Katoliknews – “Kapel terbengkalai dan seperti terlupakan, penuh debu tebal di setiap sudutnya. Umat pun duduk di batu dan batang kayu saat Misa, dan ruang sekolah yang kami jadikan tempat penginapan sangat tidak nyaman.”
Demikian Frater Ryan Mali SX, misionaris asal Indonesia yang kini bermisi di Meksiko mendeskripsikan tempat pelayanannya selama pekan suci baru-baru ini, di Cerro del Aire, Oaxaca, sebuah sebuah dusun kecil di pedalaman negara itu.

Melalui sharing tertulisnya kepada Katoliknews, Frater Ryan, sapaannya, mengatakan, ia tiba di tempat itu pada Sabtu sore, 23 Maret 2024, sehari sebelum perayaan Minggu Palma.
Ia bersama dua awam orang Meksiko, Sergio dan Maru, menempuh perjalanan sekitar 12 jam dengan bus.
Ketika tiba dan melihat pemandangan yang seperti itu, “tanpa membuang waktu, kami langsung bertindak; bersama dua rekan, kami bahu-membahu membersihkan kapel dari debu-debu yang menumpuk.”
Di tempat pelayanan itu, kata dia, hanya ada 20-an rumah.
“Karena jarak cukup jauh dari kota, tempat ini Misa hanya sekali setahun,” ucapnya.
Gereja yang Sepi
Tidak hanya menjumpai keterbatasan sarana dan prasarana, di tempat itu Frater Ryan menjumpai Gereja yang sepi, seperti sebuah sinisme terhadap Meksiko yang dikenal sebagai negeri dengan tradisi kekatolikan yang lama dan kuat.
Pada perayaan Minggu Palma, kata dia, hanya dua orang dewasa dan tiga anak kecil yang datang ke kapela atau gereja yang reot dan penuh debu itu.
Kendati demikian, mereka tetap melansungkan perayaan Minggu Palma hari itu. Bersama seorang awam yang terampil bermain musik, mereka memulai prosesi daun palma dengan berkeliling di kampung kecil itu.
“[Ini] sebuah langkah spontan, yang kami harapkan bisa membangkitkan semangat umat,” kata dia.
Pada Hari Jumat Agung pun demikian; yaitu tak banyak umat yang mau datang dengan sukarela ke gereja. Umat yang datang bisa dihitung dengan jari.

“Ketika pagi mulai menyingsing, kami bersiap untuk melaksanakan perjalanan spiritual yang penuh makna: Jalan Salib,” cerita dia, “Namun, seperti biasa, kami harus menunggu dengan sabar kedatangan umat selama satu jam lamanya.”
“Rasanya begitu panjang dan penuh rindu akan kehadiran mereka [umat],” tambahnya.
Namun, tambah Frater yang hampir lima tahun di Meksiko itu, keajaiban seperti terjadi pada momen prosesi Jalan Salib itu.
“Saat kami tiba di perhentian XII, terdapat cahaya harapan: beberapa umat lain mulai muncul, bergabung dengan kami dalam prosesi suci ini,” kata dia.
Dalam pengamatan dia, umat di kampung itu memiliki kekhusyukan yang luar biasa terhadap Kristus yang Tersalib.
“Bagi mereka, Kristus adalah sosok yang selalu ada, mendengarkan setiap doa dan memenuhi setiap kebutuhan mereka,” kata Frater Ryan.
Ada Oase
Di tengah situasi batas di dusun kecil itu, Frater Ryan menemukan oase dari perjalanannya sebagai seorang Misionaris Xaverian yang bermisi memperkenalkan Kristus kepada mereka yang belum mengenal Kristus.
Pemandangan yang indah di tepi jalan ke tempat itu adalah oase pertama yang ia rasakan. Di jalan-jalan yang berliku-liku ke tempat itu, ia seolah-olah sedang meneguk tetesan air segar.
“Dengan senyum di bibir, kami menikmati momen ini sebagai bagian dari perjalanan kami dalam melayani,” ungkapnya.
Oase lain yang ia rasakan adalah kebersamaan dan keikhlasan hati umat di sana.
Usai perayaan Kamis Putih, kata dia, anak-anak kampung itu berkumpul di depan kapel. Mereka membawa makanan favorit mereka, mulai dari buah-buahan segar hingga roti yang harum.

Ia kemudian mengajak anak-anak itu membentuk lingkaran di atas daun pisang yang berserakan di lantai, lalu menyusun makanan mereka di tengah-tengahnya.
“Dalam momen itu, saya merasa seperti Yesus di Taman Getsemani, bersama para murid yang setia,” kata dia.
Kesempatan itu pula ia gunakam untuk menjelaskan kepada anak-anak itu kisah Yesus melakukan perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya.
Tidak Menyerah
Kampung Cerro del Aire, Oaxaca, kata Frater Ryan, tidak hanya terpencil secara geografis, tetapi juga mengalami kesulitan ekonomi atau berada di bawah garis kemiskinan. Karena itu, mereka kesulitan untuk membangun gereja atau tempat ibadah yang layak.
Untuk kehidupan menggereja pun, umat masih sangat tergantung pada pastor atau hierarki, mulai dari persiapan liturgi sampai urusan keuangan untuk operasional gereja.
“Umat di sini tidak terbiasa memberi kolekte, malah mereka terbiasa untuk menerima dari pastor,” kata dia.
Keterbatasan itu, tambahnya, justru meletupkan semangat dalam dirinya sebagai seorang misionaris untuk berkarya dengan ada bersama umat-umat di kampung itu.
“Saya tetap percaya bahwa semangat dan keinginan untuk berbagi pengalaman iman akan membawa perubahan,” ucapnya.
“Meskipun sulit, saya yakin bahwa dengan kerja sama dan dukungan dari pihak paroki, semua rintangan yang menghadang bisa diatasi,” pungkasnya.



Discussion about this post