Senin, Juni 22, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Feature

Persekolahan Fransiskus: Rumah untuk Murid Miskin Kota

Sebagian besar anak-anak yang datang ke Persekolahan Fransiskus adalah anak-anak yang pernah ditolak, diabaikan, atau tersingkir dari sekolah-sekolah yang megah dan mahal, baik negeri maupun swasta. Sebagian datang dengan rapor yang kurang sempurna. Sebagian datang dengan luka karena kemiskinan. Sebagian lainnya datang membawa kisah-kisah perjuangan yang tak pernah tertulis dalam buku pelajaran. Namun di balik semua keterbatasan itu, mereka tetap membawa harapan yang belum padam.

22 Juni 2026
in Feature, Headline, Sorotan
Reading Time: 4 mins read
Persekolahan Fransiskus: Rumah untuk Murid Miskin Kota

Foto: istimewa

Katoliknews – Hampir tak ada mobil mewah yang masuk ke gerbangnya tiap pagi untuk mengantar anak-anak  sekolah. Mereka yang datang rata-rata anak-anak sederhana,sebagian besar anak-anak miskin kota, yang sering kali uang sekolah masih nunggak.

Pemandangan ini hampir tiap pagi pada hari-hari sekolah terlihat di Persekolahan Fransiskus, Jakarta, di Jalan Kramat Raya, no. 67. Sesuatu yang agak kontras di sekolah-sekolah Katolik lain di Jakarta yang sering menjadi tempat pendidikan anak-anak orang kelas menengah atas.

Pasto Vincentius Darmin Mbula OFM, Ketua Yayasan Persekolahan Fransiskus, bercerita kepada Katoliknews, pemandangan seperti itu bukan ‘nasib’, melainkan pilihan pada keberpihakan terhadap anak-anak miskin kota.

Bernapaskan spiritualitas Fransiskan yang menekankan kesederhanaan dan keberpihakan pada orang-orang miskin, persekolahan yang dikelolanya berikhtiar untuk menjadi rumah terutama bagi murid-murid miskin kota, yang tidak mudah untuk masuk di sekolah-sekolah Katolik yang mahal.

“Sebagai wajah Gereja kaum miskin, sekolah ini mengingatkan bahwa misi Gereja tidak berhenti di altar. Misi itu berlanjut di ruang kelas, di halaman sekolah, dan dalam setiap perjumpaan dengan anak-anak yang rentan dan disabilitas,” kata Pastor Darmin, sapaannya.

Baca Juga

[Renungan Harian Senin, 22 JUNI 2026] Menolak Benci dan Gosip

Menjadi Saksi Tuhan yang Militan

Lawatan Paus ke Spanyol: Ini Jawabannya Ketika Ditanya Dukung Madrid atau Barcelona?

Gebrakan Paus Leo XIV: Tunjuk Perempuan Awam Kepalai Dikasteri di Vatikan

Ia menambahkan, Sekolah Fransiskus hadir di tengah hiruk-pikuk Kota Metropolitan Jakarta seperti pelita kecil yang menyala dalam kegelapan.

“Di antara gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan yang ramai, sekolah ini membuka pintu gerbangnya bagi para murid  yang sering terlupakan. Ia menjadi rumah yang hangat bagi mereka yang datang dengan mimpi sederhana dan harapan yang rapuh. Di sini, setiap anak diterima sebagai pribadi yang berharga dan dicintai,” ujarnya.

“Dengan semangat Fransiskan, sekolah ini terus menjadi rumah bagi murid murid  miskin kota metropolitan  Jakarta, sekaligus menjadi wajah Gereja yang miskin,  rendah hati, penuh belas kasih, dan berpihak kepada mereka yang kecil dan lemah,” tandas Doktor pendidikan itu.

Ruang Perjumpaan Iman dan Kemanusiaan

Persekolahan Fransiskus mengelola beberapa unit sekolah di dua tempat, yakni di Kramat Raya No. 67, Jakarta Pusat terdapat TK Santo Fransiskus, SD Santo Fransiskus 1, SMP Santo Fransiskus 1, SMA Santo Fransiskus 1, SMK Santo Fransiskus 2; kemudian di Jl. Bangunan Barat No. 29, Jakarta Timur terdapat  SMA Santo Fransiskus 2 dan SMK Santo Fransiskus 1.

Menurut Pastor Darmin, sekolah-sekolah ini tidak hanya berdiri sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kemanusiaan.

“Di dalam kelas-kelasnya, anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Namun lebih dari itu, mereka belajar tentang martabat, persaudaraan, dan harapan. Setiap pelajaran menjadi jalan untuk menemukan nilai diri dan masa depan yang lebih baik,” katanya.

Ia melanjutkan, para guru dan tenaga kependidikan tidak sekadar mengajar, tetapi juga mendampingi dan merangkul serta mengayomi. Mereka hadir sebagai sahabat yang berjalan bersama para murid dalam suka dan duka. Pendidikan menjadi tindakan cinta yang nyata.

Ketua Yayasan Fransiskus Jakarta RP Dr. Vincentius Darmin Mbula OFM. Foto: Dok. OBOR

Ia menegaskan,  Persekolahan Fransiskus sebagai rumah Pax et Bonum adalah perwujudan iman, pengharapan dan kasih (IPK) yang hidup dalam tindakan nyata bagi mereka yang paling membutuhkan.

“Di sini (Persekolahan Fransiskus-red) cinta Allah diterjemahkan menjadi perhatian, pendampingan, dan kesempatan. Gereja hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai ibu yang merangkul anak-anaknya dengan kelembutan,” kata Pastor Darmin seraya mengutip kata-kata Yesus sendiri, “Datanglah kepada-Ku hai kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, belajarlah daripadaKu sebab Aku Lemah Lembut dan rendah hati.”

Persekolahan Fransiskus, terang Pastor Darmin,  menjadi sakrammen cinta Allah, sebuah  tanda harapan di tengah kota yang sering bergerak terlalu cepat, “menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan pembebasan dan pemulihan martabat manusia dan segenap ciptaan, mengajarkan bahwa setiap murid, betapa pun sederhana latar belakangnya, memiliki cahaya yang layak untuk berkembang.”

Rumah Harapan

Di tengah riuhnya Kota Metropolitan Jakarta,  Persekolahan Fransiskus mempersiapkan murid-muridnya untuk menapaki masa depan dengan hati yang teguh dan jiwa yang merdeka. Di dalam kelas, para murid belajar membaca tanda-tanda zaman dan memahami dunia yang terus berubah. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga untuk menjadi manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan menghargai sesama.

Dengan semangat Santo Fransiskus Assisi, kata Pastor Darmin, para murid diajak untuk melihat lebih jauh daripada sekadar keberhasilan pribadi. Mereka belajar bahwa hidup menemukan maknanya ketika dibagikan kepada orang lain. Di tengah budaya yang sering mengutamakan persaingan, mereka dibentuk menjadi pembawa persaudaraan. Di tengah kecenderungan untuk mengejar keuntungan, mereka dilatih untuk mengembangkan kepedulian. Hati mereka dipersiapkan untuk tetap peka terhadap jeritan kaum kecil dan kebutuhan lingkungan hidup.

Para murid juga dibimbing untuk menjadi generasi yang mampu hidup dalam keberagaman. Mereka belajar menghormati perbedaan, membangun dialog, dan merawat persatuan. Seperti taman yang indah karena banyak warna bunga, demikian pula kehidupan bersama menjadi semakin kaya ketika dibangun atas dasar saling menghargai. Dari ruang-ruang sekolah, tumbuh benih-benih perdamaian bagi masyarakat yang lebih harmonis.

Persekolahan Fransiskus mempersiapkan murid-muridnya bukan hanya untuk sukses di dunia kerja, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang menghadirkan harapan bagi dunia. Mereka dipanggil menjadi cahaya di tengah keramaian kota, menjadi suara bagi yang tak terdengar, dan menjadi sahabat bagi yang membutuhkan. Dengan ilmu di tangan dan kasih di hati, mereka melangkah ke masa depan sebagai generasi yang mampu membangun Jakarta yang lebih manusiawi, adil, dan penuh persaudaraan.

Membuka Gerbang Kemenangan

Sebagain besar anak-anak yang datang ke Persekolahan Fransiskus adalah anak-anak yang pernah ditolak, diabaikan, atau tersingkir dari sekolah-sekolah yang megah dan mahal, baik negeri maupun swasta. Sebagian datang dengan rapor yang kurang sempurna. Sebagian datang dengan luka karena kemiskinan. Sebagian lainnya datang membawa kisah-kisah perjuangan yang tak pernah tertulis dalam buku pelajaran. Namun di balik semua keterbatasan itu, mereka tetap membawa harapan yang belum padam.

Darmin mengatakan, “Bagi anak-anak ini, Sekolah Fransiskus bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah rumah yang menerima tanpa syarat. Ia adalah pelabuhan tempat mereka berlabuh setelah diterpa gelombang penolakan dan ketidakpastian. Ketika banyak pintu tertutup, sekolah ini membuka tangannya lebar-lebar. Ketika banyak orang melihat kekurangan mereka, sekolah ini melihat potensi dan martabat yang tersembunyi di dalam diri mereka.”

Di halaman Persekolahan Fransiskus, Darmin melanjutkan, mereka belajar bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan. Di sini, harapan ditanam kembali seperti benih yang menemukan tanah subur untuk bertumbuh. Sekolah Fransiskus menjadi sandaran terakhir, tetapi sekaligus menjadi jembatan menuju masa depan. Di ruang-ruang kelas yang sederhana, mimpi-mimpi yang hampir padam dinyalakan kembali. Para guru hadir bukan hanya sebagai pendidik, melainkan sebagai sahabat dan pendamping perjalanan. Mereka percaya bahwa setiap anak memiliki cahaya yang unik. Tidak ada anak yang gagal sebelum diberi kesempatan untuk berkembang.

Karena itu, kata dia, Persekolahan Fransiskus membuka Gerbang Kemenangan bagi semua muridnya. Kemenangan yang dimaksud bukan semata-mata nilai yang tinggi atau penghargaan yang gemilang. Kemenangan itu adalah ketika seorang anak menemukan kembali harga dirinya. Kemenangan itu adalah ketika seorang murid berani bermimpi dan percaya bahwa dirinya mampu meraih masa depan yang lebih baik. Kemenangan itu adalah ketika pendidikan mengalahkan keputusasaan.

“Di sekolah ini hidup sebuah keyakinan yang sederhana namun kuat: tak satu pun anak boleh tertinggal. Tak satu pun anak boleh kehilangan masa depan hanya karena kemiskinan. Pendidikan bukan hak bagi mereka yang mampu membayar mahal, melainkan hak setiap anak yang diciptakan dengan martabat yang sama. Karena itu, setiap bangku yang tersedia menjadi tanda harapan, dan setiap pintu yang terbuka menjadi ungkapan kasih yang nyata,” pungkasnya.

Rian Safio, Jakarta

Tags: Anak-anak miskin kotaOFM IndonesiaRomo Darmin Mbula OFMSekolah Santo FransiskusYayasan Santo Fransiskus
SendShare26Tweet17Send

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net