Sabtu, Agustus 15, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Berita

Paus pada Misa Krisma: Dear para Imam, Biarlah Kesedihan Menguduskan Engkau

Dalam Misa Krisma di Vatikan pada hari Kamispagi, Paus Fransiskus mengucapkan terima kasih kepada para imam atas kesaksian luar biasa mereka, namun ia juga mendesak mereka untuk mengubah kekurangan, kesalahan, dan hati yang mengeras menjadi sebuah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Kristus dan memulai hidup baru, seperti yang dilakukan Santo Petrus.

28 Maret 2024
in Berita, Headline, Vatikan
Reading Time: 5 mins read
Paus pada Misa Krisma: Dear para Imam, Biarlah Kesedihan Menguduskan Engkau

Misa Krisma di Vatikan. Foto: Vaticannews

Katoliknews – “Terima kasih, para imam terkasih, atas keterbukaan dan ketaatan hati kalian. Terima kasih atas semua kerja keras dan air mata kalian. Terima kasih, karena kalian membawa mukjizat kemurahan Tuhan kepada saudara-saudari kita di dunia saat ini. Semoga Tuhan menghibur kalian, menguatkan kalian, dan memberi kalian hadiah.”

Melansir Vaticannews, Paus Fransiskus memberikan dorongan ini pada Kamis pagi  [28 Maret 2024] saat Misa Krisma di Basilika Santo Petrus.

Dalam homilinya, Paus merenungkan bagaimana Santo Petrus, Paus pertama Gereja kita, kehilangan pandangan akan Kristus dan menyangkal Dia sebanyak tiga kali. Dalam penyesalannya, Paus Fransiskus mengatakan, mata Petrus dibanjiri dengan air mata yang “muncul dari hati yang terluka, membebaskan dia dari gagasan-gagasan palsu dan rasa percaya diri.”

“Air mata pahit itu,” kata Paus Fransiskus, “mengubah hidupnya [Petrus-red].”

“Saudara-saudara para imam yang terkasih, kesembuhan hati Petrus, kesembuhan Rasul, kesembuhan pastor,” kata Paus Fransiskus, “terjadi ketika dalam kesedihan dan pertobatan, dia membiarkan dirinya diampuni oleh Yesus. ”

Baca Juga

Mengapa Jakarta? FABC XII dan Relevansi Indonesia bagi Asia

Sekelumit tentang Buku “Inkarnasi Biologis”, Karya Ilmuwan Katolik Indonesia

Sosok Uskup Agung Walter Erbi, Nunsius Apostolik Baru untuk Indonesia

Breaking News: Paus Leo XIV Tunjuk Uskup Kelahiran Turin Jadi Dubes Vatikan untuk Indonesia

Dia mengatkan, penyembuhannya terjadi di tengah air mata dan tangisan pahitlah yang menuntun pada cinta yang diperbarui.

Kamis Suci pada “Tahun Doa” ini, Paus mengatakan, dia ingin berbagi dengan rekan-rekan imamnya, pemikiran tentang aspek kehidupan rohani yang, katanya, agak diabaikan, namun tetap penting.

“Bahkan kata yang akan saya gunakan agak kuno, namun layak untuk direnungkan. Kata itu adalah penyesalan.”

Penyesalan, ‘menusuk hati’

Istilah penyesalan, kata Paus Fransiskus, melibatkan “penusukan hati” yang menyakitkan, yang membangkitkan air mata pertobatan, seperti yang terjadi pada Santo Petrus.

Paus Fransiskus menjelaskan, bukan rasa bersalah yang membuat kita putus asa atau terobsesi dengan ketidaklayakan kita, namun “penusukan” bermanfaat yang menyucikan dan menyembuhkan hati.

Begitu kita menyadari dosa kita, Paus Fransiskus berkata, “hati kita dapat terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus, sumber air hidup yang mengalir dalam diri kita dan membuat kita berlinang air mata.”

Mereka yang bersedia “terbuka kedoknya” dan membiarkan pandangan Tuhan menembus hati mereka, kata Paus, menerima anugerah air mata, air tersuci setelah baptisan.

Namun, tegasnya, kita perlu memahami dengan jelas apa artinya menangisi diri kita sendiri.

“Ini tidak berarti menangis karena mengasihani diri sendiri, seperti yang sering kita lakukan.”

Sebaliknya, menangisi diri sendiri, jelasnya, “berarti sungguh-sungguh bertobat karena telah membuat Tuhan sedih karena dosa-dosa kita; menyadari bahwa kita selalu berhutang kepada Tuhan, mengakui bahwa kita telah menyimpang dari jalan kesucian dan kesetiaan menuju kasih kepada Yang Esa, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.”

Bertobat dari rasa tidak bersyukur

Mengalami hal ini [penyesalan], kata Paus Fransiskus, berarti “mencari ke dalam dan bertobat atas sikap tidak berterima kasih dan ketidakkekalan kita,” dan “mengakui dengan sedih kepalsuan, ketidakjujuran, dan kemunafikan kita.”

Mengalihkan pandangan kita sekali lagi kepada Tuhan yang Tersalib, dan membiarkan diri kita disentuh oleh kasih-Nya, yang selalu mengampuni dan membangkitkan, kata Paus, “jangan pernah mengecewakan kepercayaan mereka yang berharap kepada-Nya.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa air mata yang mengalir di pipi kita, “turun untuk menyucikan hati kita,” seraya menekankan bahwa meskipun penyesalan menuntut usaha, hal itu selalu memberikan kedamaian.

“Hal ini bukan merupakan sumber kekhawatiran, melainkan sumber kesembuhan bagi jiwa, karena hal ini berfungsi sebagai balsam atas luka dosa, mempersiapkan kita untuk menerima belaian tabib surgawi, yang mentransformasikan yang “rusak, hati yang menyesal,” yang telah dilunakkan oleh air mata.”

Menjadi seperti anak-anak

Para ahli kehidupan rohani, kenang Bapa Suci, menegaskan pentingnya penyesalan, sebagaimana ia mengingatkan bahwa semua pembaruan batin lahir dari perjumpaan antara kesengsaraan manusia dan belas kasihan Tuhan, dan berkembang melalui kemiskinan roh, yang memungkinkan Roh Kudus memperkaya kita.

“Saudara-saudara imam,” kata Paus, “marilah kita melihat ke dalam diri kita sendiri dan bertanya pada diri kita sendiri apa peran penyesalan dan air mata dalam pemeriksaan hati nurani dan doa-doa kita,” dan khususnya apakah, dengan berlalunya waktu, air mata kita semakin bertambah.

Paus menyesalkan bahwa semakin tua kita, semakin sedikit kita menangis, dan sebaliknya, “kita diminta untuk menjadi seperti anak-anak.”

“Jika kita tidak menangis,” Bapa Suci memperingatkan, “kita mengalami kemunduran dan menjadi tua,” sedangkan “mereka yang doanya menjadi lebih sederhana dan lebih dalam, berlandaskan pemujaan dan kekaguman di hadirat Tuhan,” kata Paus, “tumbuh dan dewasa.”

“Mereka menjadi kurang terikat pada diri mereka sendiri dan lebih terikat pada Kristus,” katanya.

Terikat pada Kristus

Paus kemudian membahas solidaritas sebagai aspek lain dari penyesalan.

“Hati yang patuh, terbebaskan oleh semangat Sabda Bahagia,” kata Paus, “secara alamiah cenderung melakukan penyesalan terhadap orang lain. Daripada marah dan tersinggung atas kegagalan saudara-saudari kita, hati kita justru menangisi dosa-dosa mereka. ”

Tuhan, Bapa Suci mengingatkan, “terutama mencari di antara mereka yang dikonsekrasikan kepada-Nya, pria dan wanita yang meratapi dosa-dosa Gereja dan dunia, dan menjadi pendoa syafaat atas nama semua orang.”

Saksi heroik di Gereja

“Betapa banyak saksi heroik di dalam Gereja,” dia kagum, “yang telah menunjukkan hal ini kepada kita!”

Kita memikirkan para biarawan di padang gurun, di Timur dan Barat; perantaraan yang terus-menerus dalam rintihan dan air mata dari Santo Gregorius dari Narek; persembahan Fransiskan untuk Cinta tak berbalas; dan banyak imam yang, seperti Pastor dari Ars [Yohanes Maria Vianney], menjalani kehidupan penebusan dosa demi keselamatan orang lain,” kenangnya sambil berkata, “Ini bukan puisi, tapi imamat!”

Paus mengatakan kepada para imam bagaimana Tuhan menghendaki “dari kita, para gembala-Nya,” bukan kekerasan namun kasih, “dan air mata bagi mereka yang tersesat.”

Jika hati mereka merasa menyesal, kata Paus, jangan menanggapinya dengan kecaman, tapi dengan ketekunan dan belas kasihan.

“Betapa besarnya,” kata Paus Fransiskus, “kita perlu dibebaskan dari kekerasan dan saling tuduh, keegoisan dan ambisi, kekakuan dan frustrasi, untuk memercayakan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan, dan menemukan di dalam Dia ketenangan yang melindungi kita dari badai yang mengamuk di sekitar kita!”

“Mari kita berdoa, bersyafaat dan menitikkan air mata bagi orang lain,” desaknya sambil berkata, “dengan cara ini, kita akan membiarkan Tuhan melakukan mukjizat-Nya. Dan janganlah kita takut, karena Dia pasti akan mengejutkan kita!”

Penyesalan: Sebuah rahmat yang harus dicari dalam doa

Penyesalan, jelasnya, bukanlah pekerjaan kita, melainkan sebuah rahmat yang, oleh karena itu, harus dicari dalam doa.

Beralih ke pertobatan, yang disebutnya sebagai anugerah dari Tuhan dan karya Roh Kudus, Bapa Suci menawarkan dua saran untuk memupuk semangat pertobatan.

“Marilah kita berhenti memandang kehidupan dan pekerjaan kita dalam kerangka efisiensi dan hasil langsung, serta terjebak dalam kebutuhan dan harapan saat ini; alih-alih, marilah kita memandang segala sesuatunya dengan perspektif yang lebih luas di masa lalu dan masa depan.”

Paus mendesak mereka untuk mempertimbangkan masa lalu dengan “mengingat kesetiaan Tuhan, mengingat pengampunan-Nya dan berlabuh kuat dalam kasih-Nya,” dan masa depan, “dengan melihat tujuan kekal yang menjadi tujuan panggilan kita, tujuan akhir hidup kita. ”

Memperluas wawasan kita, katanya, membantu memperluas hati kita, menghabiskan waktu bersama Tuhan dan mengalami penyesalan.

Kedua, Paus menyerukan para imam untuk menemukan kembali perlunya memupuk doa “yang tidak bersifat wajib dan fungsional, tetapi dipilih secara bebas, tenang dan berlansgung terus-menerus.”

“Mari kita kembali pada adorasi dan doa hati,” ajaknya.

‘Yesus, Anak Allah, kasihanilah aku, orang berdosa’

Paus kemudian mengajak para imam untuk mengulangi kalimat ‘Yesus, Anak Allah, kasihanilah aku, orang berdosa.’

“Marilah kita merasakan keagungan Tuhan bahkan ketika kita merenungkan keberdosaan kita sendiri, dan membuka hati kita terhadap kekuatan penyembuhan dari tatapan-Nya,” desak Paus Fransiskus, seraya mengatakan bahwa hal ini akan memungkinkan para imam untuk “menemukan kembali kebijaksanaan Bunda Gereja yang Kudus dalam memulai doa kita,” seperti kata-kata orang malang yang berseru: Tuhan, datanglah bantu aku!”

Kembali ke Santo Petrus dan air matanya, Paus Fransiskus mengatakan, “Altar yang kita lihat di atas makamnya membuat kita berpikir tentang masa-masa ketika kita para imam – yang setiap hari berkata: ‘Ambil ini, kalian semua, dan makanlah, karena ini adalah Tubuhku, yang akan diserahkan bagimu’ – telah mengecewakan dan mendukakan Dia yang begitu mengasihi kita sehingga menjadikan tangan kita sebagai alat kehadiran-Nya.”

“Kalau begitu, baiklah,” kata Paus Fransiskus, “mengulangi doa-doa yang kami [para imam] panjatkan dalam diam: ‘Dengan kerendahan hati dan hati yang menyesal semoga kami diterima oleh-Mu, Tuhan,’ dan ‘Basuhlah aku, ya Tuhan, dari kesalahanku dan tahirkan aku dari dosaku.’”

Terima kasih, para Imam terkasih

Jika ada yang patah hati, Bapa Suci meyakinkan, pasti Yesus mampu mengikat dan menyembuhkannya.

“Terima kasih, para imam terkasih,” kata Paus Fransiskus, “atas hati Anda yang terbuka dan patuh,” “semua kerja keras dan air mata Anda,” dan “karena Anda membawa mukjizat belas kasihan Tuhan kepada saudara-saudari kita di dunia saat ini. ”

Paus Fransiskus mengakhiri doanya dengan berdoa agar Tuhan menghibur, menguatkan, dan memberi penghargaan kepada para imam-Nya yang setia.

Tags: Kamis PutihPara Imam KatolikPaus FransiskusPenyesalan
SendShare15Tweet9Send
Next Post
Paus Fransiskus pada Perayaan Kamis Putih: Mencuci dan Mencium Kaki Narapidana Perempuan

Paus Fransiskus pada Perayaan Kamis Putih: Mencuci dan Mencium Kaki Narapidana Perempuan

Salib: Ungkapan Kasih Allah yang Paripurna

Salib: Ungkapan Kasih Allah yang Paripurna

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net