Jumat, Oktober 2, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Berita

Bahas Pendidikan Multikultural, Pimpinan Yayasan Katolik Gelar Diskusi di Papua

22 November 2018
in Berita, Headline, Nusantara
Reading Time: 2 mins read
Bahas Pendidikan Multikultural, Pimpinan Yayasan Katolik Gelar Diskusi di Papua

Pimpinan lembaga pendidikan Katolik seluruh Indonesia menggelar diskusi hari studi terkait penguatan pendidikan karakter berbasis multikultural di Jayapura, Papua, 23-25 November 2018.

Acara diskusi ini bertema “Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Multikultural Menuju Peradaban Kasih”, dan akan dihadiri oleh 250 peserta dari seluruh keuskupan di Indonesia.

Dikutip dari siaran pers di laman Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), acara ini merupakan salah satu agenda dari MNPK, sebuah organisasi mitra Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

MNPK bertugas mengkoordinasi yayasan-yayasan serta sekolah-sekolah Katolik tingkat PAUD-SMA/SMK.

Menurut Ketua Presidium MNPK, Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, dimensi multukultural sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter.

Baca Juga

Mengapa Jakarta? FABC XII dan Relevansi Indonesia bagi Asia

Sekelumit tentang Buku “Inkarnasi Biologis”, Karya Ilmuwan Katolik Indonesia

Sosok Uskup Agung Walter Erbi, Nunsius Apostolik Baru untuk Indonesia

Breaking News: Paus Leo XIV Tunjuk Uskup Kelahiran Turin Jadi Dubes Vatikan untuk Indonesia

“Tentu saja, MNPK mengakui bahwa pendidikan karakter berbasis multikultural sudah dilaksanakan di setiap lembaga pendidikan Katolik,” katanya di Jayapura, Kamis, 22 November 2018.

“Mendiskusikan secara khusus tema ini menegaskan sekaligus dua hal, yakni tekad untuk mengambil bagian dan menyukseskan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang sudah dicanangkan pemerintah serta memberi corak yang jelas bagi penerapan PPK itu dalam lembaga pendidikan Katolik, yaitu sesuai konteks Indonesia yang multikultural dan dengan inspirasi dari iman Katolik, khususnya dari Ajaran Sosial Gereja,” lanjutnya.

Ia menambahkan, pendidikan karakter juga sangat relevan dengan situasi Indonesia saat ini yang masih digerogoti intoleransi, kekerasan atas nama agama serta berkembangnya hoaks yang mengarah pada perpecahan.

“Sayangnya di tengah kondisi demikian, lembaga-lembaga pendidikan yang diharapkan menjadi benteng pertahanan terpeliharanya prinsip-prinsip dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti penghargaan terhadap keberagaman, toleransi dan terpancarnya peradaban kasih yang mewujud dalam harmoni, semakin rapuh,” katanya.

“Institusi-instusi pendidikan justeru menjadi bagian dari masalah, sebagaimana ditunjukkan dalam survei-survei berbagai lembaga swadaya masyarakat, di mana sekolah juga menjadi lahan berkembangnya radikalisme dan ekstrimisme,” tambahnya.

Ia menjelaskan, melalui kegiatan hari studi ini, lembaga-lembaga pendidikan Katolik ingin memperkuat diri agar steril dari bahaya-bahaya itu serta terus berikhtiar mengambil bagian dalam menghidupkan nilai-nilai karakter bangsa, sebagaimana yang termaktub dalam Pancasila.

“Selama hari studi ini, kami akan menggali inspirasi-inspirasi dari kekayaan budaya dan tradisi, serta dari Ajaran Sosial Gereja sendiri tentang hal-hal yang perlu terus dikembangkan di sekolah Katolik serta bisa ditularkan kepada sesama anak bangsa demi menyukseskan misi kita bersama, yakni menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama yang aman dan damai, sehingga di dalamnya anak-anak bangsa bisa berkembang dan bertumbuh dengan baik dan memiliki kesempatan yang sama pula dalam berjuang mewujudkan Indonesia yang maju dan makmur,” katanya.

Sementara itu, ketua panitia pelaksana Silvester Lobya mengatakan, diskusi soal pendidikan karakter ini juga merupakan bagian dari keperihatinan atas ketimpangan yang cukup menguat dalam praktek pendidikan saat ini.

“Pendidikan kita lebih mengedepankan penguasaan aspek kognitif dengan tujuan meningkatkan mutu lulusan lewat capaian hasil ujian nasional atau lulus dengan nilai akademik yang memadai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sementara pendidikan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri anak bangsa semakin terpingirkan,” kata Direktur Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Kota/Kabupaten Jayapura itu.

Selain itu, kata dia, rapuhnya karakter dan budaya bangsa dalam kehidupan berbangsa, bisa membawa kemunduran peradaban bangsa.

“Padahal, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu bangsa dan negara,” tegas Silvester.

Rangkaian acara hari studi akan dibuka secara resmi pada Jumat, 23 November dengan Misa yang dipimpin oleh Uskup Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar OFM.

Acara ini juga akan dihadiri oleh Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe dan Walikota Jayapura, Benhur Tomi Mano.

Katoliknews

Tags: Hari StudiKetua Presidium Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFMMajelis Nasional Pendidikan KatolikMNPKPendidikan Karakter MultikulturalYayasan Katolik
SendShare32Tweet20Send
Next Post
Kembali Kritik Gereja, Presiden Filipina Sebut Uskup dan Iman Idiot

Kembali Kritik Gereja, Presiden Filipina Sebut Uskup dan Iman Idiot

Tolak Hukuman Mati, Sant’Egidio Labuan Bajo Gelar Aksi Damai

Tolak Hukuman Mati, Sant'Egidio Labuan Bajo Gelar Aksi Damai

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net