Katoliknews — Pedagogi Persaudaraan yang ditawarkan oleh narasi besar Fransiskan bertujuan mengembangkan manusia yang integral, yakni manusia yang bertumbuh secara optimal baik dimensi rohani maupun dimensi jasmani, baik secara personal maupun secara sosial. Di tengah komersialisasi dan industrialisasi pendidikan yang cenderung menghasilkan manusia yang individualistik dan kompetitif, Pedagogi Persaudaraan mengarahkan pada sebaliknya, yakni menuntun manusia untuk hidup sebagai saudara dalam kasih yang autentik dan universal.
Hal ini mengemuka dalam acara launching dan bedah buku Pedagogi Persaudaraan karya Pastor Agustinus Laurensius Nggame OFM yang diselenggarakan atas kerja sama Konferensi Sekolah Fransiskan/nes se-Indonesia, Fransiskan Media Center (FMC), dan Penerbit OBOR di Aula Persekolahan Fransiskus, Kramat, Jakarta Pusat pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Hadir sebagai pembedah Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Konferensi Sekolah Fransiskan/nes se-Indonesia dan Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Kegiatan ini dimoderatori Yulti Klaudia, guru di SMP Fransiskus Kampun Ambon, Jakarta Timur. Peserta sekitar seratusan orang yang umumnya para guru dan tenaga kependidikan di sekolah-sekolah yang dikelola para Fransiskan/nes.
Pendidikan Holistik
Pastor Darmin Mbula OFM menguraikan, konsep Pedagogi Persaudaraan pada dasarnya adalah pendekatan pendidikan yang menempatkan “keagungan manusia” bukan pada prestasi akademik semata, melainkan pada berkembangnya potensi utuh setiap pribadi sebagai manusia yang bermakna, berdaya, dan berkontribusi bagi sesama bagi peradaban manusia yang ditandai oleh kasih persaudaraan.

Di sinilah Pedagogi Persaudaraan, kata Darmin, hadir bukan sebagai nostalgia moral, melainkan sebagai koreksi eksistensial: ia (Pedagogi Persaudaraan) menegaskan bahwa inti pendidikan bukan efisiensi pengetahuan, melainkan pembentukan manusia secara holistik yang mampu mencintai, berempati, dan hidup dalam relasi yang menghidupkan.
Dalam ruang kelas yang semakin dipengaruhi layar dan algoritma dengan kemunculan Artificial Intelegent (AI), terang Darmin, Pedagogi Kasih Persaudaraan menjadi praktik radikal untuk mengembalikan wajah, suara, dan luka manusia ke pusat proses belajar, agar peserta didik tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara etis dan relasional.Justru ketika AI mampu menjawab pertanyaan lebih cepat daripada guru, pedagogi kasih mengingatkan bahwa pertanyaan tentang ‘menjadi manusia seperti apa kita’ tidak pernah bisa dijawab oleh mesin, melainkan hanya dapat dihidupi dalam perjumpaan yang saling mengakui dan memanusiakan.
“Sekolah perjumpaan hanya mungkin tumbuh subur dalam napas Pedagogi Kasih Persaudaraan yang hidup dan kehadiran guru ideal yang tidak sekadar mengajar, melainkan menghadirkan dirinya sebagai saksi hidup nilai-nilai kemanusiaan; dalam horizon ini, guru dipanggil untuk menyadari dirinya sebagai model yang utuh—pelaku kasih yang bukan hanya mengajarkan kebaikan, tetapi menghidupinya dalam integritas moral sehari-hari, sehingga setiap kata dan tindakannya menjadi “pertanyaan” yang lahir dari kasih, kesetiaan, kesabaran, keterbukaan, dan persahabatan yang tulus. Guru adalah pribadi yang terus membangkitkan diri tanpa lelah, lembut dalam sikap namun teguh dalam nilai, serta mampu mengampuni sebagai wujud kedewasaan rohani yang memulihkan relasi, bukan menghakimi.”
Dalam konteks ini, kata dia, “Sekolah Fransiskus” menempatkan Pedagogi Kasih Persaudaraan bukan sekadar metode, tetapi jalan hidup pendidikan yang membentuk ruang perjumpaan sejati, di mana setiap murid dipusatkan pada Yesus Kristus sebagai sumber kasih yang mempersatukan, sehingga proses belajar bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan transformasi hati yang menumbuhkan manusia yang utuh dalam relasi dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan.
Delapan Prinsip Utama Pedagogi Kasih Persaudaraan
Darmin menjelaskan, ada delapan prinsip utama Pedagogi Persaudaraan untuk mencapai visi manusia integral.
Pertama, kasih tanpa syarat kepada Allah (Sang Kasih), yakni pendidikan berakar pada relasi cinta yang total kepada Allah sebagai sumber dan tujuan hidup, sehingga seluruh proses belajar menjadi ungkapan kasih yang hidup.
Kedua, kristosentris (berpusat pada Kristus dan Injil), yakni Yesus Kristus dan Injil menjadi pusat inspirasi, arah, dan norma dalam seluruh praksis pendidikan.’
Ketiga, kemuridan dan penyesuaian diri dengan Kristus. Dalam hal ini peserta didik diajak bukan hanya mengetahui, tetapi meneladani dan menghidupi cara hidup Kristus dalam keseharian.
Keempat, kedinaan (minoritas) sebagai cara hidup. Yang dimaksudkan di sini adalah mendidik manusia untuk bersikap rendah hati, sederhana, dan tidak mencari kuasa.
Kelima, persaudaraan universal, yakni semua manusia dan ciptaan dipandang sebagai saudara, sehingga pendidikan menumbuhkan solidaritas, empati, dan kepedulian ekologis.
Keenam, ketaatan sebagai ungkapan kebebasan. Ketaatan tidak dipahami sebagai paksaan, tetapi sebagai pilihan sadar untuk mengikuti kebaikan dan kebenaran.
Ketujuh, optimisme dan harapan. Pendidikan Fransiskan menanamkan harapan, sukacita, dan pandangan positif terhadap kehidupan sebagai anugerah Allah.
Kedelapan, cinta kasih sebagai tujuan dan metode pendidikan. Kasih tidak hanya menjadi tujuan akhir (mengasihi Allah, sesama, diri, dan alam), tetapi juga cara mendidik—melalui keteladanan, relasi personal, dan kehadiran yang penuh perhatian.
Kedelapan prinsip ini, tegas Darmin, saling terkait dan membentuk satu kesatuan utuh: “pendidikan sebagai perjalanan kasih yang menumbuhkan manusia menjadi pribadi yang utuh, bersaudara, dan berbela rasa.”
Langkah dan Tindakan Nyata
Menurt Darmin, ada 12 langkah untuk menjadikan Pedagogi Kasih Persaudaraan (KPK) tetap relevan di sekolah Katolik, terutama dalam menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar spiritual dan humanistiknya.
Pertama, menegaskan kembali Kristus sebagai pusat pendidikan. Seluruh proses pendidikan diarahkan pada pembentukan pribadi yang meneladani kasih Kristus, bukan sekadar pencapaian akademik.
Kedua, menghidupkan budaya perjumpaan, bukan sekadar instruksi. Sekolah dibangun sebagai ruang perjumpaan yang hangat, di mana guru, siswa, dan tenaga kependidikan saling mengenal sebagai saudara.
Ketiga, menjadikan Guru sebagai teladan hidup (living example). Guru tidak hanya mengajar nilai, tetapi menghadirkannya dalam sikap: jujur, sabar, setia, dan penuh kasih.
Keempat, mengintegrasikan kasih dalam kurikulum. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk empati, solidaritas, dan kepedulian sosial, bukan hanya pengetahuan kognitif.
Kelima, membiasakan dialog yang menghargai martabat manusia. Komunikasi di sekolah dibangun tanpa kekerasan verbal, dengan ruang mendengar yang tulus dan menghargai perbedaan.
Keenam, menguatkan spiritualitas doa dan refleksi kritis. Kehidupan sekolah tidak lepas dari doa, permenungan, dan pembiasaan melihat Allah dalam pengalaman sehari-hari.
Ketujuh, membangun budaya pengampunan dan rekonsiliasi. Kesalahan tidak langsung dihukum, tetapi menjadi kesempatan untuk memulihkan relasi dan bertumbuh.
Kedelapan, menghidupkan solidaritas nyata dalam tindakan sosial. Sekolah tidak berhenti pada teori kasih, tetapi hadir dalam aksi nyata bagi yang miskin, tersingkir, dan terluka.
Kesembilan, mendorong kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Semua struktur kepemimpinan di sekolah diarahkan pada pelayanan, bukan dominasi atau kekuasaan.
Kesepuluh, mengintegrasikan teknologi secara manusiawi. AI dan teknologi lainnya digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti relasi guru-murid yang personal dan bermakna.
Kesebelas, membangun komunitas pembelajar, bukan kompetisi semata. Siswa didorong untuk bertumbuh bersama, bukan saling mengalahkan, sehingga persaudaraan menjadi budaya.
Kedua belas, evaluasi berbasis pertumbuhan manusia seutuhnya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai, tetapi juga dari perkembangan karakter, iman, dan kepedulian sosial.
“Dengan langkah-langkah ini, Pedagogi Kasih Persaudaraan (PKP) tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjadi budaya hidup yang membentuk sekolah Katolik sebagai ruang pertumbuhan manusia yang utuh, beriman, dan penuh kasih,” tegas Darmin.
Apresiasi dan Kritik Buku
Darmin menilai, penulis dengan cukup jernih menguraikan gagasan utama pendidikan sebagai wadah menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berelasi. Pendidikan sejati berakar pada pengalaman kasih persaudaraan, relasi yang setara, penuh kasih, dan menghormati martabat setiap pribadi, sehingga kekuatan buku ini terletak pada kedalaman visi antropologis dan spiritualnya yang mampu mengoreksi pendekatan pedagogi yang terlalu teknis.
Dalam pembacaan kritisnya, lanjut Darmin, buku ini sangat kaya secara reflektif dan inspiratif, namun pada beberapa bagian masih membuka ruang untuk pengembangan yang lebih konkret dalam aspek implementasi praktis di ruang kelas yang kompleks dan terdigitalisasi saat ini.
Darmin juga mengkritik desain kover depan buku yang tampaknya belum sepenuhnya merepresentasikan keluasan dan kedalaman isi yang mencakup dimensi pedagogis, spiritual, antropologis, dan praksis pendidikan Fransiskan secara komprehensif. Akibatnya, pesan besar tentang pembangunan peradaban kasih persaudaraan semesta belum langsung tergambar secara utuh dari tampilan awal, sehingga pembaca perlu melangkah lebih jauh ke dalam teks untuk menemukan kekayaan makna yang sesungguhnya.
“Meski demikian, relevansinya tetap kuat karena mampu menjembatani iman, nilai kemanusiaan, dan praksis pendidikan, sebuah sintesa iman, kebudayaan dan kehidupan; sekaligus mengajak pembaca untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi menghidupi pedagogi sebagai jalan membangun budaya perjumpaan,” ungkapnya.
Buku tersebut, kata dia, berfungsi sebagai pemantik dialog kritis sekaligus inspirasi transformasi bagi pendidik/guru yang ingin menghadirkan pendidikan yang lebih holistik, humanis, ekologis, relasional, dan berakar pada kasih persaudaraan.
Senada, Suster Franselin FSGM, Sekretaris Konferensi Sekolah Fransiskan se-Indonesia mengapresiasi terbitnya buku karya Provinsial OFM itu. Menurutnya, buku itu mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan.

“Di tengah dunia yang semakin kompleks, pendidikan tidak hanya dituntut untuk mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan—membentuk pribadi-pribadi yang unggul dalam kasih, mengasah kehendak untuk mengasihi, membangun empati, solidaritas, rasa hormat dan persaudaraan di antara sesama,” ungkapnya.
Ia menambahkan, “dari judulnya kita bisa menebak bahwa buku ini sarat akan makna, lahir dari sebuah refleksi yang mendalam tentang dunia pendidikan yakni pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek intelektual atau akademik, tetapi juga membangun relasi kemanusiaan yang hangat, penuh empati, dan mengembangkan pedagogi kasih persaudaraan. Pendidikan tidak hanya melahirkan individu yang cerdas, tetapi juga pribadi yang mampu hidup berdampingan dan menghargai perbedaan serta membangun perdamaian.”
Rian Safio (Jakarta)



Discussion about this post