Jumat, Agustus 14, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Headline

Mengapa Jakarta? FABC XII dan Relevansi Indonesia bagi Asia

19 Juli 2026
in Headline, Opini
Reading Time: 4 mins read
Mengapa Jakarta? FABC XII dan Relevansi Indonesia bagi Asia

Alexander Nantu (Foto: dokumen pribadi)

Katoliknews – Asia merupakan kawasan dengan tingkat keberagaman tertinggi di dunia. Lebih dari 60 persen penduduk dunia tinggal di kawasan ini. Asia juga menjadi tempat lahir agama-agama besar dunia sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi global. Namun, kemajuan tersebut berjalan berdampingan dengan berbagai tantangan. Mulai dari konflik bersenjata, polarisasi politik, ketimpangan sosial, perpindahan penduduk, krisis iklim, hingga disrupsi teknologi yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, penyelenggaraan Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Jakarta pada 20–26 Juli 2026 memiliki makna yang melampaui agenda internal Gereja Katolik. Pertemuan para uskup dari berbagai negara Asia ini mengangkat tema “You Will See Greater Things” (Yohanes 1:50): Synodal Conversion and Mission as Bridge-Building in Asia. Tema tersebut mengajak Gereja untuk memperkuat dialog dan membangun jembatan di tengah masyarakat Asia yang semakin majemuk sekaligus rentan terhadap polarisasi.

Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah mengapa FABC diselenggarakan, melainkan mengapa Jakarta dipilih sebagai tuan rumah. Jawabannya tidak hanya terletak pada kesiapan Indonesia sebagai penyelenggara, tetapi juga pada pengalaman panjang bangsa ini dalam mengelola keberagaman.

Indonesia memang belum sepenuhnya terbebas dari persoalan intoleransi dan konflik sosial. Namun, selama hampir delapan dekade, Indonesia terus mengembangkan berbagai mekanisme untuk menjaga kohesi sosial melalui konstitusi, Pancasila, dialog antaragama, dan partisipasi masyarakat sipil. Pengalaman inilah yang menjadikan Indonesia memiliki posisi penting dalam percakapan mengenai kehidupan bersama di tengah kemajemukan.

Pengalaman tersebut tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga terlihat dalam praktik. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) telah dibentuk di seluruh provinsi dan hampir seluruh kabupaten/kota sebagai ruang komunikasi antara tokoh agama dan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan beragama. Di Jakarta, Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral menjadi simbol kerja sama lintas iman yang mendapat perhatian masyarakat internasional.

Baca Juga

Sekelumit tentang Buku “Inkarnasi Biologis”, Karya Ilmuwan Katolik Indonesia

Sosok Uskup Agung Walter Erbi, Nunsius Apostolik Baru untuk Indonesia

Breaking News: Paus Leo XIV Tunjuk Uskup Kelahiran Turin Jadi Dubes Vatikan untuk Indonesia

Temu OMK Fransiskan se-Daratan Flores Dorong Internalisasi Spirit Persaudaraan

Pada saat pandemi Covid-19 maupun berbagai bencana alam, organisasi-organisasi keagamaan dari berbagai agama juga bekerja sama dalam pelayanan kesehatan, distribusi bantuan kemanusiaan, dan pendampingan masyarakat. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa dialog di Indonesia bukan hanya konsep, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pilihan Jakarta juga sejalan dengan perjalanan panjang FABC sendiri. Sejak berdiri di Manila pada tahun 1970, FABC berupaya merumuskan bagaimana Gereja Katolik dapat bertumbuh sebagai Gereja yang sungguh berakar di Asia. Semangat itu lahir dari pembaruan besar yang dibawa Konsili Vatikan II. Hal itu terutama melalui Gaudium et Spes yang menegaskan keterlibatan Gereja dalam dinamika masyarakat, serta Nostra Aetate yang membuka babak baru hubungan Gereja dengan agama-agama lain.

Berangkat dari pengalaman masyarakat Asia yang sangat majemuk, FABC kemudian mengembangkan pendekatan yang dikenal luas sebagai tiga dialog, yaitu dialog dengan kebudayaan, dialog dengan agama-agama lain, dan dialog dengan kaum miskin. Selama lebih dari lima dekade, ketiga dimensi tersebut menjadi ciri khas pelayanan Gereja Asia. Dialog benar-benar dipahami sebagai cara Gereja hadir dan bekerja bersama masyarakat.

Dalam situasi Asia saat ini, pendekatan tersebut semakin relevan. Kemajuan teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi juga memperbesar penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi identitas. Karena itu, tantangan terbesar Asia bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan juga membangun kembali kepercayaan di antara masyarakat yang semakin beragam. Di sinilah Jakarta menjadi relevan sebagai tempat berlangsungnya Sidang Raya XII FABC.

Semangat tersebut sejalan dengan arah Gereja Katolik universal melalui Sinode tentang Sinodalitas yang ditutup pada 2024. Sinodalitas mengajak seluruh umat untuk membangun budaya mendengar, berdialog, berpartisipasi, dan mengambil keputusan bersama. Dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi, pendekatan seperti ini memiliki makna yang melampaui kehidupan internal Gereja. Sinodalitas menawarkan cara membangun relasi yang lebih inklusif dan memulihkan kepercayaan di tengah perbedaan.

Tema Sidang Raya XII FABC mencerminkan semangat tersebut. Menjadi pembangun jembatan adalah panggilan untuk memperkuat ruang dialog di tengah meningkatnya polarisasi sosial, politik, dan keagamaan di berbagai negara Asia. Pesan yang sama juga terus ditekankan oleh Paus Leo XIV, yang mengingatkan bahwa Gereja dipanggil menjadi tanda persatuan melalui budaya dialog, kedekatan, dan solidaritas.

Dalam konteks Indonesia, tema tersebut sangat relevan. Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga kebebasan beragama, menyelesaikan persoalan pendirian rumah ibadah, serta mencegah berkembangnya intoleransi di ruang digital. Namun, tantangan tersebut juga mendorong lahirnya berbagai praktik baik yang menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia membangun kerja sama lintas agama.

Pemerintah bersama organisasi-organisasi keagamaan terus mengembangkan berbagai inisiatif untuk memperkuat kerukunan. Selain keberadaan FKUB di berbagai daerah, Kementerian Agama secara berkala mengukur Indeks Kerukunan Umat Beragama sebagai salah satu indikator kohesi sosial. Di tingkat masyarakat, kolaborasi lintas agama dalam penanganan bencana, bantuan kemanusiaan, hingga berbagai program sosial bersama menunjukkan bahwa dialog dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui forum diskusi.

Dalam perspektif yang lebih luas, pengalaman tersebut merupakan bagian dari soft power Indonesia. Di era hubungan internasional, pengaruh suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau militer, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan melalui nilai, budaya, dan praktik yang dihormati masyarakat internasional. Selama ini Indonesia dikenal aktif mempromosikan dialog antaragama dalam berbagai forum regional maupun global. Penyelenggaraan Sidang Raya XII FABC memperkuat citra tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai ruang yang kondusif untuk membahas masa depan dialog di Asia.

Karena itu, FABC XII tidak hanya penting bagi Gereja Katolik. Pertemuan ini juga memiliki nilai strategis bagi Indonesia. Kepercayaan menjadi tuan rumah menunjukkan pengakuan terhadap pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman sekaligus membuka peluang memperkuat diplomasi berbasis nilai. Dalam situasi dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan membangun kepercayaan menjadi aset yang sama pentingnya dengan kekuatan ekonomi dan politik.

Pada akhirnya, alasan Jakarta dipilih tidak dapat dipahami hanya dari aspek teknis penyelenggaraan. Jakarta dipilih karena merepresentasikan pengalaman Indonesia dalam membangun kehidupan bersama di tengah masyarakat yang majemuk. Pengalaman tersebut tentu belum sempurna dan masih terus menghadapi tantangan. Namun, justru karena terus diuji, Indonesia memiliki pembelajaran yang relevan untuk dibagikan kepada kawasan Asia.

Sidang Raya XII FABC menjadi momentum untuk mempertemukan pengalaman pastoral Gereja Asia dengan pengalaman kebangsaan Indonesia. Keduanya berangkat dari keyakinan yang sama. Bahwa masa depan masyarakat yang majemuk tidak dibangun melalui dominasi atau penyeragaman, melainkan melalui dialog, kerja sama, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Dalam konteks itulah, Jakarta menjadi simbol komitmen bersama untuk membangun Asia yang lebih damai, adil, inklusif, dan saling percaya.)***

Alexander Nantu, Alumnus STF Driyarkaran dan ASN di Kementerian Agama RI. Tulisan sebelumnya dimuat di website Kementerian Agama RI @kemenag.go.id

Tags: Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC)Gereja Katolik AsiaJakartaToleransi di Indonesia
SendShare12Tweet7Send

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net