Katoliknews – Di sebuah gereja tua yang hampir runtuh di San Damiano, sekitar awal abad ke-13, seorang pemuda bernama Fransiskus bersimpuh di depan salib kayu. Ia tidak sedang mencari pelarian mistis; ia sedang mencari cara untuk memahami mengapa dirinya dan dunia di sekitarnya (biography and history)—dirinya yang mengalami kebingungan eksistensial dan Assisi yang mulai hiruk-pukuk dengan kapitalisme awal pedagang—terasa begitu menyesakkan. Tujuh ratus tahun kemudian, di sebuah apartemen yang dipenuhi asap rokok di New York, seorang sosiolog bertubuh besar bernama C. Wright Mills menghantam tuts mesin tiknya dengan kegelisahan yang serupa.
Keduanya tidak pernah bertemu, tentu saja. Namun, jika kita menyingkirkan jubah cokelat kasar milik Fransiskus dan jaket wol Mills, kita akan menemukan sebuah garis merah yang sama: sebuah obsesi untuk membedah bagaimana sejarah besar dunia menghancurkan, atau membentuk, biografi kecil seorang manusia.
Ada sebuah doa pendek yang lahir dari reruntuhan di Assisi, sebuah permintaan sederhana yang sebenarnya merupakan ancaman bagi kemapanan: Fransiskus memohon “perasaan yang peka” dan “akal budi yang cerah”. Bagi telinga modern, kalimat ini mungkin terdengar seperti renungan saleh yang pasif. Namun, bagi siapa pun yang pernah membedah The Sociological Imagination karya C. Wright Mills tahun 1959, kata-kata ini dapat bertransformasi menjadi sebuah cetak biru perlawanan.

Fransiskus memohon “perasaan yang peka”—sebuah permohonan yang bukan sekadar soal afeksi, melainkan sebuah sensibilitas etis yang radikal. Dalam kerangka Mills, ini adalah momen penolakan total untuk menjadi “Cheerful Robot” (Robot yang Ceria) yang mati rasa terhadap struktur yang menindas.
Bagi Fransiskus, kepekaan ini adalah cara untuk memosisikan diri secara etis di hadapan penderitaan—sebuah langkah yang oleh Mills disebut sebagai buah pertama dari imajinasi sosiologis. Di sinilah imajinasi bekerja sebagai instrumen moral: ia mengubah pandangan kita dari sekadar melihat angka statistik yang dingin menjadi pemahaman yang intim akan “Personal Troubles of Milieu”. Sensibilitas etis ini memaksa kita untuk merasakan “denyut sejarah” bukan sebagai pengamat luar, melainkan sebagai subjek yang bertanggung jawab.
Namun, baik Fransiskus maupun Mills menyadari bahwa tanpa “Quality of Mind” (Akal Budi yang cerah) yang memadai, kepekaan etis tersebut akan berhenti pada sentimen belaka. Tanpa akal budi, kita hanya akan meratapi penderitaan tanpa mampu membongkar sistem yang memproduksinya. Maka, hati yang peka membuat kita tidak bisa diam saja. Ia mendorong akal sehat kita untuk mencari cara agar kita bisa mengubah keadaan melalui tindakan yang nyata dan masuk akal.
Dan, di sinilah sosiologi dan mistisisme bertemu dalam sebuah seni intelektual yang tak terduga. Mills bersikeras bahwa kita membutuhkan sebuah “kualitas mental” untuk melihat melampaui rutinitas harian. Akal budi yang cerah ini—yang dalam bahasa Mills disebut sebagai analisis struktur—adalah pisau bedah yang memisahkan mitos dari realitas. Ia adalah kemampuan untuk bertanya: Siapa yang memegang kendali? Struktur peluang apa yang membuat satu orang menjadi penguasa dan yang lain menjadi pengemis?

Pertanyaan-pertanyaan analitis ini tidak dibiarkan menggantung di udara sebagai teori belaka; mereka dirancang untuk bermuara pada titik krusial di mana doa tersebut ditutup: “agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu.” Di sinilah letak urgensi untuk bertindak. Bagi Fransiskus, memahami dunia adalah awal dari sebuah transformasi hidup yang radikal—ia menanggalkan seluruh hartanya bukan sekadar untuk menjadi miskin, melainkan untuk menjadi pengingat hidup yang menentang sistem yang rakus. Senada dengan itu, bagi Mills, pemahaman struktural adalah landasan bagi “tanggung jawab intelektual.” Ia menuntut lahirnya intelektual publik yang tidak hanya duduk tenang mencatat keruntuhan dunia, tetapi berani turun tangan untuk mencoba menghentikannya. Ini adalah apa yang kita sebut sebagai tujuan emansipatoris. Baik si mistikus maupun si sosiolog tidak percaya pada pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan adalah alat untuk pembebasan.
Membaca Fransiskus melalui Mills, atau Mills melalui Fransiskus, memberikan kita sebuah perspektif baru tentang apa artinya menjadi “manusia yang bangun” di tengah zaman yang tidur. Ini bukan sekadar tentang sosiologi atau agama; ini tentang sebuah upaya untuk keluar dari apa yang disebut Mills sebagai “perangkap” eksistensial. Pada akhirnya, apa yang dicari di San Damiano dan apa yang diketik di New York adalah hal yang sama: jaring-jaring kehidupan yang menyatukan nasib kita dengan sesama, ibu bumi yang kita pijak, hingga rahasia Tuhan yang kita imani, melalui hati peka, budi yang cerah, dan keberanian untuk bertindak.)***
Dian B, imam Fransiskan tinggal di Depok, Jawa Barat

Discussion about this post