Katoliknews – “Bapak Uskup itu pastoral kehadiran,” kata Mas Juki, sopir pribadi Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM ketika coba mengingat kembali mantan “bos-nya” itu.
Itulah yang dirasakan Juki dalam setiap kegiatan yang dihadiri oleh Mgr. Paskalis. Usai acara, umat selalu berebut atau berkerumun di sekitar Uskup murah senyum itu. Ada yang ingin berfoto, salaman, minta doa, atau minta diberkati.
“Saya pernah membatasi umat supaya beliau tidak capek, kata Juki “tapi beliau bilang: berfoto, salaman dengan umat membuat mereka bahagia. Membuat mereka bahagia adalah bagian dari pelayanan saya.”
Juki sering diajak untuk mengunjungi umat yang sakit dan keluarga yang berduka ketika Mgr Paskalis sedang senggang.
“Kebanyakan yang dikunjungi di Depok karena dulu beliau lama di Depok,” tambah pria yang hampir sepuluh tahun jadi orang yang selalu diandalkan Mgr. Paskalis untuk berangkat ke mana-mana mengunjungi umat.
Juki menjadi sosok penting dalam pengembalaan Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM di Keuskupan Bogor waktu lalu, meski jauh dari sorot kamera. Dia selalu mengantar Mgr. Paskalis ke jalan yang benar. Dia pula yang membereskan pekerjaan Mgr. Paskalis setelah selesai.

Usai misa, Juki pula yang biasa merapikan mitra, tongkat penggembalaan, jubah, atau peralatan misa.
Hati Juki pedih ketika Mgr. Paskalis didera dengan berbagai isu negatif. Dia yang sehari-hari bersama Mgr. Paskalis tahu bagaimana sebenarnya sosok Mgr. Paskalis.
Dia juga mendengar namanya dikaitkan dengan isu-isu negatif itu, bahkan ada orang yang mengaku mendapatkan isu negatif itu langsung darinya.
“Padahal saya juga nggak kenal orang itu. Ketemu juga nggak pernah,” katanya keheranan.

Sebelum menjadi sopir Mgr. Paskalis, Juki adalah koster paroki. Tutur kata Juki tak beda dengan Mgr. Paskalis. Suaranya lembut. Terukur. Bahasanya santun. Senyum selalu menghias wajahnya.
Pria berambut melebihi pundak ini menyadari posisinya adalah orang kecil. Dia hanya bisa diam mendengar isu-isu negatif tentang Mgr. Paskalis. Juga ketika namanya dibawa-bawa. Dia hanya bisa diam.
“Ya, mau gimana lagi. Kalau orang sudah benci, susah diubah, Mas,” tutur pria yang tidak pernah mengenyam pendidikan filsafat, teologi, atau program lisensiat itu. Pendidikan Juki SMP.
*Tulisan diolah dari takarir unggahan Bobby Pathyradja (Bobby Pr) di akun facabook @bobbypathyradja pada Jumat, 1 Mei 2026.



Discussion about this post