Katoliknews – Seorang diri di tengah mayoritas barangkali membuat tidak nyaman dan tidak berprestasi. Namun, hal itu tidak bagi Revano Adrian Prasetyo, seorang siswa Katolik berdarah Thionghoa yang mencatatkan diri sebagai lulusan terbaik di sekolah Islam, yakni SMK Muhammadiah, Pekalongan, Jawa Tengah.
Nama Revano, sapaannya, diumumkan saat acara pelepasan siswa kelas XII tahun ajaran 2025-2026 yang digelar di Hotel Dafam Pekalongan pada Selasa (12/5/2026). Disaksikan sang Ibu, Silvia, Revano mendapat apresiasi dari teman-teman dan guru-gurunya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK Muhammadiyah Pekalongan, Musthofa, mengatakan bahwa Revano meraih peringkat kedua terbaik di jurusan TSM karena memiliki capaian akademik tinggi.
Selain unggul dalam pelajaran, kemampuan praktik Revanno juga dinilai menonjol selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
“Bahkan keterampilan praktiknya pun baik,” ujar Musthofa, Jumat (15/5/2026, mengutip kompas.com.
Karena prestasi tersebut, pria jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) itu mendapatkan beasiswa studi lanjut atau kuliah di negeri Jepang.
Selama tiga tahun bersekolah, Revano mengaku merasa nyaman dan diterima dengan baik oleh lingkungan sekolah.
“Kesannya baik, teman-teman dan guru semuanya baik-baik,” ujar Revano.
Tidak Ada Diskriminasi
Melansir situs muhammadiyah.or.id, selama di lingkungan sekolah itu, Revano tetap mendapatkan hak pendidikan agama sesuai keyakinannya. Pihak sekolah bahkan menyediakan guru agama Katolik untuk mendampingi proses pembelajaran.
Revano juga menegaskan selama bersekolah dirinya tidak pernah mengalami diskriminasi maupun perlakuan berbeda karena agama yang dianutnya.
“Selama di sekolah tidak ada diskriminasi apa pun, paling teman bercanda masih normal,” ucapnya.
Cerita haru juga datang dari sang ibu, Silvia. Ia mengaku awalnya sempat mempertimbangkan keputusan menyekolahkan anaknya di lingkungan sekolah berbasis Islam.
Namun setelah mendapat penjelasan langsung dari pihak sekolah, keyakinannya mulai tumbuh.
“Saya percayakan ke SMK Muhammadiyah karena keinginan anak sendiri. Anak saya itu lebih suka praktik, penginnya otomotif jurusannya teknik sepeda motor,” katanya.
Menurut Silvia, informasi yang ia dapatkan menyebut SMK Muhammadiyah Pekalongan memiliki jurusan otomotif terbaik di wilayah Pekalongan.
“Saya tanya ke anak saya bagaimana, kamu bersedia tidak, karena kita ada di lingkungan muslim. Dia jawab tidak apa-apa,” ujarnya.
“Kebetulan dari kepala sekolah menyambut baik, nanti pelajaran agama menyesuaikan. Ya sudah saya tambah mantap menyekolahkan anak saya di SMK Muhammadiyah,” lanjut Silvia.
Silvia yang mendampingi Revano naik ke atas panggung dan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada SMK Muhammadiyah Pekalongan.
Ia mengaku bersyukur karena putranya diterima dengan baik selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
“Selama sekolah sampai kelas 3 tidak ada persoalan, tidak ada pembulian maupun rasis. Pelajaran agama juga mendapatkan dengan baik. Anak saya Katolik mendapatkan pelajaran Katolik juga, tidak ada paksaan harus ikut pelajaran agama Islam,” ungkapnya.
Silvia mengatakan putranya justru mengalami banyak perubahan positif sejak bersekolah di SMK Muhammadiyah Pekalongan.
“Terus terang di SMK ini dia malah lebih semangat. Waktu SD dan SMP dia kurang, kadang tugas tidak dikerjakan. Di SMK ini dia malah semangat kerjakan tugas, tidak pernah terlambat sekolah,” katanya.
Kemampuan Revano di bidang otomotif pun berkembang pesat. Kini ia bahkan sudah mampu memperbaiki sepeda motor sendiri dan kerap dimintai bantuan oleh tetangga sekitar.
“Dia kan jurusan sepeda motor, sampai sekarang bisa servis motor sendiri. Bahkan kadang dipercaya sama tetangga. Saya sangat puas sekali,” tambah Silvia.
*Diolah oleh Rian Safio (Jakarta)


Discussion about this post