Katoliknews – Di kepulauan Bahrain yang terpanggang matahari, tempat Teluk Persia bersentuhan dengan deretan menara kaca dan batu, sebuah peringatan unik berlangsung tahun ini. Peristiwa ini menjembatani jarak delapan abad dengan keanggunan yang bersahaja—sebuah peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi. Peringatan yubileum ini menjadi kian bermakna karena bertepatan dengan “Tahun Isa Al Kabir” yang dicanangkan oleh Raja Hamad bin Isa Al Khalifa untuk menghormati Sheikh Isa bin Ali Al Khalifa (Isa Al Kabir). Di jantung negara Islam ini, kehadiran sosok pelindung perdamaian dari tradisi Katolik terasa seperti sebuah keajaiban di tengah kawasan yang sering kali dianggap keras secara politik dan agama.
Kedutaan Besar Italia di Manama, bersama inisiatif This is Bahrain, menghadirkan program yang bukan sekadar mengikuti kalender liturgi, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tenang di tengah dunia yang kian terbelah.” Santo Fransiskus (1181/2–1226), peziarah dan perantau dari perbukitan Umbria, lebih dari sekadar pelindung ekologi. Keberanian sejatinya teruji saat ia melintasi garis musuh pada tahun 1219 di tengah Perang Salib Kelima untuk menemui Sultan Al-Kamil. Tanpa senjata, ia menawarkan dialog di bawah bayang-bayang perang. Pertemuan itu tidak berujung pada perpindahan agama dan keyakinan, namun berhasil mencairkan kebencian menjadi sebuah dialog. Di sana, untuk pertama kalinya, musuh yang siap berperang memilih untuk saling mendengar daripada saling menyerang. Bahrain kini menarik garis paralel dengan sejarahnya sendiri melalui sosok Sheikh Isa bin Ali Al Khalifa (Isa Al Kabir). Sebagai arsitek fondasi bangsa, Sheikh membuka pintu bagi berbagai iman dan pendatang, menumbuhkan masyarakat di mana warga Syiah, Sunni, Kristen, dan Muslim hidup dalam harmoni yang terus dirawat hingga kini.
Rangkaian acara yang diumumkan mencakup konferensi lintas agama yang membahas “Pesan Perdamaian Universal”, konsep ekonomi yang manusiawi, hingga kepedulian terhadap alam semesta. Duta Besar Italia, Andrea Catalano, mencatat bahwa suara Fransiskus tetap relevan di tengah gejolak kawasan saat ini. “Warisan beliau mengingatkan kita bahwa jalan menuju harmoni tidak ditemukan dalam penaklukan, melainkan dalam belas kasih; bukan melalui tembok, melainkan melalui jembatan dialog,” ujarnya.
Betsy Mathieson, Presiden This is Bahrain, menambahkan catatan tentang sisi feminisme sang Santo yang sering terlupakan: dukungannya terhadap Santa Klara dan ordo Claris Miskin. Upaya Fransiskus dalam membuka ruang bagi perempuan dalam tatanan Abad Pertengahan dinilai selaras dengan langkah Bahrain melalui Dewan Tertinggi untuk Perempuan yang didirikan pada awal milenium ini.
Ada kesan bahwa dalam merangkul peringatan delapan abad ini, Bahrain tidak sekadar menjalankan diplomasi, melainkan sedang melakukan sebuah pertaruhan batin yang lebih dalam. Di kawasan yang dibayangi garis patahan sektarian dan rivalitas kekuatan besar, si Miskin dari Assisi—pelindung dari segala hal yang tampak mustahil—menjadi bukti nyata bagi sebuah eksperimen pluralisme. Apakah benih itu akan berakar kuat di tengah ladang minyak dan istana kerajaan, tetap menjadi sebuah pertanyaan terbuka. Namun untuk saat ini, di sepetak kecil Teluk ini, Kidung Segenap Ciptaan (Gita Sang Surya) Fransiskus terus bergema.)***
Dian Bi. Tulisan disadur dari Vatican News



Discussion about this post