Katoliknews — Hampir setiap interaksi sosial kita hari ini mengandung satu elemen universal: gerutuan atau sungut-sungut. Jika kita memasang telinga di jalanan, di kedai kopi, atau menelusuri lini masa media sosial, kita akan mendengarnya, kita akan menangkapnya sebagai sebuah gumaman kolektif yang masif; seolah-olah tidak ada lagi celah udara yang tersisa di antara jalinan keluhan yang mengepung kita.
Meminjam istilah dari panggung politik Inggris abad ke-17, kita semua mungkin adalah anggota “Grumbletonians”. Istilah ini awalnya merupakan ejekan bagi kelompok oposisi yang dianggap sebagai “sekte penggerutu” karena tidak pernah puas dengan kebijakan penguasa. Namun, bagi para penggerutu itu sendiri, gumaman adalah bentuk kepedulian yang paling jujur.
Ada perbedaan tajam antara mengeluh (complain) dan menggerutu (grumble). Mengeluh berasal dari kata Latin plangere yang berarti “memukul dada”; ia adalah ratapan keras, sebuah tuntutan formal di depan publik demi keadilan. Namun menggerutu? Ia lebih “organis” dan badani. Dalam bahasa Prancis, ia disebut grommeler, suara gumaman di balik gigi atau dengusan napas. Menggerutu tidak butuh selalu di panggung; ia menciptakan atmosfer.
Inilah yang terekam dalam sejarah Gereja Perdana pada Kisah Para Rasul 6:1:
“Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena dalam pelayanan sehari-hari pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan.”
Teks aslinya menggunakan kata gongysmos—sebuah istilah yang secara fonetik diciptakan untuk meniru bunyi aslinya: gon–goos–mos. Jika kita mengucapkannya perlahan, getaran suaranya menyerupai dengung segerombolan lebah yang memenuhi ruangan. Efek suara inilah yang persis menggambarkan atmosfer di tengah pertumbuhan umat yang pesat saat itu. Bukan teriakan protes yang meledak-ledak, melainkan ‘dengungan’ ketidakpuasan yang merambat pelan di sela-sela meja makan, saat orang-orang mulai berbisik bahwa janda-janda mereka telah diabaikan.
Menariknya, para rasul tidak menanggapi “dengungan” ini sebagai gangguan kebisingan yang merusak kesucian hierarki. Mereka tidak defensif, tidak pula merasa otoritas mereka terancam. Para rasul menyadari bahwa gerutuan bersifat bilious atau berhubungan dengan empedu; ia adalah alarm bahwa Tubuh Gereja sedang merasa sakit. Dan, para rasul tidak membungkam suara-suara itu dengan dalih “ketaatan” atau “kesatuan”. Sebaliknya, mereka mendengar “detak jantung” di balik dengungan tersebut dan melakukan langkah revolusioner. Mereka berkata:
“Pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu” (Kis. 6:3).
Para rasul memberikan ruang bagi orang lain untuk melayani. Namun, di sinilah paradoks besar muncul dalam wajah Gereja modern. Ketika umat hari ini mulai menjadi “Grumbletonians“—dengan suara-suara sumbang soal transparansi, kebijakan hierarki yang manipulatif, atau ketimpangan pelayanan—respons yang sering muncul justru adalah pembungkaman. Atas nama “menjaga kehormatan institusi,” kritik jujur sering kali dicap sebagai pemberontakan spiritual, bahkan semacam benih protestantisme.
Kita sering lupa bahwa untuk menggerutu, seseorang sebenarnya harus tetap menjadi makhluk yang “artikulatif dan sosial”. Penggerutu bukanlah musuh; mereka adalah orang-orang yang justru masih memiliki kepedulian. Mereka masih menyimpan sisa-sisa energi untuk berharap bahwa komunitas mereka bisa menjadi lebih baik. Ketika Gereja membungkam dengungan ini, ia sebenarnya sedang memutus saraf-saraf komunikasi yang menjaga tubuh tetap hidup.
Bahaya yang sebenarnya bukanlah ketika umat menggerutu, melainkan ketika mereka mulai diam seribu bahasa. Diamnya umat adalah tanda bahwa mereka telah kehilangan harapan—sebuah transisi menyakitkan dari pengikut yang kritis menjadi orang asing yang apatis. Kepemimpinan spiritual seharusnya bukanlah tentang kekuatan untuk mendikte, melainkan keberanian untuk “melayani meja”. Tanggapan terhadap kritik seharusnya bukanlah instruksi untuk menutup mulut, melainkan undangan untuk membuka ruang dialog yang tulus.
Mari kita belajar dari kerendahan hati para rasul. Jangan biarkan keluhan hanya berhenti sebagai kebisingan di luar gerbang gereja, tetapi bawalah ia masuk sebagai alat evaluasi kasih. Di balik setiap dengungan gongysmos yang jujur dari umat, sering kali Tuhan sedang mengetuk pintu nurani kita tentang keadilan yang selama ini kita abaikan. Ingatlah janji dari keterbukaan hati para rasul itu:
“Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak.” (Kis. 6:7)
Karena gereja yang sehat bukanlah gereja yang sunyi karena dibungkam, melainkan gereja yang berani menghadapi riuh rendahnya kemanusiaan dengan tindakan kasih yang nyata.)***
Dian B, Imam Fransiskan.



Discussion about this post