Senin, Juni 22, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Headline

Kesuksesan Jacob Oetama dan Nasehat Seorang Imam Fransiskan

27 September 2016
in Headline, Sosok
Reading Time: 3 mins read
Kesuksesan Jacob Oetama dan Nasehat Seorang Imam Fransiskan

Jacob Oetama. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama, genap berusia 85 tahun pada hari ini, Selasa, 27 September 2016.

Menjadi guru merupakan cita-cita awal seorang Jakob Oetama. Cita-cita itu muncul bersamaan dengan keinginannya menjadi pastor.

Karena itu, saat memutuskan tak melanjutkan seminari tinggi untuk menjadi pastor, Jakob memulai profesi sebagai seorang guru.

Ayah Jakob, Raymundus Josef Sandiya Brotosoesiswo, berprofesi sebagai seorang guru Sekolah Rakyat. Mungkin alasan itu yang melatarbelakangi keinganan Jakob untuk menjadi guru. Namun, tentu faktor ayah bukan satu-satunya alasan. Di mata Jakob, guru merupakan profesi mulia.

“Karena guru saya lihat sebagai profesi yang mengangkat martabat,” kata Jakob, dikutip dari buku Syukur Tiada Akhir (2011) dan dilansir Tribunnews.com.

Baca Juga

Persekolahan Fransiskus: Rumah untuk Murid Miskin Kota

[Renungan Harian Senin, 22 JUNI 2026] Menolak Benci dan Gosip

Menjadi Saksi Tuhan yang Militan

Lawatan Paus ke Spanyol: Ini Jawabannya Ketika Ditanya Dukung Madrid atau Barcelona?

Namun, setelah beberapa lama menjalani profesi sebagai guru, Jakob merasa tertarik dengan profesi lain: menjadi wartawan. Ketertarikan ini muncul karena kegemaran Jakob menulis, terutama setelah belajar ilmu sejarah.

Minat menulis itu makin tumbuh saat dia melanjutkan ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga lulus pada 1961.

Apalagi, Jakob kemudian bekerja sebagai sekretaris redaksi majalah Penabur sejak 1956. Di majalah mingguan itu dia melaksanakan pekerjaan pemimpin redaksi, yang membuat pengetahuannya semakin kaya di bidang jurnalistik.

Persimpangan pilihan untuk meninggalkan profesi guru semakin terlihat nyata. Setelah lulus B-1 Sejarah dengan nilai rata-rata 9, Jakob direkomendasi untuk memperoleh beasiswa di University of Columbia, New York, Amerika Serikat.

Rekomendasi itu diberikan oleh salah satu guru sejarahnya yang juga pastor Belanda, Van den Berg SJ. Arahannya, Jakob akan mendapat gelar Ph.D dan kelak menjadi sejarawan.

Dengan menjadi sejarawan, minat Jakob dalam hal menulis akan semakin dapat disalurkan.

Tawaran yang bergengsi, mengingat universitas itu merupakan salah satu kampus bergengsi yang masuk jajaran Ivy League, salah satu dari delapan kampus top di AS.

Di tengah keraguan itu, menurut Jakob, dia pun melamar sebagai dosen di Universitas Parahyangan, Bandung, Jawa Barat.

Lamaran diterima, pihak universitas malah juga menyiapkan rumah dinas di Bandung.

Tidak hanya itu Unpar juga akan memberi rekomendasi, setelah beberapa tahun mengajar Jakob dapat menyelesaikan Ph.D di Universitas Leuven, Belgia.

“Antara mengajar sebagai dosen atau menjadi wartawan, dua alternatif yang sama-sama menarik,” kenang Jakob. “Guru sudah banyak…”

Jakob Oetama kemudian menentukan pilihannya saat berbicara dengan Pastor JW Oudejans OFM. Pastor Oudejans disebut Jakob sebagai orang di balik Penabur.

Suatu ketika, Pastor Oudejans bertanya, profesi apa yang ingin ditekuni Jakob. Dengan yakin, Jakob pun menjawab, “Jadi dosen”.

Namun, Oudejans memberikan sebuah pernyataan yang mengubah pandangan Jakob ketika itu.

“Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak.”

Jawaban itu seakan menjawab kebimbangan Jakob saat berada di persimpangan pilihan. Saat itu, Jakob pun memilih untuk, “menjadi wartawan profesional, dan bukan guru profesional”.

“Orang inilah yang mengubah hidup saya,” demikian pandangan Jakob terhadap Oudejans.

Ada sosok lain yang semakin memperkuat peran Jakob di dunia jurnalistik dan sebagai wartawan. Sosok itu adalah PK Ojong.

Salah satu momentum peristiwa itu terjadi pada April 1961, menjelang Jakob lulus dari Universitas Gadjah Mada. Ojong mengajak Jakob menemui Pemimpin Umum Star Weekly, Khoe Woen Sioe.

Kepada Khoe, Ojong menilai Jakob sebagai sosok tepat untuk menggantikan dia sebagai pemimpin redaksi Star Weekly.

Ojong saat itu dikenal sebagai sosok yang tidak disukai pemerintah, dan ini menjadikan Star Weekly memiliki tanda-tanda akan ditutup.

Akan tetapi, Jakob menolak tawaran itu dengan alasan masih fokus untuk menyelesaikan kuliah.

Namun, Ojong tidak berhenti di situ. Tak lama kemudian, dia menemui Jakob di Yogyakarta untuk mengajak membuat majalah baru.

Dengan prototipe seperti majalah Reader’s Digest, Ojong menawarkan konsep media dengan konten berisi sari pati ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

Hingga kemudian, lahirlah majalah Intisari pada Agustus 1963.

Intisari menjadi buah pertama yang dihasilkan dari duet Jakob Oetama-PK Ojong. Duet ini nantinya melahirkan Harian Kompas, juga grup Kompas Gramedia.

Mengenai Ojong, dari sosok itu juga Jakob belajar banyak untuk menjadi seorang wartawan.

Ojong menjadi salah satu sosok yang membuatnya mendapat “pencerahan”, dan tidak membuat dia menyesal telah memilih jalan sebagai seorang wartawan.

Tags: Jacob OetamaKompas
SendShare234Tweet94Send
Next Post
Vatikan Restui Pengunduran Diri Uskup Maumere

Vatikan Restui Pengunduran Diri Uskup Maumere

Hari Ini, OMK Peserta IYD Mulai Tiba di Manado

Hari Ini, OMK Peserta IYD Mulai Tiba di Manado

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net