Tetapi ia memastikan bahwa di dalam pergulatan itu, saya tidak kehilangan arah.
Di situlah letak kedalaman pendampingannya.
Pada titik itu, saya mulai melihat bahwa pengalaman ini tidak berdiri sendiri.
Pada masa-masa awal saya mendalami teologi, sekitar dekade 1990-an, ada dua nama yang secara konsisten membentuk cara saya membaca iman: Pater Nico Syukur Dister OFM dan Pater Cletus Groenen OFM. Keduanya hadir dengan cara yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Yang satu menata cara saya memahami iman secara sistematis, yang lain membuka kedalaman Kitab Suci dengan kejernihan yang tidak membebani.
Waktu itu, saya tidak pernah memikirkan mereka sebagai bagian dari suatu garis. Saya hanya membaca. Hanya belajar.
Tetapi sekarang, ketika melihat ke belakang, baru terasa bahwa yang bekerja sebenarnya lebih dari sekadar dua penulis. Ada suatu arus yang sedang membentuk.
Ternyata arus itu tidak berhenti.
Belakangan ini, saya melihat bahwa semangat yang sama hadir dalam suara-suara baru dari teolog Fransiskan Indonesia, seperti Prof. Dr. Eddy Kristiyanto OFM, Pater Andreas Atawolo OFM, dan teolog Fransiskan lainnya. Pendekatannya berbeda. Bahasanya lebih kontekstual. Pergulatannya lebih dekat dengan realitas hari ini.
Namun ada sesuatu yang terasa berlanjut.
Bukan dalam bentuk yang sama, tetapi dalam satu kesetiaan yang mirip: menjaga agar iman tetap bisa dipikirkan, tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya.
Di situ saya mulai menyadari bahwa yang saya alami selama ini bukan sekadar perjumpaan dengan buku-buku tertentu, tetapi masuk ke dalam suatu proses pembentukan yang lebih panjang.
Dan mungkin, tanpa saya sadari, Pater Nico adalah salah satu simpul yang paling menentukan dalam proses itu.
Di sinilah ironi itu muncul.
Seorang guru yang tidak pernah saya temui, justru menjadi salah satu yang paling konsisten membentuk saya.
Sementara banyak suara lain yang lebih dekat, lebih sering terdengar, bahkan lebih hadir secara fisik, tidak meninggalkan jejak yang sama.
Ada sesuatu di sini yang tidak bisa diabaikan.
Bahwa dalam kehidupan intelektual dan rohani, kedekatan fisik tidak selalu menentukan kedalaman pengaruh.
Bahwa teks bisa menjadi ruang perjumpaan yang lebih jujur daripada banyak percakapan.
Bahwa seorang guru bisa hadir tanpa pernah hadir secara fisik.
Tentu, kita bisa mengatakan bahwa relasi personal tetap penting. Bahwa pendidikan sejati membutuhkan tatap muka. Bahwa pembentukan iman tidak cukup dengan membaca.
Semua itu benar.
Tetapi tidak lengkap.
Karena kenyataannya, banyak orang justru dibentuk secara mendalam oleh mereka yang tidak pernah mereka temui. Oleh kalimat-kalimat yang mereka baca sendiri. Oleh pemikiran yang masuk perlahan, tanpa tekanan, tanpa paksaan.
Dan di situ, saya melihat bentuk kerasulan yang berbeda.
Bukan kerasulan yang terlihat. Bukan yang diukur dari jumlah perjumpaan. Tetapi yang bekerja dalam keheningan.
Dalam konteks Indonesia, karya seperti ini tidak mudah digantikan.
Karena ia tidak hanya menghasilkan buku. Ia menghasilkan pembaca yang berpikir.
Dan pembaca seperti itu, cepat atau lambat, akan membentuk orang lain lagi.
Maka kehilangan ini terasa aneh. Tidak dramatis. Tidak meledak. Tetapi dalam.
Seperti menyadari bahwa sesuatu yang selama ini menopang cara kita berpikir, tiba-tiba sudah tidak lagi hadir di dunia yang sama.
Namun mungkin, di situlah letak ketenangannya.
Bahwa seorang guru seperti Pater Nico tidak benar-benar pergi dalam arti yang biasa kita pahami.
Ia tetap ada, dalam cara kita memahami iman. Dalam cara kita membaca. Dalam cara kita mencoba menjaga keseimbangan antara akal, pengalaman, dan kepercayaan.
Dan mungkin pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang siapa beliau, atau seberapa besar jasanya.
Melainkan ini.
Jika kita telah dibentuk oleh seorang guru yang tidak pernah kita temui, apakah kita sendiri sedang menjadi bagian dari proses pembentukan itu bagi orang lain, dengan cara yang sama sunyinya… namun mungkin sama dalamnya?)***

Raymond R. Tjandrawinata, Prof, PhD, MASTh. Penulis adalah seorang Farmakolog dan Guru Besar di Unika Atmajaya, Jakarta.



Discussion about this post