Oleh
RP Dr. Vincentius Darmin Mbula OFM
Katoliknews – Pesta Babi dalam tradisi masyarakat adat di Papua merupakan ungkapan syukur, rekonsiliasi, solidaritas, dan distribusi kesejahteraan yang meneguhkan ikatan persaudaraan dalam komunitas; dalam terang Kenaikan Yesus Kristus, makna budaya tersebut memperoleh kedalaman teologis karena Kristus yang naik ke surga mengangkat martabat manusia dan seluruh ciptaan ke dalam horizon kemuliaan Allah serta mengutus para murid untuk menjadi saksi kasih, keadilan, dan perdamaian di dunia.
Dalam konteks “Budaya Tanah Damai” yang sering digunakan untuk menggambarkan panggilan historis dan spiritual Papua sebagai tanah persaudaraan dan rekonsiliasi, Pesta Babi menjadi simbol konkret bahwa berkat harus dibagikan dan relasi yang retak harus dipulihkan.
Sementara itu, tentu saja diharapkan adanya suara profetis Gereja yang jelas dan berani bersaksi bahwa Gereja sebagai Ibu selalu mengajak seluruh umat untuk menghormati martabat manusia, melindungi masyarakat adat, merawat keutuhan ciptaan; Gereja berkomitmen untuk membangun perdamaian yang berakar pada kebenaran, dialog, dan solidaritas. Dengan demikian, adat leluhur, iman, dan misi Gereja bertemu dalam satu kesaksian bahwa Allah dimuliakan ketika manusia, budaya, dan alam semesta hidup dalam harmoni.
Systemic Creative Cognition
Film dokumenter tentang Pesta Babi dapat dipahami melalui konsep Systemic Creative Cognition sebagai sebuah karya yang lahir dari interaksi dinamis antara pengamatan, interpretasi budaya, emosi, dan konstruksi makna. Dalam perspektif ini, pembuat film tidak hanya merekam sebuah peristiwa adat, tetapi juga mengintegrasikan berbagai unsur kognitif seperti persepsi visual, pengetahuan antropologis, intuisi artistik, dan sensitivitas etis ke dalam suatu narasi yang utuh, holistik, humanis, dan ekologis.
Pesta Babi, yang dalam berbagai komunitas di Indonesia terutama di Papua memiliki makna sosial dan spiritual yang mendalam, dipresentasikan bukan sekadar sebagai ritual penyembelihan hewan, melainkan sebagai simbol solidaritas, rekonsiliasi, status sosial ekologis, dan ungkapan syukur. Kreativitas dokumenter muncul dari kemampuan sineas untuk menghubungkan detail-detail konkret dengan makna budaya tanah damai yang lebih luas dalam relasi dengan diri sendiri, sesama, alam, leluhur dan Tuhan.

Dalam kerangka Systemic Creative Cognition, proses kreatif dokumenter berlangsung secara sistemik karena melibatkan hubungan antara individu, komunitas, dan lingkungan budaya. Sutradara, kamerawan, tokoh adat, dan masyarakat lokal bersama-sama membentuk ekosistem makna yang saling memengaruhi. Pengambilan gambar terhadap persiapan, prosesi, memikul palang kayu merah dan pembagian daging babi menjadi media untuk menunjukkan struktur sosial, ekologis, nilai gotong royong, dan mekanisme distribusi kesejahteraan dalam masyarakat.
Kreativitas di sini tidak bersifat spontan semata, tetapi merupakan hasil dari dialog antara pengalaman lapangan, refleksi konseptual, dan keputusan estetis. Dengan demikian, dokumenter menjadi produk kognitif kolektif yang menggabungkan observasi empiris dengan imajinasi naratif untuk menyampaikan realitas budaya secara mendalam bahwa Papua adalah Tanah Damai Sejahtera.
Hasil akhir film dokumenter tersebut merupakan representasi kreatif yang memungkinkan penonton memahami Pesta Babi sebagai sistem budaya yang kompleks penuh harmoni. Melalui narasi visual, suara, simbol, dan wawancara, penonton diajak untuk membangun pemahaman baru tentang relasi antara manusia, tradisi, dan identitas komunitas.
Konsep Systemic Creative Cognition menegaskan bahwa kreativitas dokumenter tidak hanya terletak pada teknik sinematografi, tetapi pada kemampuan menyusun berbagai elemen kognitif dan sosial ekologis menjadi wawasan yang transformatifm demi peradaban damai. Oleh karena itu, film dokumenter tentang Pesta Babi dapat menjadi sarana edukatif yang memperluas kesadaran lintas budaya, memperdalam penghargaan terhadap kearifan lokal, dan menunjukkan bagaimana kreativitas manusia bekerja secara sistemik dalam memaknai kehidupan bersama.
Menghadirkan Damai Kristus
Film dokumenter Pesta Babi menampilkan unsur-unsur substantif yang sangat kaya apabila dibaca melalui lensa Bruno Latour, Paus Fransiskus, dan Paus Leo XIV. Menurut Bruno Latour, realitas sosial terbentuk melalui jejaring aktor (Actor-Network Theory) yang melibatkan manusia, hewan, benda, simbol, dan lingkungan alam. Dalam film ini, babi bukan sekadar hewan konsumsi, melainkan aktor penting yang menghubungkan keluarga, suku, leluhur, tanah, dan relasi sosial. Tungku, batu, api, ubi, tarian, serta ritus adat juga berperan sebagai mediator yang memungkinkan terciptanya kohesi sosial. Dari perspektif ini, unsur substantif film terletak pada kemampuan memperlihatkan bahwa kebudayaan adalah hasil dari relasi timbal balik antara manusia dan non-manusia yang bersama-sama membentuk makna, identitas, dan tatanan sosial ekologis.

Dalam pandangan Paus Fransiskus, khususnya melalui ensiklik Laudato Si‘, unsur substantif film tersebut terletak pada gambaran tentang ekologi integral, yaitu keterhubungan antara manusia, budaya, dan seluruh ciptaan. Pesta Babi memperlihatkan bahwa komunitas adat memandang hewan, tanah, dan hasil alam sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang harus dihormati, bukan dieksploitasi secara serampangan. Ritual berbagi daging menunjukkan solidaritas, perhatian kepada yang lemah, dan keutamaan persaudaraan. Paus Fransiskus menekankan bahwa budaya lokal menyimpan kearifan yang sangat berharga untuk merawat “rumah bersama,” sehingga film ini dapat dibaca sebagai kesaksian konkret tentang bagaimana tradisi adat memelihara relasi harmonis antara manusia, masyarakat, dan alam semesta.
Dalam terang Paus Leo XIV, yang sejak awal pelayanannya menekankan perdamaian, dialog, dan pembangunan jembatan antarmanusia, unsur substantif film Pesta Babi tampak pada kekuatan ritual sebagai sarana rekonsiliasi dan persatuan. Dalam salam pertamanya, Paus Leo XIV mengajak Gereja dan dunia untuk “membangun jembatan melalui dialog dan perjumpaan” serta menghadirkan damai Kristus yang “tanpa senjata dan melucuti” (unarmed and disarming peace). Pesta Babi merepresentasikan nilai-nilai tersebut melalui penghormatan kepada martabat setiap anggota komunitas, distribusi hasil secara adil, dan pemulihan hubungan sosial.
Dengan demikian, melalui sintesis pemikiran Latour, Paus Fransiskus, dan Paus Leo XIV, film ini menampilkan tiga unsur substantif utama: jejaring relasional seluruh ciptaan, ekologi integral yang berakar pada budaya lokal, dan spiritualitas perdamaian yang membangun persaudaraan universal.
Menjaga Martabat Manusia
Film dokumenter Pesta Babi dapat dimaknai dalam terang Kenaikan Yesus Kristus sebagai simbol pengangkatan kehidupan manusia menuju makna yang lebih luhur. Dalam tradisi masyarakat adat, pesta babi bukan sekadar perjamuan, tetapi sebuah ritus syukur, rekonsiliasi, dan pembagian berkat kepada seluruh komunitas. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kehidupan manusia dipanggil untuk melampaui kepentingan diri sendiri dan diarahkan kepada persekutuan dengan Allah serta pelayanan bagi sesama. Dalam perspektif ini, dokumenter tersebut menampilkan nilai-nilai spiritual yang sejalan dengan misteri Kenaikan: pengorbanan yang membawa persatuan, solidaritas yang mengangkat martabat manusia, dan harapan bahwa seluruh ciptaan ikut ambil bagian dalam kemuliaan Allah.
Dalam terang ajaran Yesus Kristus, peristiwa Kenaikan tidak berarti kepergian yang menciptakan jarak, tetapi peneguhan misi kepada para murid untuk menjadi saksi kasih Allah di dunia. Nilai ini tercermin dalam film Pesta Babi melalui semangat gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan pembagian hasil kepada semua anggota komunitas tanpa kecuali. Babi, tanah, api, dan makanan menjadi tanda konkret bahwa rahmat Allah bekerja melalui realitas sehari-hari. Dokumenter ini menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dapat menjadi ruang pewartaan Injil, di mana manusia belajar bahwa berkat yang diterima harus dibagikan demi mempererat persaudaraan dan membangun kehidupan bersama yang adil dan damai.
Suara profetis para uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia sering menekankan pentingnya menjaga martabat manusia, merawat keutuhan ciptaan, dan menghargai kebijaksanaan budaya lokal. Dalam semangat itu, film Pesta Babi dapat dipandang sebagai kesaksian visual tentang nilai-nilai Kerajaan Allah yang hidup di tengah masyarakat adat: solidaritas, keadilan distributif, dan relasi harmonis antara manusia dan alam. Sejalan dengan pesan Kenaikan Tuhan, dokumenter ini mengajak penonton untuk melihat bahwa Kristus yang dimuliakan tetap hadir dalam budaya yang memelihara persaudaraan dan dalam suara Gereja yang terus menyerukan keberpihakan kepada kaum kecil, pelestarian lingkungan, dan pembangunan Indonesia yang berlandaskan kasih, dialog, dan pengharapan.
*Penulis adalah Imam Fransiskan, pernah berkarya di Papua, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik.

Discussion about this post