Selasa, April 14, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Berita Nusantara

St Klara dan Cahaya Ilahi

11 Agustus 2016
in Nusantara
Reading Time: 3 mins read
St Klara dan Cahaya Ilahi

Yornes Panggur OFM

Oleh: Yornes Panggur OFM, seorang Fransiskan, sedang menjalankan masa diakonat di Paroki Cianjur, Jawa Barat

“May the Lord show His mercy upon you; May the light of His presence be your guide; May He guard you and uphold you; may His Spirit be ever by your side”

Demikianlah penggalan lagu ‘A Clare Benediction’ karya Johnn Rutter (1998). Lagu dengan perpaduan antara coral klasik dan harmoni kontemporer itu sangat teduh di telinga.

Jika Saudara sedang berdoa, lagu ini sangat meneguhkan dan meneduhkan, seolah cahaya kebaikan memenuhi diri saudara.

Saudara akan siap diutus dan wajah Allah selalu memandang saudara.

Baca Juga

Nico Syukur Dister OFM, sang Teolog Itu Berpulang

Uskup Sibolga Bantah Terlibat dalam Ibadah Raya Paskah dari Kelompok Gereja Protestan; Minta Pencatutan Fotonya Ditarik Kembali

PGI Kecam Penyegelan Tempat Ibadah di Tangerang Usai Ibadah Jumat Agung

Romo Lorens Sopang: Rumah Keuskupan Merupakan Simbol Tanggung Jawab Besar Uskup

Clara (clare) adalah kosa kata latin yang berarti ‘terang’ atau ‘cahaya’ (Italia: Chiara). Kata ‘clara’ atau ‘clare’ mengingatkan kita pada nama St. Clara dari Assisi (1193-1253). Dara bangsawan Assisi yang jatuh cinta pada Yesus berkat cara hidup si filsuf Injil, Fransiskus dari Assisi (1182-1226).

St. Fransiskus menyebut Klara sebagai ‘fioretti’, nama yang terlebih dahulu disematkan kepada kuntum-kuntum kecil  bunga di lereng Assisi.

Dari kesederhanaan dan kesahajaannya, kuntum-kuntum kecil itu memberi keindahan tersendiri yang tiada duanya di muka bumi. Klara adalah alasan mengapa hal-hal kecil selalu berharga.

Bagi Fransiskus, Klara adalah Fioretti, yang mungkin tak dikenal dunia yang riuh-ramai. Ia seumpama bunga bakung di padang, mungil dan tidak dihiraukan orang, namun tetap saja tiada duanya, hanya sekali dalam kehidupan serta tak tergantikan.

Salomo dalam kemegahnya tetap saja tidak mampu menggantikannya.

Klara membangkitkan optimisme manusia. Ia melawan pesimisme, menegur narsisme, dan membangkitkan keyakinan diri.

Klara, sang Fioretti, adalah prototipe manusia yang rendah hati dan miskin. Ia menyimpan kekayaan Ilahi dalam kesederhanaan dan kesahajaan.

Dewasa ini, semangat St. Klara tetap hidup dan terpelihara dalam keheningan dan kontemplasi para suster2 Ordo Sancta Clara (OSC).

Mereka lebih dikenal sebagai  saudari-saudari atau suster-suster Klaris.

Ordo Santa Clara adalah ordo Kedua Fransiskan namun tidak seperti Ordo Pertama (OFM, OFMCap, dan OFM Conv) dan ordo Ketiga (OSF, FMM, FSGM, OFS, MTB, dst.) yang aktif, para suster Klaris hidup dalam kontemplasi.

Seluruh hidup dituntaskan bersama Allah dalam doa dan kebaktian suci.

Barangkali terbesit pikiran: bagaimana bisa ajakan Yesus untuk ‘pergi ke tengah dunia dan wartakanlah Injil’ dapat diaktualisasikan para Klaris dan para rubiah kontemplatif pada umumnya?

Ketika seorang menyeberangi padang gurun dan kehabisan air, oase adalah harapan satu-satunya untuk dijumpai.

Klara dan kontemplatif-nya adalah oase manusia zaman ini. Materi tidak cukup menghapus dahaga manusia karena ia juga adalah makhluk rohani. Manusia membutuhkan asupan rohani. Para pengikut St. Klara adalah oase rohani.

Setiap waktu mereka berdoa, bukan lagi untuk kekudusan mereka, melainkan untuk saudara dan saudarinya yang merantau dan menjadi musafir di dunia ini.

Selanjutnya, kita juga dapat secara khusus belajar dari pribadi Klara. Ia adalah lambang kepekaan mata hati untuk melihat dunia secara bening lewat keheningan doa.

Memandang dunia akhirnya bukan melulu soal bagaimana berhadapan dengan kenyataan material yang tampak saja melainkan juga soal kepekaan dan kebeningan hati sebelum bersikap.

Klara mengingatkan kita agar menyediakan waktu dan perhatian barang sejenak untuk hening, berdoa dan berpikir jernih sebelum berusaha. Barangkali, itulah yang masih kurang dalam dunia kita yang serba cepat dan panik ini.

Banyak saudara dann saudari menghabiskan waktu berjam-jam di dalam bus TransJakarta atau mobil pribadi atau sepeda motor. Pikiran kacau, emosi labil, jenuh, lelah, dan sebagainya bercampur baur. Saat hening menjadi sulit.

Namun, tak bisa disangkal, kebisingan kota tidak mampu memadamkan gerak refleksi dalam hati. Kita selalu bertanya tentang arti kehidupan ini dan makna di balik setiap kerja keras.

Dalam ruang refleksi itu, kita butuh cahaya/terang (clara, clare, chiara) agar apa pun situasi kita, ada makna yang bisa kita petik. Jika tanpa cahaya Allah, semuanya memang akan absurb. Hidup akan hambar dan penuh keluh kesah.

Semoga, sosok Klara dan pengalaman akan cahaya Ilahi bukan hanya rahmat milik Bunda Klara dan para saudarinya.

Semoga, cahaya kebaikan (clare benediction) juga menyinari hati dan langkah kita semua, kapan dan dimanapun. “May the light of His presence be our guide”.

Santa Klara, doakan kami. Amin.

Cianjur, 11 Agustus 2016, Pesta St. Klara dari Assisi

Tags: St Fransiskus AssisiSt Klara
SendShare147Tweet86Send
Next Post
Uskup Bogor: Gereja Selalu Memberi Tempat Pada Inkulturasi

Uskup Bogor Sebar Lewat Facebook Surat Gembala Tentang Katekese

Paus Makan Siang dengan 21 Pengungsi dari Suriah

Paus Makan Siang dengan 21 Pengungsi dari Suriah

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net