Katoliknews – Publik speaking menjadi kebutuhan yang harus dimiliki para fransiskan untuk mentransmisikan warta sukacita Kristus kepada umat Allah di zaman ini.
Presiden Fransiskan Fundasi Antonio de Lisboa, RP Nicolao Jose OFM mengemukakan hal itu dalam penutupan kursus public speaking yang dijalankan oleh para Saudara Muda Timor Leste, sebutan untuk Frater Fransiskan, pada 29 Februari 2024 di Pusat Budaya Indonesia di Dili, Timor Leste.
“Publik Speaking menjadi penting juga bagi para saudara yang berkarya di rumah pendidikan dan juga di sekolah-sekolah,” kata RP Nico.
Kursus itu merupakan salah satu agenda dalam peta jalan para Fransiskan Gardianat Rivotorto Dili pada bulan Januari dan Februari tahun ini. Sekitar 50-an Saudara Fransiskan yang mengikuti kegiatan ini.
Muara kegiatan ini adalah Saudara muda Fransiskan diharapkan menjadi pembicara [Injil] yang mempunyai visi, dapat menyampaikan pesan-pesan yang dengan mudah diterima oleh para pendengar, dan mereka bertanggung jawab atas setiap kata yang diucapkan.
Pada pembukaan acara tersebut, Atase Pendidikan dan Budaya KBRI di Timor Leste Ikhfan Haris, mengatakan, pihaknya membantu orang-orang muda Timor Leste dalam beberapa hal, seperti memberi beasiswa untuk pendidikan strata satu dan master; memfasilitasi beberapa kursus seperti bahasa Indonesia, seni tari, seni Lukis dan canva.
Selain itu, kata dia, di Gedung Pusat Budaya Indonesia juga menyediakan fasilitas seperti bisokop, perpustakaan dan museum mini yang bisa dikunjungi oleh semua orang.
Turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini adalah PT Bintang Fajar, milik Karlos dan Maria Sonbay; Ronald Kitchen, milik Ronald Un; dan Kelompok FFG (Freedom Faithnet Global).

Diri dan Visi dalam Public Speaking
Kegiatan ini menghadirkan Kombes Pol Don G. Mikael da Costa dari Atase Polri Imigrasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Timor Leste, sebagai nara sumber.
Kombes Don mengawali pembicaraannya dengan mengutip kata-kata bijak Mahatma Gandhi, tokoh India, bahwa “diri kita adalah Pesan yang Hidup”.
Kombes menguraikan, tanpa berkata-kata kehadiran seseorang memberikan pesan pada sesamanya. Pesan-pesan itu dapat terbaca dari gestur, mimik, laku dan gerak setip orang.
“Intinya, diri sesorang adalah pesan bagi sesama, atau membahasakan sesuatu kepada sesama,” terang dia, “dalam hal ini body lenguage selalu memberi pesan pada orang lain.”
Selain itu, papar Kombes Don, dalam berbicara, seseorang mesti mempunyai visi hidup. Harus mengetahaui dari mana ia berangkat dan ke mana arah pembicaraanya.
“Visi akan membantu pembicara atau pemateri untuk menyampaikan bahannya dengan lebih baik dan terarah,” terang dia, juga “visi membantu orang untuk mengakhiri sebuah pembicaraan dengan tepat dan menarik,”
Menurut Kombes Don, ada tiga komponen penting dalam public speaking antara lain master, on stage, dan show time.
Bagian pertama: Master. Beberapa poin penting dalam bagian ini adalah menguasai topik, mapping personal dan audience, flow of mind yang mencakup pembuka-isi-penutup yang manarik dan berkesan, mengetahui role atau peran seorang pembicara, delivery methods, dan yang terakhir imaginasi yang sukses.
Selanjutnya, bagian kedua adalah on stage. Beberapa hal yang tercakup dalam bagian ini adalah act naturaly atau be your self alias tidak buat-buat dalam berbicara, tampil apa adanya; bahasa tubuh; beautiful mind-menciptakan kesan pada audience; berpikir kritis, tidak sekadar berkata-kata tetapi mesti mempunyai landasan, mempunyai referensi yang jelas; mengatur diri dalam hal yang dapat dan tidak dapat dikatakan (Dos and Dont’s); antuasiasme; dan kekuatan kata.
Kemudian bagian ketiga adalah show time. Bagian ini mencakup beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh seoran pembicara, yakni powerful opening atau pembukaan yang memukau; courage vs fear; calibrate and handle the audience; fun/anchoring; talk about the audience; total vocal; repeat & summarize; impressive closing.
Semua kecakapan ini, kata Kombes Don, membutuhkan latihan terus-menerus.
Kontributor: Frei Marciano A. Soares OFM (Timor Leste)



Discussion about this post