Rabu, April 15, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Inspiratif

Kisah Perempuan Muslim: Semula Melihat Selibat Menyalahi Kodrat, Pandangan Itu Berubah Total Pasca Mewawancarai Pastor

12 Juni 2019
in Inspiratif
Reading Time: 5 mins read
Kisah Perempuan Muslim: Semula Melihat Selibat Menyalahi Kodrat, Pandangan Itu Berubah Total Pasca Mewawancarai Pastor

Lewat akun Twitter-nya, Desy Kartika Sari, seorang perempuan Muslim, lulus psikologi Universitas Indonesia menulis tentang bagaimana ia mengalami perubahan cara pandang tentang selibat dalam Gereja Katolik. (Foto: Ist).

Katoliknews.com – Kisah seorang perempuan Muslim yang menulis skripsi tentang selibat dalam Gereja Katolik menjadi viral di media sosial Twitter.

Perempuan bernama Desy Kartika Sari tersebut membagikan kisahnya lewat akun @dekaridisini tentang bagaimana ia dahulu memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang hidup selibat.

Dahulu, katanya. ia memandang selibat sebagai hal yang “menyalahi kondrat sebagai manusia dan sebagai pria.”

Namun, pasca mendalami dengan baik hal itu, termasuk dengan mendatangi gereja, membaca Injil dan Kitab Hukum Kanonik serta mewawancarai para pastor, pandangannya kemudian berubah total.

Ia sempat yakin seratus persen bahwa bahwa cobaan duniawi terberat kaum selibater adalah terkait hasrat seksual.

Baca Juga

Obituari Pater Nico Syukur Dister OFM: Guru Fransiskan, Cahaya yang Tetap Menuntun dari Fajar Timur

Rayakan Ultah Ke-100, Suster Irene Minta Kado yang Tak Terduga

Kisah Junko Memeluk Katolik karena Kanker yang Diderita Suaminya

Lima ayat Kitab Suci yang dahsyat saat merasa hidup tidak berarti apa-apa lagi!

“Ternyata buat mereka, cobaan terbesar hidup selibat adalah kesepian. Sejak itu, pandangan gue berubah,” tulisnya.

“Kesepian adalah bahasa yang universal. Mungkin itu kenapa gue mulai bisa memahami mereka,” tulisnya.

Dalam Tweet-nya, lulusan jurusan psikologi Universitas Indonesia itu juga menjelaskan sejumlah hal terkait hidup selibat, apa saja tantangan yang dihadapi para imam dan bagaimana mereka kemudian menyikapinya.

Dari proses yang ia lalui hingga kemudian lulus ujian skripsi, ia mengatakan, salah satu hal penting yang ia dapat adalah perubahan pandangan terhadap banyak hal.

“Pandangan soal manusia lain jadi beda, pandangan soal agama, jadi beda. pandangan soal perbedaan, jadi beda, soal cinta dan komitmen juga,” tulisnya.

Pantauan katoliknews.com, Rabu, 12 Juni 2019, rangkaian tweet Desy itu sudah dibagikan oleh lebih dari 17 ribu kali dan diretweet oleh 11 ribu lebih orang.

Ia menjelaskan skripsi yang ditulisnya berjudul “Gambaran Resiliensi pada Imam Katholik Dewasa Muda Dalam Menjalani Hidup Selibat.”

Banyak pengguna Twitter yang menanggapi Tweet-nya.

“Hai mbak…saya sangat tertarik baca thread ttg skripsimu..dan satu kata dari saya utk dirimu: salut,” tulis pemilik akun @IgnatiusAryono.

“Jarang bgt ada yg mau membahas ini bahkan mungkin sedikit yang tau, makasih ya mbak udah memberi sedikit pemahaman terbuka dan perhatian buat mereka,” tulis pemilik akun @wayblueford.

Berikut adalah thread dari Tweet Desy yang bisa Anda cek langsung dengan mengklik di sini:

Bahasa Cinta

Dulu pas gue tahu Imam Katolik (Pastor) harus hidup selibat & sengaja menghilangkan semua kenikmatan duniawi dari hidupnya, gue pikir itu ga masuk akal. Terus gue jadiin skripsi.

Gue muslim, btw. Dulu kuliah jurusan Psikologi.

Sebagai muslim & non Katolik, dulu gue pikir selibat Pastor itu menyalahi kodrat sebagai manusia & pria. Gue tulis di bab 1 semua hal yg mendukung pendapat itu. Pas maju ke pembimbing, gue yakin 100% dia bakal dukung ide gue. Muslim juga soalnya. Dan apa reaksi pembimbing gue? “De, ga bisa gini. Buang dulu kacamata muslim kamu, & lihat gimana sucinya sosok pastor di mata umat Katolik. Apa keutamaan pilihan ini. REVISI!” –> kata PS gue.

Dan perjalanan bikin Bab 1 yg approvalnya makan waktu 3 semester  dimulai makanya telat lulus 😂😂Gue keluar masuk gereja, baca injil & kitab hukum kanonik, nonton misa, ke perpus katolik, ngumpulin jurnal, & tentunya: menghubungi para Pastor yg akan jadi responden gue. Walau gitu, hipotesis gue soal selibat menyalahi kodrat belum hilang

Sampai akhirnya gue mulai wawancara. Awalnya, pertanyaan gue seputar cobaan duniawi terberat. Gue yakin 100% jawaban mereka pasti terkait hasrat seksual. Kan mereka laki-laki.

Bukan. 

Ternyata buat mereka, cobaan terbesar hidup selibat adalah: Kesepian.Sejak itu, pandangan gue berubah. Kesepian adalah bahasa yang universal. Mungkin itu kenapa gue mulai bisa memahami mereka.

Responden gue dua & tema jawabannya sama. Gue temui mereka beberapa bulan, terpisah & jawabannya konsisten. Mereka manusia biasa juga.  Bedanya mereka ngerti cara menerima sepi, gue tidak

Saat menjadi Pastor, mereka jd milik gereja. Artinya, keluar dari keluarga. Ga boleh memiliki hubungan khusus dengan satu/beberapa manusia saja. Mereka sudah jd milik umat.Kalo sedih, ga bisa curhat. Kalo sakit, berobat sendiri. Umat bisa bantu, tp mereka ga boleh minta.

Kenapa gitu? Utk Selibat ada 3 Kaul yang harus diucapkan:

– Kaul Kemiskinan: melepas semua harta & segala hak milik

– Kaul Kemurnian: tidak menikah & lepas dari segala hawa nafsu

– Kaul Ketaatan: menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak gereja

Kalo gue salah tolong koreksi ya. Jika menemui kesulitan & derita, mereka sendirian. Pasrah sepenuhnya.. Tau kan gimana rasanya memendam penderitaan? Ga bisa minta perhatian orang? Berat.

Dalam kesendirian, iman mereka diuji. Menghadapi hilangnya hal2 yang pernah ada di hidupnya. Meski berat, kuncinya sederhana: Komitmen. Mereka tahu, cobaan yang ada perlu hadir, menjadi penguatan untuk memimpin umat. Menjadi adil. Ini adalah tanggung jawab menjadi Imam.

Wujud cinta.

Itulah kenapa pastor sering disebut “Menikahi Gereja”Mirip kan dengan komitmen nikah? Agar bertahan, mereka berkomitmen untuk “menerima” deritanya. Toleran pada prosesnya sebagai penguatan. Siap berkorban.

Disini gue mulai menyadari bahasa cinta di agama Katolik. Yang akhirnya, bikin gue sadar bahwa bahasa cinta ada di setiap agama, termasuk Islam juga. Lucu kan. Buat ngerti agama sendiri, harus lewat belajar agama lain dulu

Komitmen, Toleransi & Pengorbanan adalah bahasa tertinggi cinta manusia.Prosesnya pasti rumit. Banyak kehilangan. Tapi itu akan membuat kita kuat sebagai manusia.

Ini pelajaran berharga yang gue dapat dari mereka.walau tetep masih sering gagal prakteknya sih hehehe. Singkat cerita, skripsi gue akhirnya disetujui dan gue lulus. Tapi yang lebih gue syukuri, gue lulus dengan bonus pandangan yang baru.  Pandangan soal manusia lain, jadi beda. Pandangan soal agama, jadi beda. Pandangan soal perbedaan, jadi beda. Soal cinta & komitmen, juga.

Tags: pandangan tentang selibatselibat dalam Gereja Katolik
SendShare343Tweet186Send
Next Post
Simbol Ketaatan dan Kesatuan dengan Tahta Suci, 36 Uskup Indonesia Temui Paus Fransiskus

Simbol Ketaatan dan Kesatuan dengan Tahta Suci, 36 Uskup Indonesia Temui Paus Fransiskus

Paus Fransiskus: Jangan Jual Rahmat Tuhan

Paus Fransiskus: Jangan Jual Rahmat Tuhan

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net