Minggu, Juni 21, 2026
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Berita Terkait Gereja Katolik
No Result
View All Result
Home Headline

Menjadi Saksi Tuhan yang Militan

RENUNGAN MINGGU, 21 Juni 2026 Bacaan I: Yer. 20:10-13; II: Rm. 5:12-15; Injil: Mat. 10:26-33

21 Juni 2026
in Headline, Katekese
Reading Time: 2 mins read
Menjadi Saksi Tuhan yang Militan

RD Ardud Endi. Foto: Istimewa

Oleh RD Ardus Endi
(Imam Keuskupan Labuan Bajo-sedang mempersiapkan studi di Roma)

Bersama Gereja sejagat, kita memasuki Hari Minggu Biasa XII. Gereja Katolik menempatkan bacaan-bacaan suci hari ini dengan bertitik fokus pada ajakan penting agar kita berani menjadi saksi Tuhan. Pilihan menjadi saksi bukanlah pekerjaan mudah apalagi “murah”. Namun, itu tidak berarti sulit dan mustahil diraih. Di sini, dibutuhkan sebuah komitmen yang kuat dan keberanian yang utuh. Komitmen untuk setia pada kebenaran dan keberanian untuk menyuarakan sekaligus “membumikan” kebenaran itu dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Tatkala diminta menjadi saksi atas suatu peristiwa, kita harus benar-benar mengetahui kronologi dan substansi dari peristiwa itu. Demikian juga, ketika kita menjadi saksi atau memberikan rekomendasi terhadap orang/pihak tertentu. Kita harus mengetahui secara pasti baik menyangkut substansi persoalannya, isi pembicaraannya, maupun seluk-beluk tingkah lakunya. Tanpa itu, kesaksian kita menjadi hambar ibarat sebuah “nyanyian” yang kehilangan roh, tidak lebih dari sebuah kebohongan apalagi kalau itu disusun secara terstruktur, masif, dan sistematis.

Selain itu, kedekatan kita dengan orang/pihak tersebut juga menjadi salah satu indikator yang cukup berpengaruh, sehingga pada akhirnya, kesaksian itu menjadi kuat karena yang dikisahkan adalah tentang kebenaran, fakta dan data, tanpa rekayasa, tanpa polesan, atau tanpa basa-basi terlalu banyak. Langsung ke inti persoalan, dan menceritakan peristiwa itu apa adanya. Nah, di sinilah kredibilitas seorang saksi itu diuji tatkala ia menjadi penutur yang jujur, menjadi narator yang polos, dan menjadi pembicara yang setia pada kebenaran.

Dalam bingkai inilah kita dipanggil menjadi saksi Tuhan. Untuk menjadi saksi yang militan, ada 2 tuntutan utama yang mutlak dipenuhi.

Baca Juga

Lawatan Paus ke Spanyol: Ini Jawabannya Ketika Ditanya Dukung Madrid atau Barcelona?

Gebrakan Paus Leo XIV: Tunjuk Perempuan Awam Kepalai Dikasteri di Vatikan

Gereja Katolik di Papua Hangus Terbakar, Polisi Sebut Dipicu Lilin yang Lupa Dipadamkan

Paus Leo Rilis Ensiklik Perdananya, ‘Magnifica Humanitas’, yang Menyerukan Pelucutan Senjata AI

Pertama, kesetiaan untuk membangun relasi yang akrab dan dekat dengan Tuhan. Keintiman relasi kita dengan Tuhan menjadi kunci utama untuk dapat mengenal Dia secara lebih utuh. Dalam konteks ini, kita perlu belajar dari Nabi Yeremia. Seperti yang dinarasikan dalam bacaan I, Yeremia lantang memberikan kesaksian dengan menyebut Tuhan Allah sebagai pahlawan. Hal itu disampaikannya sebanyak dua kali dalam rumusan yang hampir sama, yakni pada ayat 11:“…Tetapi Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa” (Yer. 20:11) dan pada ayat 13: “Menyanyilah untuk Tuhan, Pujilah Dia! Sebab Ia telah melepaskan nyawa-nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat” (Yer. 20:13).

Bagi Yeremia, Tuhan adalah sosok Pahlawan lantaran telah membebaskan dirinya dari kepungan rencana jahat para musuhnya. Gelombang penolakan dan gempuran ejekan terhadap Yeremia pada akhirnya terbantahkan di hadapan Tuhan yang hadir sebagai “pahlawan yang gagah” baginya. Pengenalan kita akan Tuhan akan jauh lebih mendalam dan utuh apabila kita setia membangun relasi yang akrab dengan Dia, baik dalam doa maupun dalam pergumulan hidup kita setiap hari.

 Kedua, kesetiaan untuk mendengarkan suara Tuhan dan memberitakan-Nya kepada sesama. Inisiatif kita untuk mendekatkan diri dengan Tuhan mesti dibarengi dengan usaha untuk mendengarkan suara-Nya. Sebab apa yang mau kita wartakan kepada orang lain kalau kita sendiri tidak dekat dan akrab dengan Dia; dan apa pula yang kita ceritakan kepada sesama, kalau kita sendiri tidak mendengarkan suara-Nya. Dengan rumusan lain, kita akan dapat bersaksi tentang Tuhan kalau kita memiliki pengalaman iman secara personal dengan Dia: mendengarkan suara-Nya dan mewartakan sabda-Nya.

Hal inilah yang ditekankan Yesus dalam Injil: “Apa yang Aku katakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat. 10:27). Yesus menghendaki agar kita mendengarkan suara-Nya dengan penuh hikmat dan kemudian mewartakannya kepada sesama.

Terinspirasi dari bacaan-bacaan suci hari ini, marilah kita terus berkomitmen untuk menjadi saksi Tuhan bagi dunia dan sesama melalui kata-kata dan sikap hidup kita. Tuhan menopang dan memberkati kita semua. Amin.

Tags: Renungan KatolikSaksi Tuhan
SendShare4Tweet3Send

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak
redaksi.katoliknews@gmail.com

© 2026 - Katoliknews.net

No Result
View All Result
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2026 - Katoliknews.net