RD Ardus Endi
Salah satu dari sekian banyak pesan yang tersingkap dari kedua bacaan hari ini adalah ajakan untuk berani menolak benci dan gosip (MBG). Term benci dan gosip merupakan dua istilah yang berkonotasi negatif. Benci identik dengan iri dan dengki yang pada akhirnya akan melahirkan permusuhan dan penolakan. Sesuatu yang bermula dari sikap benci, tentu akan mendatangkan perpecahan dan pertikaian.
Hampir serupa dengan benci, gosip juga begitu. Gosip bermula dari gagal paham. Ketidakmampuan seseorang dalam memahami orang lain secara utuh, akan memperpanjang barisan pencipta hoax dan penyebar gosip. Sebuah keluarga dan/atau komunitas, bahkan sebuah negara sekalipun, cepat atau lambat akan chaos bila di dalamnya didominasi oleh orang-orang yang gagal paham.
Sebuah keluarga misalnya akan hancur, apabila seorang kepala keluarga gagal memahami kebutuhan istri dan anak-anaknya; demikian juga sebuah masyarakat atau komunitas sosial akan kacau-balau, apabila pemimpinnya gagal memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakatnya. Sikap benci dan kebiasaan gosip yang bermula dari gagal paham, pada akhirnya akan membentuk kumpulan orang yang suka menghakimi orang lain.
Dalam Injil hari ini, Yesus memberi perhatian serius soal ini. Dalam seri khotbahnya di bukit, Yesus mengingatkan para murid dan segenap barisan pengikut-Nya untuk menghindari kebiasaan menghakimi orang lain. “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi” (Mat. 7:1). Alasan mendasar dari perkataan Yesus ini dijelaskan dalam ayat selanjutnya: “Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri” (Mat. 7:2). Di sini menjadi jelas bahwa setiap orang yang punya kecenderungan untuk saling menghakimi satu sama lain, akan menciptakan “lingkaran setan” penolakan dan permusuhan. Mustahil terjadi bahwa kedamaian dan keharmonisan lahir dari lingkaran itu.
Lebih lanjut, Yesus juga mengingatkan para murid agar menghindari kebiasaan gosip. Hal ini secara inplisit disampaikan Yesus: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui” (Mat. 7:3). Ungkapan ini adalah sebentuk teguran dan kritikan Yesus kepada kita yang kerapkali suka melihat kelemahan orang lain tapi lupa melihat kelemahan sendiri; yang kerapkali lebih lihai menceritakan (gosip) keburukan orang lain, tetapi kurang cakap mengoreksi diri.
Pada akhirnya, Yesus menekankan pentingnya instrospeksi diri. Keberanian untuk mengintrospeksi diri adalah sebuah jalan pemurnian diri. “…Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas…” (Mat.7:5).
Saudara/-I terkasih, terinspirasi dari pesan injil hari ini, mari kita dengan penuh kesadaran menolak benci dan gosip. Lalu memperbanyak introspeksi diri. Sebab benci dan gosip akan melahirkan kebiasaan menghakimi dan mengadili. Dan ini bukanlah karakter kemuridan Yesus. Yang menjadi identitas kemuridan Yesus adalah mengasihi dan melayani. Apa yang diluar itu, semuanya berasal dari si jahat. Tuhan memberkati dan memampukan kita semua. Amin.
![[Renungan Harian Senin, 22 JUNI 2026] Menolak Benci dan Gosip](https://katoliknews.net/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2024-02-24-at-19.15.15-750x375-1-750x375.jpeg)

Discussion about this post