Oleh: SP Lili Tjahjadi
Katoliknews – Saya terus terang tidak memiliki kesedihan mendalam saat membaca berita resmi dari OFM Provinsi St. Mikael Malaikat Agung Indonesia: Pater Nico (87 tahun) telah “dijemput Saudari Maut Badani” pada Sabtu, 11 April 2026 yang lalu. Mengapa? Sebab saya yakin, dengan segala keutamaan insaninya, orang ini sudah menyelesaikan tugas dan hidupnya secara paripurna. Maka kini ia pun sudah siap menyongsong penuh syukur kematiannya masih pada masa oktaf Paskah. (“Syukur” adalah nama Indonesia yang telah dipilihnya: nomen est omen, nama adalah pratanda!). Realitas tak-terhindarkan yang oleh St. Fransiskus sendiri disapa seraya dipeluk sebagai “Saudari” ini akan mengantar Fransiskan Nico kembali kepada Allah, asal dan tujuan hidupnya. Bukankah akan merupakan tatapan yang membahagiakan bagi Pater Nico, jika ia kini bisa melihat wajah-dengan-wajah Sang Misteri yang menyatukan “coincidentia oppositorum” (terjadinya segala peristiwa yang bertentangan – N. Cusanus) dalam diri-Nya? Bukankah ini hal yang direnangi dan direnungi oleh Pater Nico dengan jiwa yang gelisah selama ini, sampai ia akhirnya kini menemukan istirahat di dalam Dia?
Saya bersyukur, saya pernah mengenal dan mengalami kebersamaan dengan Pater Nico. Ingatan saya menerawang mundur ke masa lalu saat masih menjadi mahasiswa teologi pada STF Driyarkara 1985-1989. Waktu itu Pater Nico mengajarkan mata kuliah Sakramentologi, Eskatologi, dan Soteriologi. Pendekatannya adalah dari sisi dogmatik dari ajaran Gereja menyangkut semua bidang itu. Sedangkan pendekatan dari sisi biblisnya diberikan secara terpisah oleh Pater Cletus Groenen OFM. Pada semua bidang itu saya mengenal Pater Nico sungguh sebagai seorang Pendidik yang mumpuni. Ilmu-ilmu itu bagi kami mahasiswa merupakan fak mayor dan berat. Tetapi dengan kemampuan didaktiknya, Pater Nico mampu menjelaskan perkara-perkara teologis di situ itu sedemikian rupa, sehingga kami bisa memahaminya dengan baik. Ia sungguh membantu memudahkan perkara yang sulit, bukan mempersulit perkara yang mudah, sebagaimana mungkin lazim dibuat demikian oleh dosen-dosen tertentu untuk memamerkan kepiawaiannya. Bukan itu saja: Pater Nico mampu membangkitkan kuriositas lebih jauh pada aneka posisi dan bahan yang sedang kami pelajari. Maka begitulah waktu itu kami terbiasa dengan pemikiran Rahner, Pannenberg, Metz, Boff, Schileebeeckxz, dll. Teologi jadi mengasyikkan. Waktu istirahat menjadi waktu asyik berdiskursus.
Saat kami kemudian melanjutkan studi Teologi di Kentungan, Yogyakarta, diktat dan penjelasan dari Pater Nico kami pakai untuk memahami tesis-tesis yang diujikan pada fase terakhir dalam studi kelompok bersama rekan-rekan mahasiswa dari sana. Mereka heran dan bilang, kok penjelasan atas tema-tema teologis yang kami sampaikan berdasarkan sumber dari Romo Nico menjadi terasa lebih mudah dipahami dibandingkan penjelasan mengenai hal yang sama dari dosen mereka yang malah terkesan rumit dan njlimet? Mereka lalu menjadikan sumber dari Romo Nico sebagai panduan studi mereka.
Masih ada satu lagi hal mengesankan tentang Pater Nico saat mengajar di STF. Itu adalah saat ia mengoreksi hasil ujian kami di akhir semester. Tentu ada saja jawaban yang entah bagaimana kurang tepat diberikan mahasiswa, maka perlu dikoreksi. Namun Pater Nico memahami “koreksi” dalam artinya yang harfiah, artinya “membuat correct, (betul) apa yang tidak tepat”. Lantas apa yang Pater Nico lakukan? Jika ada kesalahan dalam memberikan jawab, Pater Nico akan menuliskan sendiri pada lembaran jawaban kami apa yang betul (correct) dari perkaranya. Dan koreksi ini sering terasa panjang-lebar, sehingga kami mengerti sungguh-sungguh di mana letak kesalahan yang telah kami lakukan. Ia lalu memasukkan lembar jawaban kami itu bersama hasil koreksiannya dalam suatu amplop, dan kemudian menghantar sendiri amplop itu dengan sepeda onthelnya ke asrama komunitas kami satu per satu. Bayangkan! Pada akhir semester, terhadap “kerja” ala Pater Nico seperti ini, maka Pater Groenen OFM, kolega Pater Nico, pernah memberi komentar: “Nico sudah membuat banyak diktat dengan cara kerja seperti itu!”
Hari ini adalah hari keempat Pater Nico, dosen favorit kami memasuki hidup abadi. Selamat jalan, Pater! Selamat mengalami pax et bonum dalam curahan cinta Tuhan!
*Penulis adalah Rektor dan Dosen STF Driyarkara, Jakarta.

Discussion about this post